Hari-hari yang menyenangkan. Tanggal 25-28 Juni 2007 lalu saya mengikuti Pelatihan Perawatan Paliatif di Puskesmas Balongsari, Surabaya. Pelatihan yang dilaksanakan sejak pukul delapan pagi hingga pukul tiga petang itu terbagi atas 14 materi pelatihan, yang diberikan oleh empat orang profesor, dokter-dokter spesialis, farmakolog, perawat, dan relawan Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo Surabaya. Hari terakhir pelatihan ditutup dengan melakukan “home care” ke rumah-rumah penderita kanker. Seluruhnya merupakan bekal pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi orang yang sedang mendampingi penderita kanker.
Betapa beruntungnya saya dapat mengikuti pelatihan itu, tanpa biaya sepeser pun!
Dr. Maya Syahria Saleh, Kepala Puskesmas Balongsari, mendapat banyak pujian atas inisiatifnya mengadakan pelatihan itu, sebagai persiapan untuk dibukanya Poliklinik Paliatif di Puskesmas Balongsari bulan depan. Asal tahu saja, puskesmas ini merupakan puskesmas pertama di Indonesia yang memberikan pelayanan paliatif untuk penderita kanker (juga untuk penyakit-penyakit kronik lainnya, yang akan menyusul kemudian). Bahkan secara tidak resmi pelayanan ini diam-diam telah berjalan secara mandiri selama setahun.
Dokter Maya adalah seorang dokter yang cantik, pintar, ramah, energik, dan inovatif. Dulu ia adalah penderita kanker payudara. Dengan pengobatan yang tuntas, akhirnya kankernya dinyatakan sembuh. Tetapi datang penyakit lain. Sebuah penyakit langka yang belum diketahui penyebabnya, apalagi penyembuhannya. Dokter yang merawatnya di Singapura menyatakan bahwa harapan hidupnya mungkin tidak lebih dari empat tahun lagi.
Nah, apa yang kita rasakan seandainya kita mendapat vonis seperti itu? Hancur? Putus asa? Menangisi nasib?
Tidak demikian dengan Dokter Maya. Pada awalnya memang ia merasa sedih. Wajar kan? Tetapi kemudian ibu tiga orang anak ini melakukan “deal” dengan “nasibnya”: “Okaylah. Kalau memang umur saya tinggal empat tahun, tak apa. Empat tahun itu lama. Masih banyak hal yang bisa saya lakukan. Saya akan berbuat sebanyak mungkin untuk orang lain, sehingga seandainya saya mati, tidak ada lagi yang saya sesali.”
Maka ia pun merencanakan banyak hal. Melakukan yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, dan juga lingkungannya.
Puskesmas Balongsari yang dipimpinnya hanyalah salah satu contoh. Tadinya puskesmas itu adalah sebuah puskesmas pembantu yang kurang diminati masyarakat. Dua tahun di bawah pimpinannya, puskesmas di wilayah miskin pinggiran kota itu berubah menjadi salah satu puskesmas percontohan.
Kini puskesmas itu memiliki tujuh orang dokter (termasuk dokter spesialis anak, dokter spesialis kebidanan & kandungan, dan dokter gigi), psikolog, akupunkturis, apoteker, bidan & perawat lulusan akademi, didukung dengan laboratorium, rumah bersalin, dan sistem komputer yang terhubung ke seluruh ruangan. Pasien dewasa tidak perlu lagi mencari-cari kartu berobatnya sebelum datang ke puskesmas, karena cukup dengan menggunakan sidik jari, semua data tentang dirinya bisa diakses.
Tidak hanya pengobatan penyakit yang ditanganinya. Secara aktif puskesmas ini juga mengadakan berbagai kegiatan pembinaan masyarakat, bakti sosial, membina posyandu balita, posyandu lansia, juga menangani berbagai persoalan di masyarakat seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Para penderita gangguan jiwa dan kanker bahkan didatangi ke rumahnya untuk diketahui dan dibantu lebih jauh segala permasalahannya.
Masih banyak lagi rencana besar Dokter Maya. Setelah kanker mendapat penanganan khusus, rencana berikutnya adalah membentuk klub diabetes, klub hipertensi, dan klub-klub lainnya.
