Cerita Sejenis:

Sudah 13 sahabat yang menanggapi

Subscribe ke thread ini: comment rss or trackback url
mygif
Titah menanggapi pada tanggal July 27th, 2007 jam 3:12 pm

Maaf saya bukan dokter, hanya menantu penderita kanker seperti Anda yang ingin sama-sama berbagi.

Tampaknya ayah mertua Anda sudah menjalani berbagai pengobatan yang cukup lengkap ya, sampai melakukan terapi gen juga. Sayang sel kankernya berkembang terus, bahkan kini sudah menjalar ke tulang rusuk. Pada tahap ini mungkin penyebarannya sudah sulit dikontrol. Mungkin bisa dihambat dengan kemoterapi, radiasi, atau terapi nutrisi/tradisional, tetapi untuk dihentikan sama sekali sepertinya nyaris tidak mungkin. Tapi ini teori dari sudut pandang kedokteran lo ya (disiplin ilmu lain mungkin punya sudut pandang yang berbeda).

Karena secara teori tidak mungkin dihentikan, dengan mempertimbangkan berbagai hal (usia, kondisi umum penderita, biaya, efek samping, kondisi keluarga, dll), untuk kondisi seperti ayah mertua anda (dan ibu mertua saya juga) dunia medis cenderung menyarankan untuk dilakukan perawatan paliatif saja. Perawatan paliatif tidak bertujuan untuk menyembuhkan, tetapi merupakan terapi holistik untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitas hidup penderita maupun keluarganya, sehingga tetap dapat menikmati hidup dengan bahagia, tanpa nyeri, tanpa depresi, dan tanpa gangguan-gangguan lain.

Di Jakarta perawatan paliatif bisa didapatkan antara lain di RSCM dan RS Dharmais. Anda juga bisa menghubungi Pusat Paliatif RSU Dr. Soetomo Surabaya telp (031) 5501485 dan 0800.1.404.118 (Senin-Jumat jam 09.00-13.00) untuk konsultasi atau mendapatkan second opinion.

Tetapi kalau Anda dan keluarga masih bertekad untuk mengupayakan kesembuhan bagi ayah mertua Anda, mungkin buku “Melawan Kanker” Anne E. Frahm & David J. Frahm (bisa dibeli di Gramedia) bisa menjadi panduan.

Semoga ayah mertua Anda segera menemukan jalan untuk kesehatannya ya.

mygif
Ernita menanggapi pada tanggal July 27th, 2007 jam 3:25 pm

Dear Mba’ Titah,

Terima kasih atas jawaban yang diberikan. Kami, anak-anak & menantu, juga ibu mertua saya selalu mendorong ayah agar tidak putus asa melaksanakan semua hal sesuai dengan rekomendasi dokter karena kami sangat berharap dan merasa mempunyai harapan untuk kesembuhan ayah.

Kanker tersebut sudah menjalar ke tulang rusuk no. 9 (masih di bawah). Kemarin saya hanya bisa memberikan dorongan kepada ayah semoga masih bisa dihalangi agar tidak menjalar ketulang rusuk selanjutnya. Terus terang saya sedih sekali membaca jawaban yang Mba’ Titah berikan (tapi itu kan kenyataan walau dari sudut pandang kedokteran ya).

Ayah mertua saya selama ini belum pernah melaksanakan pengobatan secara alternatif, sangat percaya dengan cara medis. Saya masih menunggu kabar hasil kontrol ayah hari ini (tgl 27 Juli). Sebenarnya saya agak curiga juga sewaktu PSA mencapai 14, hal pertama yang ditanyakan dokter adalah: ” Bagaimana perasaan bapak?”

Rencananya ayah juga harus melaksanakan scan ginjal. Oh..iya mba’, ayah mertua saya juga mengidap diabetes dan jantung. Diabetes karena keturunan dari eyang putri. Bisa dibayangkan berapa banyak obat yang harus diminum setiap hari dengan ketiga penyakitnya ini.

Terima kasih banyak Mba Titah, boleh ya saya minta saran Mba’ lagi setelah mendapat kesimpulan dokter hari ini?

mygif
Titah menanggapi pada tanggal July 27th, 2007 jam 9:13 pm

Waduh, maaf ya Ernita kalau jawaban saya membuat Anda sedih. Sangat bisa saya pahami, karena saya pun menghadapi hal yang sama. Pada awalnya hati saya pun “berontak” ketika dokter mengajak bicara panjang lebar, empat mata, tentang kondisi ibu saya, tentang prognosisnya (prediksi perkembangan penyakitnya), dsb. Tetapi kemudian saya bisa menerima dengan baik, karena keterusterangan itu membuat kami sekeluarga bisa mengambil sikap yang paling realistis dan sesuai untuk kondisi kami.

