Dua minggu lamanya saya tidak sempat online, tidak sempat menengok Rumah Kanker dan blog ini, sejak menjelang akhir November sampai hari ini. Tapi aktivitas saya tetap berkutat pada kanker, yaitu merawat dan mendampingi ibu mertua yang menderita kanker kolorektal selama hari-hari akhirnya, menit-menit terakhirnya, bahkan hingga detik terakhirnya. Sesudah beliau berpulang pada 28 November 2007 pukul 14.10, saya ikut memandikan jenasahnya, menyolatkan, dan mengantarnya hingga ke pemakaman.
Selesai? Belum. Karena keluarga yang ditinggalkan juga perlu didampingi. Walaupun jauh-jauh hari kami sudah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan ini, perasaan kehilangan tetaplah nyata adanya.
Demikianlah saya tetap tinggal di sana, di sebuah desa kecil di pelosok kabupaten Pacitan, Jawa Timur –yang tidak terjangkau oleh internet– bersama suami, ayah mertua, adik-adik ipar, anak, dan para keponakan, hingga tujuh hari setelah berpulangnya ibu. Saling mendekatkan diri, berbagi kesedihan, saling menguatkan, bertukar pikiran tentang “nasib” ayah mertua yang tinggal sebatang kara (terlebih karena ketujuh putra-putrinya tinggal di kota/pulau yang berbeda-beda), setiap hari berdoa bersama untuk ibu, dan banyak lagi yang lainnya.
Kini, setelah melewati hampir lima tahun yang melelahkan dalam perjuangannya melawan kanker, akhirnya ibu pun pulang kepada Sang Pencipta. Ada sedikit rasa sedih, tetapi kami ikhlas, karena meyakini takdir ini adalah yang terbaik bagi ibu dan kami sekeluarga. Insya Allah, derita panjangnya dalam kanker membuat kesalahan-kesalahan ibu diampuni Allah. Sekarang ibu telah tenteram dalam pelukan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang akan memelihara dan membahagiakan ibu lebihhhhhh dari yang dapat kami lakukan.
Selamat jalan, ibu….


Cerita Sejenis:
Belum ada yang menanggapi
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)