Bagaimana mungkin seorang dokter puskesmas melakukan itu semua? Apakah ia mendapat kucuran dana dan fasilitas lebih dari pemerintah? Tidak. Ia melakukan itu semua dengan modal sebuah keyakinan, bahwa kalau kita melaksanakan sebuah itikad baik semata-mata dengan niat ibadah, maka kemudahan akan datang dengan sendirinya.
Baiklah, mari kita ingat lagi: Dokter Maya adalah seorang mantan penderita kanker, yang sedang mendapat “vonis mati” dari sebuah penyakit lain. Tetapi ia tidak mau berpangku tangan menyesali nasibnya. Ia hanya berfikir bahwa ia masih punya waktu, punya kesempatan, dan ia ingin berbuat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, agar bisa meninggal tanpa penyesalan. Bahkan ia masih melanjutkan pendidikan lagi di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, lho.
Nah, bagaimana dengan kita?


Cerita Sejenis:
Sudah 33 sahabat yang menanggapi
wah ini baru workshop betulan
mbak, sampaikan salam untuk mbak Maya, ehm ehm
eh ketinggalan, bilang salam dari Moki hehehe
salamnya sudah saya sampaikan Cak. mbak Maya-nya ehm…senyum-senyum senang
wow ternyata dulu mantan ehm ehm-nya to? ehm… maksudnya mantan teman sekelas
Bacanya merinding juga tentang dr. Maya…but she is wonderful indeed.
Mudah-mudahan Tuhan tetap memberinya kesempatan. Puskesmasnya hebat
euy…sampai punya palliatif center, rumah sakit aza belum tentu bisa.
dimanakah alamat bu dokter tersebut? saya mo naya apa ada yayasan penyandang dana untuk membantu pengobatan kanker.karena bapak saya penderita kanker usus dan udah operasi 1 th yang lalu di RS dr soetomo.namun kemo therapy nya belum selesai karena saya sudah tidak punya biaya lagi.dan sekarang beliau memakai kolostomi perut.dan belakanagan agak susah buang kotoran saya khawatir kankernya tumbuh lagi.adakah yang bisa menolongku?
Hello Lale,
Dokter Maya bertugas di Puskesmas Balongsari, Kec. Tandes, Surabaya. Untuk penderita yang benar-benar tidak mampu, Puskesmas Balongsari membebaskan biaya perawatan dan pengobatan untuk penderita kanker di wilayah kerjanya. Bahkan penderita yang tidak mampu lagi datang ke puskesmas akan didatangi petugas dan dirawat di rumahnya secara gratis. Tetapi yang dimaksud pengobatan di sini tentunya hanya pengobatan yang tersedia di puskesmas, tidak termasuk kemoterapi, radiasi, dan semacamnya. Coba bapak dikonsultasikan ke Bag. Paliatif RSU Dr. Soetomo, ya? Mungkin di sana bapak bisa mendapat solusi yang lebih baik.
Tentang susah buang kotoran, itu tergantung banyak hal. Apa makannya cukup banyak? Dan cukup banyak seratnya? (Sebaiknya serat yang lunak saja, misalnya dari kentang, nasi, pisang; jangan terlalu banyak serat kasar dari sayur-sayuran semisal daun singkong, kangkung, bayam, dsb. agar ususnya tidak terluka). Apa minumnya cukup? Apa bapak cukup banyak gerak? Kalau memang ada yang kurang, coba diperbaiki, ya.
Bisa juga susah buang kotorannya merupakan efek samping dari obat antinyeri. Jika itu yang terjadi, bapak perlu minum obat laxative (urus-urus) yang ringan, yang berupa obat telan.
saya seorang anak dari ibu penderita kanker payudara, dan alhamdulillah kankernya sudah diangkat dan sekarang akan menjalani kemoterapi tahap ke dua pada tgl 24-12-2007 semoga beliau sembuh dari penyakit kankernya amin.. dan untuk Dr maya saya salut kapada ibu, dan saya mohon kepada Dr untuk memberikan tips-tips dan support kepada ibu saya
Bravo TS dr Maya! anda pantas jadi nominator dr teladan tingkat nasional.. Salam kenal dok!
Salut dengan dr. Maya, tetap semangat! Semoga puskesmas yang dipimpinnya tambah sukses ya!!
Dan semoga Tuhan memberikan “miracle” penyakit yang anda derita bisa disembuhkan. Amien.