Begitu pula ketika pertama kali mengetahui tentang apa itu perawatan paliatif. Hati saya terpukul, merasa betapa “tidak berperasaan”-nya disiplin ilmu paliatif itu, karena berani bicara tentang kematian. Tetapi setelah saya mengikuti seminarnya, yang salah satu makalahnya dibawakan oleh seorang dokter yang sudah sangat senior dan sepuh (gelarnya saja berderet-deret panjang: Prof. R. Sunaryadi Tejawinata dr., SpTHT (K), FAAO, PGD.Pall.Med (ECU) –Kepala Pusat Pengembangan Paliatif & Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo periode 1992-2006), perasaan saya berbalik menjadi tertarik kepada perawatan paliatif.

Perawatan paliatif bukan berarti menghentikan pengobatan, justru pada paliatif pengobatannya bersifat lebih menyeluruh. Prinsip paliatif adalah “to treat the patient, not only the disease”. Kalau memang upaya penyembuhan masih dimungkinkan, ya tetap akan dilakukan. Sedang kalau upaya penyembuhan tidak memungkinkan lagi, paliatif berani mengambil sikap menghentikan upaya penyembuhan, sehingga penderita tidak perlu menjalani tindakan medis yang sia-sia. Pengobatan tetap dilakukan, dengan fokus untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi keluhan-keluhan yang dirasakan oleh penderita maupun keluarganya, baik secara fisik, psikis, mental, spiritual, maupun sosial. Ini yang membedakannya dengan pengobatan medis biasa, yang umumnya terus-menerus mendorong untuk berobat-berobat-berobat walaupun tahu kemungkinan keberhasilannya sangat tidak berarti dibandingkan dengan efek samping yang harus diderita penderita maupun biaya yang harus ditanggung keluarganya.

Tetapi bagus sekali ayah Anda sangat percaya kepada pengobatan medis, dengan demikian beliau bersedia mengikuti step-step pengobatan dengan tertib dan disiplin, sehingga dicapai hasil maksimal. Tetapi menurut saya kalau pengobatan medis itu dikombinasikan dengan pengobatan alternatif atau pengobatan komplementer, akan lebih optimal hasilnya, karena bisa saling mendukung.

Di atas itu semua, yang memiliki otoritas penuh terhadap kondisi (kesehatan, termasuk umur) kita semua adalah Tuhan. Jadi, marilah kita memohon kesembuhan orang tua kita kepada-Nya. Okay?

mygif
ayahshiva menanggapi pada tanggal July 30th, 2007 jam 4:29 pm

duh maaf ya gak bisa bantu, soalnya bukan orang medis, tapi kalo mau bisa pake produk kesehatan yang sekarang lagi aku pegang lisensi distribusinya, kalo tertarik email aja

mygif
arul menanggapi pada tanggal July 31st, 2007 jam 2:20 am

wah ibu benar2 ahli, walau bukan dokter tetapi kemampuannya luar biasa.

*yang pernah berangan-angan jadi dokter tetapi terjebak juga jadi engineer*

mygif
Titah menanggapi pada tanggal August 3rd, 2007 jam 8:04 pm

@ ayahshiva
semua orang bisa membantu penderita kanker. walaupun bukan “orang medis”, anda bisa mensupport penderita kanker, misalnya secara mental, spiritual, sosial, atau finansial. memberikan sebuah senyum tulus atau genggam tangan pun, sudah membantu kok.

@ arul
subhanallah, saya hanya sedang belajar, rul…

mygif
Ernita Zaitun menanggapi pada tanggal August 27th, 2007 jam 9:38 am

Dear Mba Titah, maaf saya baru berani untuk kirim email lagi, saya sempat shock dengan paparan yang dijelaskan mba’ Titah. Terakhir rontgent ginjal, Ayah langsung ganti dokter. Karena selama 2 tahun menjalani pengobatan oleh dokter tersebut ternyata tidak ada perbaikan, baik dari segi penyakitnya maupun cara dokter tersebut memperlakukan ayah mertua saya. Dokter tersebut tidak menerangkan hasil bone scanning sedikitpun!

