
Pagi tadi saya bersama kawan-kawan relawan dan dokter Puskesmas Balongsari Surabaya, datang ke acara Palliative Patient & Family Gathering yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo – FK Unair. Acaranya diadakan di ruang Widyaloka, lantai 2 RSU Dr. Soetomo. Sejak di ujung bawah tangga hingga di ujung atas dan masuk ke dalam ruangan, kehadiran kami disambut hangat kawan-kawan relawan dan dokter-dokter paliatif RSU Dr. Soetomo. Itulah yang khas pada mereka sejak dulu. Kehangatan, keramahan, dan sikap penuh perhatian pada siapa pun yang datang.
Ruangan yang sangat dingin segera berubah hangat begitu acara dibuka dengan dua buah lagu oleh duet penyanyi Prof. dr. Boediwarsono, SpPD, KHOM, PGD, Pall Med (ECU) –aduh, capek nulis gelarnya– dan Dr. Wiwiek Indriyani M., SpPD. Setelah diseling beberapa sambutan yang “tidak penting” dan pembukaan (yang tidak kalah tidak pentingnya) oleh Wakil Direktur RSU yang sekaligus Ketua Pusat Pengembangan Paliatif Dr. Urip Murtedjo, SpBKL, PGD, Pall Med (ECU), acara penting yang sebenarnya dimulai.
Acara penting yang sebenarnya itu bersenang-senang! Bersenang-senang? Penting? Tentu! Bagi penderita kanker dan keluarganya, bersenang-senang adalah sesuatu yang mewah, sesuatu yang seringkali sulit dilakukan, karena beratnya tekanan yang dialami. Kesedihan, ketakutan, penderitaan, ketidakpastian, kekurangan biaya, kehabisan waktu/tenaga, dan berbagai tekanan mental lainnya mengurung hari demi hari, bulan demi bulan. Kegiatan bersenang-senang menjadi seperti oase di padang pasir yang sangat penting dan menyegarkan.
Diawali oleh Prof. Budi dengan mengajak menyanyi dan berjoget bersama (ahli kemoterapi yang kocak ini tidak tahan kalau tidak menyanyi satu jam saja), dengan iming-iming hadiah angpau bagi yang paling heboh jogetnya, seluruh peserta yang berjumlah sekitar 70 orang serta-merta bernyanyi, bertepuk tangan, dan berjoget ria. Dokter, relawan, pasien, keluarga pasien, anak asuh, semuanya membaur dalam kegembiraan.
Suasana hangat dan segar disambung dengan sharing pengalaman Ny. Lely Firdaus, penderita kanker paru yang telah bermetastase ke otak. Guru senam yang cantik, juga trainer healing & leadership ini tampil segar memukau, tak tampak sedikitpun jejak kanker stadium 4 yang diderita. Kuncinya adalah kepercayaan penuh pada Tuhan, bahwa semua (ujian) yang Tuhan berikan indah adanya, bahwa Allah sedang merenda karya yang agung mulia dalam hidupnya melalui kanker yang diidapnya. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penyesalan. Tidak ada ketakutan.
Diseling dengan beberapa kuis berhadiah suvenir dan tali asih yang dibawakan Dr. Agus Ali Fauzi, PGD, Pall Med (ECU), acara dilanjutkan dengan dialog interaktif antara penderita dan para dokter. Dr. Agustina Koginan, SpKJ memandu para penderita atau keluarganya mengeluarkan uneg-uneg seputar pelayanan yang diterima, berkeluh-kesah, atau melemparkan puja-puji. Walaupun namanya dialog interaktif –dan isinya memang dialog serius– celetukan Prof. “Tukul” Boediwarsono di sana-sini dan para pasien yang bersikap interaktif dengan guyonan Prof. Budi membuat acara ini tak ubahnya acara Empat Mata di TV Trans 7. Semua ketawa terussss….
Pak Sutrisno, salah seorang keluarga penderita yang sedang melemparkan uneg-unegnya, dipanggil Prof. Budi ke depan. Dilepasnya jas putih dokter dan diberikan pada Pak Sutrisno. Pak Sutrisno disuruh berperan sebagai dokter, dengan Dr. Susi Ernawati, PGD, Pall Med (ECU) sebagai pasiennya. Lagi-lagi tukar peran yang kocak bak tampilan grup lawak…
Setelah dialog interaktif bubar, kembali acaranya adu pintar menjawab berbagai kuis, baik berhadiah suvenir maupun “amplop”, juga bersama menyanyikan beberapa lagu. Sudah tentu tak ketinggalan “lagu wajib” You Raise Me Up-nya Josh Grobhan.
Eh… masih belum habis juga kegiatan menggembirakan penderita kanker ini. Mereka dipanggil satu persatu ke depan untuk menerima berbagai tali asih. Demikian juga para anak asuh, anak-anak para penderita dan almarhum penderita kanker, mendapat tali asih tas sekolah dan berbagai barang lain.

Sebagian penderita kanker berfoto bersama Wakil Direktur RSU Dr. Soetomo Surabaya Dr. Urip Murtedjo, SpBKL, PGD, Pall Med (ECU) (paling kiri) usai menerima tali asih. (foto: Indrarini Puspasari)
Usai tali asih dan makan siang dibagikan, acara ditutup dengan foto bersama, salaman, serta pamitan penuh haru dan kebahagiaan. Ah, sayangnya acara seindah ini hanya diselenggarakan setahun sekali. Coba bisa sebulan sekali, atau seminggu sekali…. Anda mau menjadi sponsor?


Cerita Sejenis:
Sudah 4 sahabat yang menanggapi
Wah Baguslah Menurut artikle yang pernah saya baca kalau orang terkena kanker semakin sedih atau gelisah terus perkembangan kankernya semakin cepat. Tapi kalau orangnya Happy saja Kanker berkembang lamban
yang seperti ini,di Jakarta ada gak Mbak Titah ?
Ada, silakan hadir di pertemuan CISC (Cancer Information and Support Center) setiap hari Jumat 2 minggu sekali. Jumat kedua di Jl. Imam Bonjol 51, Menteng, Jumat keempat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, jam 16.30-18.30.
tidak cukup hanya happy harus punya solusi bkn hanya mencegah tp jg hrus bs mengobati…sepengetahuan saya ktika sang pencipta menurunkan obat maka diturunkan jg penyakit sesudahnya maka apapun penyakitnya maka sudah ada obatnya dan Alhamdulillah saya sudah mengetahui obatnya bahkan untuk HIV sekalipun…
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)