Luar biasa dokter Maya
.Saya kagum, she’s wonderful
.Inovasinya akan membuat lbh banyak masyarakat umum yg membutuhkan pelayanan di puskemas tersenyum&pny smngt hdp
.Saya yakin ada keajaiban yg Allah akan berikan dlm bentuk appun kepada dokter Maya
,saya turut berdoa& yakin Allah sungguh sayang dg dokter cantik ini
seperti saya yakin dg kesembuhan dr penyakit yg saya derita.Saya pnh menderita penyakit hepatitis B selama 5 thn. Pjlnan hdp saya yg berat di tengah byk hal,saya berjuang dlm hdp krn saya ingin berbuat lbh byk utk org lain & kini telah sembuh.Saya lulusan psikologi thn 2007,bgmn caranya menjadi relawan paliatif di puskesmas tersebut/dr. Soetomo?Adakah alamt email/no yg dapat di hub?.Saya ingin belajar, berbagi ilmu,pengalaman hdp&semangat hdp kepada siapapun yg membutuhkan.Mbak,sampaikan salam kenal saya utk dokter Maya
.Semangat terus dokter Maya,krn hidup anda luar biasa
Salam,
-Vesti-
Bagus sekali kalau Vesti ingin menjadi relawan paliatif. Kalau rumah Vesti di wilayah Surabaya barat, sebaiknya bergabung menjadi relawan di Puskesmas Balongsari. Datang saja ke Poli Paliatif di puskesmas tersebut pada hari Senin jam 09.00-11.00, dan sampaikan keinginan kamu pada Mbak Warit selaku koordinator. Telp Puskesmas Balongsari (031) 7417104. Sedang kalau Vesti tinggal di wilayah lain, bisa menjadi relawan di RSU Dr. Soetomo. Silakan datang langsung ke Poli Paliatif & Bebas Nyeri pada hari Selasa atau Jum’at jam 08.00 dan sampaikan keinginan kamu di sana. Bisa juga menghubungi koordinator relawan Pak Rudy Prins di (031) 70749444.
Mbak, THANKS A LOT ya buat infonya
Salam untuk dr Maya yaa…dulu waktu pertama ke sana, pustu-nya masih baru di-pel, dibersihkan..cepat sekali perkembangannya..PKM juara lagi..dr Maya juga banyak dapat penghargaan..PKM yang leading pake sidik jari..TOP deh..Bravo dr Maya.
Salam kenal Mba Titah
Salam kenal juga Mba Wilis. Dr. Maya memang “kaga ada matinya”, adaaa… aja acaranya. PKM-nya merupakan PKM pertama di Surabaya yang dapat ISO (International Standards Organization) 9001:2000 lo, dan merupakan area hotspot. Keren kan?
Ada pelatihan online nya gak yaa??
Belum ada, Danol. Tapi kan bisa belajar dari Rumah Kanker?
mbak, aku mau curhat nih. namaku Yuli, aku tlah menikah 1 thn lalu. terakhir saya haids bln maret, pada bulan mei saya ikut donor darah. apakah ketika kita donor darah kotornya berganti darah bersih? karena hingga saat ini saya belum juga haids. apalagi kemarin selesai berhubungan dengan suami vaginaku mengeluarkan darah. aku kira darah haids namun keesokan harinya tak tampak darah haids yg aku tunggu keluar. Apakah itu merupakan gejala kanker?
yang terjadi ketika donor darah bukan “darah kotor” berganti menjadi “darah bersih”, tapi setelah darah diambil untuk donor, tubuh akan membuat sel-sel darah baru untuk menggantikannya. lebih segar dan ya… lebih bersih tentunya.
tapi aku rasa donor darah nggak ada hubungannya dengan haid…? kamu sudah tes urine belum yul, jangan-jangan hamil?
subhanallah.. salut dengan dokter maya.. yakin saja bahwa segala penyakit itu ada obatnya.. Allah sudah menjaminnya dalam Al-Quran.. tinggal ikhtiar saja
saya juga mengalami pembengkakan kelenjar getah bening d payudara…, klu scr kasar kmgknan terburuk sudah stadium 3b sekarang sementara menunggu hasil usg dr dharmais, smg Allah memberikan ksabaran & kesembuhan bagi hamba2nya yang berada d jalanNya…
amin… tetap ikhtiar dengan sabar, semoga cepat sembuh ya santi…
Saluuut untuk Dr.maya..salam kenal.