Karena dokter yang sekarang masih termasuk kerabat kami, beliau mengajak bicara salah seorang anak yang mengantar ayah berobat. Ternyata kanker ayah sudah memasuki stadium lanjut dengan usia yang sudah kurang dari satu tahun. Tidak ada yang berani memberitahu ayah dan ibu. Bagaimana cara kami memberitahu ayah? apakah tidak perlu diberitahu?
Tanggal 29 Agustus ini ayah harus melakukan pemeriksaan PSA lagi, kami takut ayah shock jika PSA-nya bertambah.
Sekarang ayah sedangkan menjalankan pengobatan lagi dan mempunyai keyakinan untuk sembuh.
Saya tunggu jawabannya.
Terimakasih

mygif
Titah menanggapi pada tanggal August 27th, 2007 jam 9:34 pm

Ernita sayang,
Maaf yah kalau penjelasan saya sampai membuat Anda shock. Tentu saya tidak bermaksud demikian, tapi bicara tentang kanker memang berat :( Apa yang Anda hadapi sekarang ini, persis sama dengan apa yang saya hadapi setahun belakangan. Sangat sedih dan dilematis, memang.

Syukurlah kalau sekarang ayah Anda sudah berganti dokter. Memang kadang ada dokter yang tertutup dan tidak mau diajak berkomunikasi. Menghadapi dokter seperti ini biasanya saya bersikap proaktif, agak bawel, terus mengejar informasi yang ingin saya ketahui sampai dapat. Adalah hak pasien (atau keluarga terdekat yang merawatnya) untuk mengetahui kondisi kesehatannya sejelas-jelasnya, hasil pemeriksaan, pengobatan apa saja yang diterima, dan apa saja efek sampingnya. Kalau pasien bertanya dokter WAJIB menjelaskannya. Sebaliknya kalau pasien bersikap diam/pasif, biasanya dokter pun bersikap pasif/tertutup.

Mmm… benarkah dokter mengatakan usia ayah Anda kurang dari setahun lagi? Saya rasa istilahnya bukan begitu. Pada pengobatan kanker biasanya prediksi yang digunakan kurang lebih begini, “Pada kondisi seperti ayah Anda sekarang (secara teoritis) kemungkinan bertahan hidup hingga satu tahun ke depan adalah sekian persen, kemungkinan bertahan hingga tiga tahun ke depan adalah sekian persen, kemungkinan bertahan sampai lima tahun ke depan adalah sekian persen, dst….”

Prosentase yang diberikan kadang tidak terlalu menggembirakan, tetapi berapapun angkanya, kemungkinan sembuh itu ada, dan kemungkinan sembuh hanya dimiliki oleh orang yang tidak pernah berhenti berusaha. Perlu diingat juga bahwa perkiraan itu hanyalah perkiraan rata-rata secara teoritis, sedang kondisi tiap orang sangat unik dan berbeda-beda.

Anda tidak perlu terlalu percaya pada “ramalan kematian” dari dokter. Bolehlah digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan, tetapi jangan mutlak mempercayainya. Banyak sekali ramalan dokter yang meleset. Dokter bukan Tuhan, dan ilmu kedokteran bukanlah satu-satunya ilmu pengobatan.

Anda tahu, Ernita? Tepat setahun lalu, bulan Agustus begini, seorang dokter meramalkan usia ibu saya paling lama enam bulan lagi. Tetapi kenyataannya? Hingga kini ibu saya masih dapat beraktivitas normal sesuai kondisinya, mandiri (mampu mengurus diri sendiri), bahkan sesekali masih turun ke dapur memasak untuk bapak :)

Nah, apakah Anda perlu memberitahu ayah dan ibu Anda tentang kondisi yang sebenarnya? Untuk apa? Biarlah mereka menikmati hari tuanya dengan tenteram, tidak perlu Anda bebani dengan hal-hal yang tidak perlu. Kalau memang ayah masih menghendaki pengobatan dan mempunyai keyakinan untuk sembuh, sejauh kondisi fisik dan keuangan memungkinkan, mengapa tidak?

Jika ayah/ibu secara langsung mengajak bicara soal kematian, barulah Anda menanggapinya. Tetapi tidak perlu Anda secara langsung menyatakan, “Ya, kata dokter usia ayah tidak panjang lagi” tetapi cukuplah misalnya begini, “Untuk apa Ayah memikirkan soal itu? Yang penting kan tugas Ayah sudah selesai, anak-anak sudah berhasil semua, sekarang Ayah sudah enak, tinggal lebih mendekatkan diri kepada Tuhan…” dan ungkapan-ungkapan lain yang intinya mendorong Ayah untuk mampu menerima keadaannya, tetapi tetap positif (tidak putus asa).

Omong-omong, Ernita, bisakah Anda menemukan sisi-sisi positif dari sakitnya ayah mertua Anda? Pasti ada, kok!

mygif
Ernita Zaitun menanggapi pada tanggal August 28th, 2007 jam 8:41 am

Dear Mba Titah, terima kasih atas penjelasannya. Berdasarkan pengalaman mba’, kami akan tetap bersemangat untuk terus menjalankan pengobatan. Saya juga sangat bersyukur melihat semangat ayah yang tinggi untuk terus menjalankan pengobatan berikutnya.
Sisi positif tentu ada, kami jadi lebih banyak meluangkan waktu untuk menjenguk ayah, mengajaknya berdiskusi, dan sharing pengalaman ayah untuk anak-anak dan menantunya. Kami jadi lebih merasa dekat, ibadah kami tingkatkan dan masih banyak lagi….

