Aku bukan orang yang suka pada binatang peliharaan. Maksudku, aku lebih suka pada tanaman. Tetapi kedua anakku, sejak bayi suka sekali pada kucing. Di manapun ketemu kucing pasti dielus, disayang-sayang, digendong, dan kalau cukup bersih dicium-cium. Tidak jarang mereka pulang sekolah atau pulang main membawa kucing yatim-piatu yang ditemukannya di jalan…
Maka, suka atau tidak suka, demi toleransi dan menghormati hak anak, di rumahku selalu ada beberapa ekor kucing. Kehadiran kucing-kucing itu sering membuatku merasa terganggu. Misal, harus ekstra waspada saat memasak, kalau tidak mau ikan/daging yang akan dimasak hilang. Melompat ke pangkuan saat aku ingin bersantai dengan tenang. Mengeong-ngeong mengganggu keasyikanku “ngrikiti” ayam goreng. Atau menyusul tidur di kasurku saat aku lelap.
Tentu saja aku sering ngomel karenanya (tapi senang juga sih saat mereka masih kecil dan seneng-senengnya main, lucu banget….)
Nah, minggu lalu, tiba-tiba anakku menghadiahiku sebuah buku. Kucing dan Penyembuhan Penyakit, karangan Dr. Widjaja Kusuma. Aku curiga bahwa itu adalah strateginya untuk membuatku lebih menyayangi kucing-kucingnya. Tapi ia cuma senyum-senyum saat kutanyai.
Buku saku itu kecil saja. Tapi isinya lumayan bagus. Masuk akal. Intinya, memelihara kucing besar manfaatnya bagi orang yang sakit, menderita, kesepian, mengalami gangguan mental, sulit berkomunikasi, lansia, dan…. ya… semua orang! Karena apa? Karena kucing bisa menempatkan diri sebagai sahabat sejati.
Memang kalau kita rasakan dengan hati terbuka –bukannya sambil dongkol karena tidak suka, hehee… – melihat wajahnya yang imut, menatap matanya yang innocent, menyentuh bulunya yang lembut, selalu menimbulkan perasaan yang lembut dan ingin menyapanya. Apalagi kalau dibelai, spontan kucing menyandarkan kepala dan tubuhnya bermanja kepada kita.
Kemanjaannya menimbulkan perasaan dipercaya sepenuhnya, dan itu membuat kita merasa berarti dan bahagia.
Kucing adalah seekor sahabat yang setia. Saat kita sedang lemah, sakit, bad mood, bokek, atau keadaan-keadaan buruk lain saat seorang teman baik bisa meninggalkan kita, kucing selalu bersama kita. Apa pun keadaan kita, ia menerima kita, selalu menyapa kita, memandang kita penuh harap, menemani kita, menggosok-gosokkan tubuhnya untuk membujuk dan menghibur kita (“Oh, please dear…” mungkin begitulah maksudnya).
Dan saat kita membuka diri terhadapnya, ia segera melompat ke pangkuan, menyerahkan diri sepenuhnya untuk kita belai, kita peluk, kita gendong, kita cium, kita ajak bicara (bahkan curhat!)… Rasanya seperti membelai, memeluk, menggendong, mencium, dan bicara kepada seorang bayi yang lembut dan lucu. Begitu menyenangkan. Rasa sakit terlupakan, sepi tersingkirkan, beban mental tersalurkan, bad mood menghilang… apa lagi?
Menurut buku itu, kucing selain mendatangkan kegembiraan dan ketenangan pada pemiliknya, juga membuat orang sakit dan lansia merasa diterima, dikasihi tanpa syarat, dibutuhkan, dan memiliki semangat hidup lebih besar. Hal itu memberi kekuatan luar biasa untuk melewati hari-hari sulit dan mempercepat proses penyembuhan.
Jadi sepertinya sudah waktunya nih untuk menghadiahkan seekor kucing yang manis, tenang, dan lucu kepada keluarga atau kerabat kita yang menderita kanker.
(Hmm, anakku benar! Aku jadi lebih menyayangi kucingnya sejak membaca buku itu, dan membiarkannya tidur di dekat kakiku setiap malam….)


Cerita Sejenis:
Sudah 5 sahabat yang menanggapi
waaaa….aku suka cerita ini!
dan…aku juga suka kucing!
headernya aja kucing nampang…
bener banget kok kalo binatang, especially kucing…bisa jadi teman yang paling setia.
makanya, meskipun untuk saat aku gabisa miara kucing (di kost ga boleh) aku punya kucing binaan di Kampus, namanya Chika…
foto kucing2 ku, ada di sini neh…
Bu, jadi sahabat sejati saya yah?
saya add ke blogroll…
Kalau punya binatang peliharaan emang menyenangkan! saya pernah mengalaminya saat saya masih kecil, maklum anak tunggal jadi selalu kesepian! tapi pada saat saya menemukan seekor kucing kecil, saya jadi akrab sama kucing tersebut. Biasanya kucing yang saya temukan itu suka tidak patuh dan liar, tapi kalau kucing yang ini nurut banget.Jadi saat itu saya senang sekali dan hari-hari saya jadi tidak kesepian, karena tiap pulang sekolah saya selalu nyamperin dia dulu. oija namanya ciko. Sayang sih 5 bulan kemudian ciko mati. ja saya jadi sedih banget dan setelah itu saya tidak boleh pelihara kucing lagi sama nenek saya, dengan alasan yang saya tidak pahami waktu itu.
cat is the beautifull that i could, tanx god..
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)