Umur saya 35thn.Pengen berbagi pengalaman dan harap bisa ditanggapi jg.Payudara kanan saya terdapat benjolan,yg saya rasa tidak nyeri sedikitpun,yg 12 thn yl pernah dioperasi,diambil sedikit untuk sampel diperiksa di lab yg hasilnya tidak pernah di beritahukan.sekitar november 2007 ibu saya meninggal disebabkan Kanker payudara yg terlambat di ketahui (ibu sengaja menyembunyikannya)karena takut merepotkan anak2nya yg jauh,karena biaya pengobatan kanker sangat mahal.Sejak ibu meninggal saya mulai merasakan nyeri di payudara yg ada benjolan tumornya,tapi semula saya pikir karena perasaan saya saja.Karena sering berulang dalam seminggu bisa 4x terasa nyeri walau cuman sebentar2,saya jadi kuatir juga kalo dibiarkan lama2 tidak ada kepastian,siapa tau tumor dulu itu sudah berubah menjadi kanker sekarang,akhirnya saya putuskan untuk periksa ke ahli bedah onkologi,10 april 2008 Saya di nyatakan dokter INVASIF DUCTAL KARSINOMA MAMAE (Low Grade Malignancy),setelah menjalani operasi pengangkatan 1bh payudara yg semula dibiopsi
jarum dinyatakan tumor jinak tapi kemudian disarankan untuk frozen section yg kemudian hasilnya
positif kanker….jadilah saya harus merelakan 1 bh payudara saya hilang.Kemudian untuk pengobatan lebih lanjut saya mau dijadwal dokter untuk Kemoterapi…tapi..
Sekarang saya mengalami keraguan dari hasil dokter
tersebut karena hasil laporan labnya nggak keruan.tidak kronologis..terkesan asal-asalan..dan lama baru keluar hasilnya..18hari.padahal sewaktu dokter menyatakan saya positif kanker payudara hanya 1 jam setelah frozen section (pengangkatan tumor ukuran 3x3cm)kemudian saya disarankan langsung operasi lagi untuk pengangkatan payudara secara keseluruhan.Tapi mengapa untuk hasil pemeriksaan lab selanjutnya lama dan tidak kronologis tgl masuk dan di jawabnya.Kalo Low Grade gitu udah masuk kategori stadium brp ya dok ? Haruskah saya di Kemoterapi?? apa tidak ada pengobatan cara lain..?? Saat ini sebenarnya saya agak cuek dengan penyakit saya..nggak terlalu mikirin,tetap ceria.secara psikologis santai..tidak stress..makan juga biasa..abis operasi malah gemuk.tidak ada keluhan apa2.Saya juga baru Umroh,minta kesembuhan padaNYA.tapi saya jaga2 juga,jgn sampe tau-tau nyerang.Sebaiknya bagaimana ya?? tks
dear ratna,
syukurlah kalau kondisi ratna baik, gemuk, tidak ada keluhan, secara psikologis juga santai, bisa makan enak…
mengapa ratna ragu dengan hasil pemeriksaan patologi anatomi? padahal pemeriksaan PA memberikan hasil yang paling akurat, karena pemeriksaan dilakukan secara langsung (bukan hanya rabaan, foto, dll). memang pemeriksaan itu kadang makan waktu beberapa hari, karena selain pemeriksaan luar yang kasatmata, dilakukan juga pemeriksaan yang lebih teliti menggunakan mikroskop dan alat-alat bantu lain. sudah tentu hasilnya jauh lebih akurat daripada frozen section.
invasive ductal carsinoma mammae, berarti kanker ratna sudah mulai menjalar. “untungnya” low grade malignancy, artinya tingkat keganasannya agak rendah, penyebarannya agak lambat. tapi bukan berarti tidak berbahaya lo, karena tetap saja itu kanker, dan kanker selalu ganas. yang menggambarkan stadium bukan “low grade”, tapi sudah seberapa jauh penyebarannya…
dari bulan april sampai sekarang september sudah lama juga… sejak saat itu pengobatan apa yang ratna jalani? apa ratna masih periksa/kontrol ke dokter? bagaimana perkembangannya sekarang? pengobatan apapun yang ratna pilih, periksa rutin (sebaiknya sebulan sekali) sangat penting untuk memantau perkembangannya. setelah dinyatakan sembuh pun, tetap harus periksa rutin sampai lima tahun. semoga hasilnya baik-baik saja ya rat
Dear Ratna….