Saya masih ada pertanyaan mba’, untuk prosentase stadium pada kanker prostat itu patokannya dari apa ya? Apakah PSA yang kita periksa tiap bulan bisa menjadi patokan penentuan stadium? Atau ada cara lain?
Selama ini ayah tidak pernah yakin dengan pengobatan alternatif, boleh saya minta referensi dari Mba’ Titah dimana tempat pengobatan alternatif di wilayah Jabodetabek?
Terimakasih.

mygif
Titah menanggapi pada tanggal August 31st, 2007 jam 8:50 pm

Syukurlah Ernita kalau Anda sekeluarga bisa menemukan sisi-sisi positif dari sakitnya ayah, hal itu sangat berarti untuk membuat segalanya lebih mudah dihadapi.

Saya tidak tahu apakah PSA dapat dijadikan penentuan stadium kanker. Penentuan stadium biasanya berpatokan pada ukuran dan penyebaran sel kanker itu sendiri. Stadium 0 untuk sel kanker yang masih sangat kecil dan belum punya akar untuk menjalar. Stadium 1 untuk kanker yang mulai menjalar ke jaringan di dekatnya. Stadium 2 menjalar semakin jauh, atau mulai ada kelenjar limfe yang terkena. Stadium 3 kankernya semakin membesar dan/atau semakin banyak kelenjar limfe yang terkena. Stadium 4 kondisi tumornya sangat parah atau sudah menyebar ke organ tubuh lain (selain organ asal kanker).

Tentang pengobatan alternatif di Jabodetabek, maaf saya tidak berani merekomendasikannya di sini karena tidak tahu persis kualifikasinya, saya kirim langsung ke email Anda saja ya?

mygif
Junita menanggapi pada tanggal September 24th, 2008 jam 9:37 pm

Hi Mbak,

aku kebetulan nemu blog ini dr search kanker di internet…
threatnya udah agak lama ya…august 2007 :)

Aku sering denger hal2 yang kadang2 ngak masuk akal tentang penyebaran kanker…
salah satunya bila pasien kanker sering di pegang, di urut, di pijat maka penyebaran kanker akan semakin cepat karena aliran darah jadi lancar dan penyebaran kanker juga jadi cepet…

apa benar begitu mbak ??
mungkin Mbak pernah denger ttg hal ini…

thx buat sharingnya ya Mbak :)

mygif
Titah menanggapi pada tanggal September 25th, 2008 jam 11:59 pm

Hi Junita,
Saya pernah juga mendengar pendapat seperti itu, tapi belum pernah membaca landasan ilmiahnya. Tapi teorimu masuk akal juga, “…karena aliran darah lebih lancar dan penyebaran kanker jadi lebih cepat”, khususnya pada kanker stadium lanjut yang menyebar melalui aliran darah (ditandai dengan tes tumor marker yang positif).

Mirip dengan pendapat yang mengatakan bahwa tindakan biopsi dan operasi (yang tidak dilanjutkan dengan pengobatan lain seperti kemoterapi/radioterapi) akan membuat sel kanker lebih ganas dan lebih cepat menyebar. Ada dokter yang mengakui hal ini, tapi kebanyakan membantahnya habis-habisan.

Padahal yang kita pelajari dari ilmu biologi di sekolah, saat tubuh kita terluka maka lebih banyak darah yang dikirim ke sana untuk mempercepat penyembuhan luka tersebut. Ironisnya pada kanker, kanker lebih rakus menyerap darah dan lebih pandai membuat jaringan darah baru. Maka sebelum sel yang sehat pulih, sel kankernya udah gemuk duluan. :(

mygif
Ani menanggapi pada tanggal September 26th, 2008 jam 12:41 pm

Hiii Junita & Mba Titah juga…

Boleh dong ikutan…soal pijat memijat, itu hobby sampingan yang menyenangkan he-he-he…
Saya tidak ngerti alasan ilmiah soal larangan pijat, tapi yang diwanti-wanti sama tukang pijat masa kecil saya, kalo’ bisa jangan pijat di siang hari, katanya darah kita bekerja maksimal di siang hari, jadi sebaiknya kalo pijat pada saat darah kita juga sedang relaks, tidak sedang kerja keras. Saya gak ngerti ini benar atau tidak….he-he-he

Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)

 Nama (*wajib diisi)

 Alamat Email (*dirahasiakan)

 Website (*optional)