halo nama saya sinta dari bali….
langsung aja ya,
saya punya nenek yg umurnya udah 78 th, beliau didiagnosa memiliki tumor otak…. 2 bln lalu beliau di operasi memasang saluran untuk mengalirkan CSFnya yang tersumbat oleh tumornya (istilah RSnya “memasang pepesan”). awalnya nenek masih bs berjalan stlh menjalani operasi itu jadi ga bisa jalan.
selanjutnya untuk menegakkan diagnosisnya dokter menyarankan agar nenek di operasi biopsy, tapi nenek sendiri menolaknya, dan kami keluarga pun menolaknya selain krn permintaan nenek sendiri, jg krn kami takut membayangkan resiko dilakukannya tindakan itu mengingat pembedahan ini menyangkut kepala (tengkorak) dan otak yg merupakan organ tervital.
1 bln menginap di RS, kemudian dokter menyarankan dilakukan kemoterapi…, tapi menurut buku yg saya baca, kemoterapi maupun radiasi tidak boleh dilakukan sebelum diagnosis dan stadium ditegakkan (apalagi tumor otak yang masih jarang, dan perjalanan penyakitnya pun belum diketahui). bagaimana bisa hal itu terjadi sementara pengambilan sample tidak dilakukan?! setidaknya untuk tahu lokasi tumor di otak pun saya ga ngerti (ga tau gimana baca hasil CTscan-nya). yah saya bermaksud mencari informasi di internet tentang jenis2 tumor di lokasi otak tsb agar lebih spesifik.
akhirnya 2 bln lamanya tanpa tindakan apapun, nenek dipulangkan oleh pihak RS. kami sekeluarga pun memutuskan untuk melakukan perawatan paliatif saja dirumah.
namun yang mengganjal di hati saya….apakah tindakan kami sudah benar? saya tidak ingin berpangku tangan sementara org yg saya sayang berjuang mempertahankan hidupnya, saya berharap tidak menyia2kan kesempatan untuk berusaha melakukan yang terbaik agar dikemudian hari tidak menyesal….
saya mohon masukannya…..terimakasih.


Cerita Sejenis:
Sudah 9 sahabat yang menanggapi
halo sinta,
turut prihatin atas sakit yang diderita nenek anda, semoga keadaan beliau baik-baik saja ya.
memang idealnya setiap penyakit harus diobati sampai sembuh, termasuk tumor, dengan mempertimbangkan segala hal yang terkait di dalam proses pengobatan itu. kalau lebih banyak sisi plus-nya, segi positifnya, keuntungannya, silakan pengobatan dilanjutkan. jika tidak, sebaiknya dilakukan tindakan paliatif untuk mempertahankan, atau bahkan meningkatkan kualitas hidup.
saya kenal seseorang yang dulunya penderita kanker otak stadium 2. ia terkena penyakit itu ketika masih SMP. setelah bergulat dengan berbagai pengobatan ia dinyatakan sembuh, dan kini kuliah di jurusan eksakta sebuah PTN dengan IPK rata-rata di atas 3. tetapi sampai kini, ia harus hati-hati dengan pola hidupnya, dan melakukan berbagai emeriksaan –termasuk CT-scan– dua minggu sekali untuk memastikan sel kankernya tidak tumbuh lagi.
jadi, anda tahu bahwa kanker otak bisa disembuhkan.
mungkin anda juga sudah membaca buku “melawan kanker” karangan anne e. frahm & david j. frahm, sebuah kisah nyata tentang penyakit kanker yang sudah diobati dengan berbagai macam pengobatan, toh penyakitnya tumbuh terus sehingga dokter memvonis umurnya tinggal sebulan lagi. dengan pengobatan alternatif yang dilakukannya, anne berhasil memenangkan peperangannya melawan kanker dalam waktu lima bulan.
tetapi maaf, mungkin pada nenek anda kasusnya sedikit berbeda. karena usia beliau sudah sangat lanjut, bisa jadi pengobatan akan memberikan efek yang berbeda. maksud saya, bisa saja fisik beliau sudah kurang mampu menerima/menahan berbagai efek samping pengobatan, dan lambat dalam pemulihan kondisi. alih-alih membaik, bisa-bisa malah semakin drop.