Kalo’ ragu dengan hasil PA dan keterangan dokternya, coba bawa hasil PA nya ke onkology yang berbeda. Apa pendapatnya??? So, kalo itu memang INVASIVE….buru-buru ditangani secara serius ya…lebih cepat lebih baik.untuk pengobatan cara lain ada banyak pilihan, tanya ke dokternya dulu apa saja alternatifnya melalui medis. Boleh tau gak HER2? ER? PR? P53? Tes darah CA-153 dan CEA-nya?Atao email ke saya ani@solusimedia.co.id
dear ratna …
saya putri kalo menurut saya selain pengobatan dokter ada lg pegobatan yg lainnya yaitu herbal dan sepiritual atau banyak berserah diri kepada allah tu bagus akan tetapi semangat hidup bu yg sangat penting buat diri ibu sendiri dan juga dukungan keluarga,anak dan saudara bu,doa dan semangat hidup bu tu yg sangat penting untuk melawan penyakit kanker tu,karena setiap penyakit tu pasti akan datang dengan sendirinya yang diberikan oleh allah,tu hnya cobaan dan ujian kecil klo manusianya tu kuat pasti insya allah dia akan sembuh dengan sendirinya asal banyak2 tawakal dan berikhtiar kepada allah swt,dan bu jg harus punya semangat hidup yg kuat tk melawan penyakit ibu dan ibu tidak boleh stress atau memikirkan penyakit ibu tu krn apa yg dialami ibu ratna jg dialami oleh ibu saya krn ibu saya sedang berjuang melawan penyakitnya yaitu kanker payudara stadium 4,trus dukungan dari suami ibu dan anak ibu tu sangat penting buat diri ibu sendiri.dari saya:fania_girl2005@yahoo.com.
putri,
bagaimana kabar ibu sekarang? semoga mendapat hikmah terbaik dan kesembuhan. salam untuk beliau ya, put. tetap ikhlas dan semangat…!
Ibu adalah orang yang sabar dalam menghadapi kehidupan
Dear mbak Titah,
Perkenalkan nama saya Arti, saya perempuan berusia 43 tahun. bulan Januari lalu saya mengalami pendarahan setelah bab, diagnose dokter penyakit dalam hemorroid interna. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan endoskopi dan kolonoskopi karena saya sering mual dan perut rasanya begah. Hasil endoskopi menunjukkan gas lambung saya tinggi dan dokter menyebutkan saya terkena maag kronis, tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan didaerah lambung. USG abdomen atas menunjukkan ada batu diempedu saya (kata dokter itu yang menyebabkan mual)
Hasil colonoscopy menunjukkan ada massa berdumpul2 pada colon, 10 cm dari dubur. kemudian dibiopsi dan hasilnya menunjukkan kesan ganas. Diagnose PA menyebutkan Adenocarcinoma Colorectal well defined.
Dokter Internist mengatakan saya terkena kanker usus dan saya sangat down sekali, takut, worry dan sebagainya. dokter memberikan surat pengantar ke dokter bedah tapi sampai sekarang saya simpan. saya tidak siap mendengar kabar yang lebih buruk lagi.
Mohon advis, apa yang harus saya lakukan ? Saya sangat takut sekali. padahal selama ini saya baik2 saja, tidak ada tanda tanda keanehan pada tubuh saya. setiap pagi saya lancar bab dan saya biasa hidup sehat, tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol. saya setiap hari konsumsi buah dan sayur. Bagaimana cara mengetahui termasuk stadium berapa penyakit saya.
Saat ini saya sedang berikhtiar dengan berdoa mohon kesembuhan pada Allah dan mengkonsumsi salah satu makanan sehat (organic). Saya mendengar tentang pengobatan dengan keladi tikus maupun benalu teh. Mohon informasi adakah yang tahu alamatnya bapak Boni Patoppoi yang mempunyai banyak referensi tentang pengobatan dengan keladi tikus.
Jika saya ingin memeriksakan kembali sakit saya, dimanakah alamat dokter oncology yang tidak membuat pasiennya malah makin parah karena ditakut takuti dengan kata2 : harus operasi, harus kemo, harus radioterapi….kalau tidak mau menjalani umurnya tinggal sekian bulan atau tahun. Bukannya umur manusia ada ditangan Allah?
