Halo ibu Titah Rahayu,
Saya mempunyai adik sepupu lelaki berusia 15 thn yang sudah divonis dokter terkena kanker tulang dan usianya tinggal setahun lagi (begitu kata dokter). Pertanyaan saya ke ibu, bagaimana cara kami (keluarganya) memberitahu kepadanya apa yang dideritanya dan bagaimana cara memotivasinya. Sebelum dia terkena kanker tulang dia merupakan anak yang sangat aktif, mandiri, tidak pernah bisa diam, bahkan dia sudah bisa menyetir mobil sendiri. Kini dia hanya bisa tergolek di tempat tidur, kadang2 menangis sendiri.
Mohon bantuan sahabat-sahabat rumah kanker agar kami bisa menaikkan moralnya lagi. Oh ya, ibu saya juga terkena kanker, leukimia, dan hanya mampu bertahan sekitar 6 bulan. Mei 2007 lalu beliau berpulang ke hadirat Ilahi.
Terima kasih atas bantuannya.
Salam,
Nashuha

Cerita Sejenis:
Sudah 4 sahabat yang menanggapi
Dear Nashuha,
Jangan pernah percaya pada vonis dokter tentang sisa usia seseorang, karena hidup-mati bukan dokter yang menentukan, melainkan Allah Ta’ala. Doker tersebut mungkin bermaksud baik dengan memberitahukan kondisi yang sebenarnya (menurut teori medis) agar keluarga dan penderita dapat “bersiap-siap”, sayangnya hal itu sekaligus berarti menutup diri terhadap adanya upaya-upaya lain. Saran saya, tinggalkan dokter yang mengatakan sisa umur adik sepupu anda tinggal setahun lagi itu, dan carilah dokter atau praktisi kesehatan lain yang dapat mengatakan “masih ada harapan”.
Tentang cara mengatakannya pada sepupu anda, terlebih dahulu persiapkan situasi yang mendukung. Pilihlah waktu yang tepat, suasana yang tenang (matikan HP anda), dan ajaklah orang yang terdekat di hatinya untuk bersama-sama menyampaikan hal ini dengan tenang dan tidak terburu-buru. Mulailah dengan bicara hal-hal yang umum, menanyakan keadaannya saat itu, perasaannya, baru kemudian mengarah kepada apa yang diketahuinya tentang sakitnya. Dari situ anda bisa “masuk” dan mengatakan bahwa sebenarnya dia menderita kanker tulang. Ingat, katakan dengan tenang, dengan tatap mata dan sikap penuh empati, di mana perlu berikan sentuhan yang tepat (genggaman tangan, pelukan, dll).
Berikan kesempatan padanya untuk merespon kata-kata anda. Jika dia diam, berikan waktu sejenak untuk kediaman itu. Jika dia merespon dengan kata-kata atau tangisan, berikan juga kesempatan untuk mengeluarkan uneg-unegnya atau menangis. Dalam situasi ini anda dituntut untuk peka merespon kebutuhannya. Berikan dukungan yang dibutuhkannya, dan katakan bahwa seluruh keluarga akan tetap mendukungnya dan berusaha memberikan yang terbaik baginya.
Jika ia menanyakan sesuatu, seyogyanya dijawab dengan jujur. TETAPI jangan katakan ramalan dokter tentang usianya yang tinggal setahun lagi itu! Kalau ia bertanya tentang kematian, jawablah bahwa kematian itu rahasia Allah. Banyak orang sakit kanker yang berhasil sembuh dan panjang umur, sebaliknya banyak juga orang yang tadinya tampak sehat walafiat tiba-tiba mati karena kecelakaan, serangan jantung, dll.
Setelah dia bisa mencerna dan menerima informasi anda, untuk saat-saat selanjutnya ajaklah dia untuk bersama-sama melakukan hal-hal yang masih bisa dinikmati. Mungkin dia suka main/mendengarkan musik, main game, berdiskusi tentang sesuatu yang pernah disukainya, dsb. Kalau masih memungkinkan, bimbinglah dia untuk tetap mempelajari pelajaran sekolahnya. Intinya, buatlah dia tetap merasa PUNYA ARTI.
Oh ya, dia dan seluruh keluarganya perlu membaca buku “Melawan Kanker” tulisan Anne E. Frahm dan David J. Frahm. Cari di toko buku sampai dapat, karena buku itu memberikan motivasi yang sangat kuat! (Lebih baik lagi kalau anda sudah mendapatkan buku itu sebelum mengajak bicara sepupu anda.) Kalau tidak, anda bisa membacanya secara online di link yang tercantum di sidebar (Strategi Melawan Kanker). Dan, tentu, lanjutkan perjuangan untuk mendapatkan kesembuhan. Sampaikan salam dan pelukku untuk sepupu anda ya Nas…
Hai Nashuha…..
Saya sangat setuju dengan pendapat Mba Titah. TINGGALKAN dokter yang memberikan hitungan hari untuk kita. Itu MUTLAK milik TUHAN. Saya dulu divonis 3 bulan kanker saya akan menyebar ke seluruh tubuh dan si dokter mengacungkan jempolnya ke bawah. Artinya apa? yang pasti MENYAKITKAN buat saya. Ini terjadi pada bulan maret 2006. Dan ternyata Tuhan memiliki rencana yang berbeda untuk saya hingga saat ini.
Untuk menyampaikan kondisi sebenarnya saya sepakat dengan Mba Titah. So…kalau posisi di Jakarta mungkin bisa kontak Yayasan Onkologi Anak Indonesia telp. 021-5681612/5681570 email yaoi_sekretariat@yahoo.com. Banyak teman-teman relawan di sana yang mungkin bisa diajak sharing bagaimana mengatasi kondisi anak-anak yang drop secara mental karena kanker. Saudara dan teman dekat akan sangat membantu pemulihan mentalnya.
Do’a kami menyertai….
Dear Nashuha,
Saran dari mbak Titah yang sangat mendetail sudah bagus,saran saya yang lain carilah support grup kanker di kota anda,disana akan ditemui relawan yang bersedia membantu anda dan bersedia mendampingi sepupu anda.
Sayang anda tidak mencantumkan kota anda,bila anda di bandung bisa hubungi BCS_BANDUNG@yahoo.com,atau kirimkan alamat lengkap anda kealamat email tersebut,ada yang bisa saya bagikan kepada anda.
Yang penting minta kekuatan dari Tuhan,salam.
hi nashuha
percayalah bahwa masih ada harapan untuk dia
walaupun dia tak bisa aktif lagi, buatlah dia nyaman seperti biasa, walau dia tergolek dirumah sakit, jangan menunjukkan muka sedih atu simpati
beri dia pengharapan bahwa masih banyak orang diluar sana yang nasibnya sama buruknya bahkan lebih buruk daripada dia, saya setuju sama mbak titah dan saudara saudara yang lain, manusia hanya bisa memprediksi, tuhanlah yang menentukan umur kita yang pasti. manusia tidak sempurna, semua orang pasti punya sakit penyakit, penderitaan, kesalahan, dan akhir paling nyata yang semua orang pasti merasakannya adalah kematian, jika anda dan adik sepupu anda orang religius, percayalah bahwa setelah kematian bukanlah akhir, tetapi awal sebuah jalan kehidupan yang belum pernah orang tahu dan telusuri
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)