menurut saya sudah tepat kalau anda sekeluarga memilih melakukan perawatan paliatif di rumah. sekedar penyegar perlu saya kutipkan lagi sebagian dari sebuah artikel di Rumah Kanker:
nah, anda lihat poin 1, 2, dan 3. paliatif menghargai setiap kehidupan, namun menganggap kematian adalah proses yang normal. kalau kita sudah bisa menganggap kematian adalah sebuah proses yang normal (sebuah proses “pindah alam”, tidak beda dengan proses kelahiran, bukan?), tidakkah normal juga kita melakukan persiapan-persiapan untuk kehidupan sesudah kematian?
dalam kasus nenek anda, kalau memang beliau menolak tindakan medis, tidak usah dipaksakan (lihat poin 4 dan 7). lebih baik anda sekeluarga fokus pada poin 5 dan 8, seraya membantu nenek untuk semakin khusuk beribadah (maaf saya tidak tahu agama yang dianut nenek anda, dalam agama islam istilahnya adalah untuk mencapai akhir yang khusnul khotimah –akhir yang baik/sempurna. tidak akan ada penyesalan kalau akhir yang khusnul khotimah ini bisa tercapai.)
melakukan perawatan paliatif bukanlah sebuah tindakan “putus asa”, melainkan sebuah usaha juga, dalam batas-batas sikap yang rasional. if we can’t add years to life, we can add life to years…
kalau anda masih ragu, silakan konsultasi ke bagian paliatif RSU sanglah, denpasar. bisa juga konsultasi lewat telepon dengan dokter paliatif RSU dr. soetomo, surabaya di pesawat 031-5501485 atau 0800-1-404-116 hari senin-jumat jam 09.00-13.00.
okay? sungkem untuk nenek ya sinta
Maaf kelamaaan…saya cm maw ngucapin makasi buanyak ya atas info dan masukannya……………….
Saya ikut berempati apa yang dirasakan anda, Saya perawat di RS Kanker dharmais yang juga terjun di unit paliatif, saya coba untuk sharing dengan anda tentang pengalaman memberikan perawatan pada pasien paliatif.saya setuju apa yang menjadi keputusan anda mengunakan layanan paliatif, mengingat usia nenek anda yang beresiko dilakukan tindakan medis yang memungkinkan berakibat buruk dari efek samping seperti kemoterapi.Layanan paliatif sangat berguna untuk nenek anda untuk dapat memenuhi kebutuhan perawatan seperti rasa nyeri dengan pemberian terapi dan masalah lainnya yang sangat kompleks.disamping itu nenek anda akan merasa bahagia bisa berkumpul dengan keluarga.Perawatan paliatif adalah suatu tindakan untuk meringankan penderita pasien seperti mengurangi nyeri dan keluhan lainya sehinga pasien dapat menjalankan hidup dengan rasa nyaman dan meninggal dengan dignity(tenang) di lingkungan keluarga.Anda bisa juga dapatkan informasi pada RS sanglah dimana salah satu RS yang menjadi anggota MPI(masyarakat paliatif indonesia) suatu ikatan pelayanan paliatif untuk pasien dan keluarga di seluruh indonesia
Ade, terima kasih atas tambahannya. Sering-sering sharing di sini ya, terutama kalau RS Dharmais mengadakan kegiatan atau program-program tertentu untuk penderita kanker, jangan lupa diinformasikan pada sahabat-sahabat kita…
halo Titah, met kenal ya. aku mau nanya buku ” Melawan Kanker” itu bs didptkan dimn ya?
km sptnya byk pengalaman mengenai kanker apakah km seorg dokter atau ???
thx
halo juga valentine, buku “Melawan Kanker” aku dapatkan di gramedia, pernah lihat di sari agung juga. aku bukan dokter lho, cuma seseorang yang punya keluarga pengidap kanker, sedang belajar tentang kanker, dan pengin sharing dengan sahabat-sahabat senasib-sepenanggungan…
kanker ya,orang yang na sayangi jg sedang mengidap kanker otak stadium 3. alhamdulillah operasinya berjalan lancar. yang dibutuhkan bagi mereka yang mengidap kanker adalah dukungan dan semangat. pencerahan hati dan perhatian kita. dan lagi, slalu ingatkan dia utk taat beribadah. krna mukjizat itu datang ga diduga.
Slm knl bwt smua
sy jg mempnyai adek yg mndrta knker otak beberapa hr yg lalu dia operasi dislh st RS Di singapura.Skrg dia mengalami amnesia krn efek dr opers.
paliatif ?.!!! saya,sanggupi sesuatu tdk menunda ttp lakukan,hargai,etitut.perhatian yg luas.saya berharap u/ mendominasi keadaan aktual,advocasi interns komplek.
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)