Mbak Titah….maaf, pertanyaan saya banyak banget ya.
Terima kasih,
Arti
Dear Mbak Arti,
Saya memahami apa yang Mbak Arti rasakan; rasa terpukul dan takut itu dialami oleh semua orang ketika pertama kali terdiagnosa kanker.
Memang Mbak, kalau kita menanyakan pengobatan kanker kepada dokter, maka yg ada dalam referensinya adalah operasi, kemoterapi, radiasi (secara etik memang dokter hanya boleh menganjurkan apa yang menjadi bidang garapnya saja). Jadi selama berhadapan dengan dokter, bersiaplah menghadapi kata2 itu. Tapi, kalau dokter mengatakan sekian bulan atau sekian tahun, jangan pernah percaya, kalau perlu bantah aja langsung! Memangnya dokter itu Tuhan?
Saran saya sih, sebaiknya Mbak Arti gak perlu cari tahu stadium berapa-nya. Untuk apa? Yang penting lakukan upaya pengobatan secara maksimal, diet tepat, jalani pola hidup sehat, secepatnya bebaskan diri dari rasa takut, sedih, bingung, stres, marah. Percaya saja bahwa apa yang Tuhan kehendaki terjadi pada kita itu baik adanya bagi kita. Pasti baik.
Boni Pattopoi ada di Jl. KH Khamdani, Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo. Mbak Arti boleh juga konsultasi ke dr. Soeharso, Ngagel Jaya Selatan 1 Surabaya. Cepat sembuh ya Mbak.
Mbak Arti yang baik….
akhir tahun lalu saya juga divonis terkena kanker ganas usus besar yang letaknya 45 cm dari rectum dgn stadium 2B (dukes B). Hanya selang 4 hari setelah diketahui hasilnya berdasarkan biopsi, kolonoskopi dan CEA, sy menjalani operasi pemotongan usus besar sepanjang 25 cm diikuti dengan 10 kali kemoterapi. Tiga minggu lalu kemo sdh tuntas, dan seminggu lalu berdasarkan pemerikasaan menyeluruh (CT Scan, kolonoskopi dan CEA) menunjukkan kanker saat ini telah bersih dan tidak ada penyebaran. Alhamdulillah 3X. Namun demikian sy diminta untuk terus kontrol secara berkala, berpikir positif dan patuh terhadap saran dokter. Hal ini dilakukan mengingat kekambuhan pada penderita kanker dapat terjadi
Saat ini sy masih dalam pemulihan pasca kemo. Sekedar untuk info saja, sy juga bukan perokok apalagi mengkonsumsi miras, rajin makan sayur dan buah, berat badan normal, seseorang yang aktif karena selain bekerja sebagai PNS sy juga sdg kuliah lagi, tidak memiliki keluarga penderita kanker, bukan penggemar daging apalagi jerohan. Semua faktor2 resiko terhadap ca kolorectal tersebut tidak sy miliki, tetapi faktanya sy menderita ca kolon. Artinya, bila Tuhan berkehendak, maka sesuatu dapat terjadi…
Bila mbak Arti berkenan silahkan email sy di ck2_solo@yahoo.com sekiranya mbak mememerlukan seseorang untuk berbagi…
Dear mb Titah yg baik ht..sy sgt salut sekl dg semangat hdp Dr.Maya.yg ign sy tanyakan,dmnkah sy bs mndptkan colostomy bag yg hrganya tdk trlalu mhl?soalnya sy dr keluarga yg sederhana.sy tgl di Jombang, Jatim.makasih atas infonya…
salut dengan dokter maya..ini cerita tahun 2007 yah..
sekarang 2012..uda lebih 4 tahun..
apa kabar bu dokter yang gag ada matinya mba?
semoga selalu dalam lidungan Tuhan #amin
dear yusti ardiana,
dokter maya makin sehat, sekarang beliau menjadi direktur rumah sakit BDH milik pemkot surabaya.
salut dengan dokter maya, semoga mama saya bisa sekuat dokter maya dalam melewati kanker servik yang diderita. Blog ini sangat memberikan motivasi bagi penderita maupun keluarga penderita penyakit kanker. semoga mama lekas sembuh
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)