Sebuah perbincangan ringan terjadi pada saat saya mengantarkan Awan les piano di sebuah sekolah musik yang terletak di wilayah Jakarta Selatan. Sederhana sekali. Saya duduk di ruang tunggu dan berbincang dengan teman yang dia juga orang tua murid yang sama-sama sedang menunggu anaknya.
”Awan punya adik?” begitu pertanyaannya.
Saya jawab, ”Belum.”
”Kenapa? Kasihan lho Jeng kalo sendirian….”
Saya jawab lagi ” Saya belum boleh hamil dulu sama dokter.”
Perbincangan itu pun terus berlanjut, ”Apa sebabnya?”
”Saya pernah menderita kanker Ibu…. dan sekarang ini masih dalam tahap remisi.”
”Ya ampunnnn…. tapi kok sehat sih!!!” (ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat terkejut). Dia pun melanjutkan pembicaraannya, ”Ada sepupu saya belum lama ini meninggal. Padahal baru sebulan dia divonis kanker. Stadiumnya juga masih awal. Dia selalu merasa bahwa hidupnya memang akan segera berakhir. Merasa dirinya bergelimang dosa. Bahkan dia berpikir bahwa kanker adalah kutukan Tuhan untuknya. Dia stress berat ketika dia tahu dirinya mengidap kanker. Menutup diri dan bahkan sering kali mengunci diri di kamar. Jangankan berobat, makanpun dia tidak mau dan seringkali marah serta histeris. Perangainya berubah. Saya sangat sedih melihatnya, tapi sulit sekali untuk komunikasi dengannya. Sungguh berbeda dengan Jeng Ani….. aduh maaf ya Jeng aku nyerocos aja dari tadi. Saya surprise banget melihat penderita kanker kok sehat begini…… saya do’akan Jeng Ani tetap sehat….. aminnnn.”
Cerita di atas adalah nyata dan ada di sekitar kita. Mungkin masih banyak cerita-cerita lain yang serupa dengan itu. Saya hanya ingin menggarisbawahi sedikit. Betapa mengerikannya kanker. Betapa jahatnya penyakit ini. Vonis yang baru saja di dengar oleh seseorang bahwa dirinya mengidap kanker ternyata sudah mampu membunuh jiwa dan raganya.
Tidak mudah menerima kehadiran tamu istimewa bernama kanker dalam diri seseorang, terlebih jika kita tidak tahu bahwa di sekitar kita ada banyak penderita kanker yang ternyata masih dapat hidup normal dan sangat mungkin kualitas hidupnya lebih baik. Mereka masih tetap berkarya dan berprestasi melebihi sebelum mereka menerima vonis kanker.
Di sinilah ”komunitas kanker” dibutuhkan. Di Jakarta dan Semarang telah ada organisasi nirlaba yang namanya CISC (Cancer information & Support Center), di Bandung ada Bandung Cancer Society, di Surabaya ada juga saya lupa namanya. Kami berkumpul saling bertukar cerita dan berbagi tips tentang strategi bergelut dengan kanker. Di sana tidak hanya ada penderita satu jenis kanker, tetapi juga berbagai macam jenis kanker mulai dari payudara, usus, rahim, otak, getah bening, leukemia, serviks, dan banyak yang lainnya. Sebagian dari kami adalah “survivor” dan sebagian lainnya adalah penderita yang masih dalam proses menjalani pengobatan konvensional beserta keluarganya yang mendampingi dan para relawan yang bergabung disana.
Dan yang lebih menarik lagi, kami tidak hanya berbincang-bincang soal kanker, tapi kami juga menyanyi, karaoke, rekreasi, berdiskusi tentang banyak hal dan juga mendengarkan ceramah dari dokter onkology serta berbagi beban persoalan pribadi. Di komunitas ini jelas terlihat bahwa kita tidak sendiri menderita kanker. Informasi yang mengalir dan saya terima membuat saya semakin kuat menembus kemenangan melawan kanker.
Rasa syukur yang luar biasa bahwa dengan bergabung di support group saya menemukan banyak pelajaran berharga yang tidak dapat diperoleh di sekolah mana pun. Sesekali rasa prihatin dan sedih timbul tenggelam dalam diri saya ketika mendengarkan teman di support group yang kondisinya memburuk atau lebih parah dari saya. Tapi lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dengan kondisi tersebut dan berubah menjadi amunisi yang cukup canggih “bahwa saya lebih baik, berarti prosentase untuk sembuh pun lebih besar.”
Tidak ada alasan untuk tidak bergabung di support group. Karena kami merasa bahwa berbicara dan diskusi banyak hal dengan orang yang mengalami langsung lebih memudahkan kita dibandingkan dengan orang lain yang tak mengerti tentang kanker.
Siti Aniroh


Cerita Sejenis:
Sudah 16 sahabat yang menanggapi
Jadi kesimpulannya: stres, menutup diri, dan putus asa membuat kanker semakin parah dan bahkan berakibat fatal ya?
Hahai ..
yang namanya penyakit ,,kalo kita merasa sakit ,,jadinya akan sakit ,,tapi kalo kita merasa gak sakit ,,jadinya juga gak akan sakit ..
yang terpenting adalah gimana sugesti kita buat sembuh ,,gimana semangat kita buat sembuh ..Allah menyukai orang-orang yang bersabar dan tawakal ..
bukan begitu ??
Adalah wajar bila pasien kanker menolak menerima kenyataan itu. Hal ini harus segera diatasi atau akan datang kelompok penyakit psikososial seperti mengurung diri dll. Mengatasinya akan mengurangi penderitaan, dan cara yang paling baik adalah curhat atau sharing baik dengan sesama pasien atau pun orang yang disayangi.
Hiii Bahar
Betuuuuullll sekali dan dalam perkembangannya sekarang penyintas kanker sudah selangkah lebih maju dalam banyak hal termasuk dalam “prestasi” tertentu melebihi teman-teman yang normal tanpa kanker. Perlu di tambahkan bahwa kami sekarang juga mulai meneriakkan “indonesia peduli kanker” agar orang-orang yang ada di lingkungan terdekat mau memberikan dukungan psikososial dan tidak memandang kami penyintas kanker dengan sebelah mata.
SETUJUU… TAPI PROBLEM SAYA, SAYA JADI SUKA LUPA HARUS JAGA MAKANAN KARENA MERASA SEHAT…SALAH KAN…
Hi Siti,
Bagaimana caranya agar bisa bergabung dengan komunitas kanker CISC tersebut?
Saya sendiri sejak tahun 2004 memiliki tumor otak di otak (cerebral) kanan, jenisnya meningioma. Alhamdulillah dengan menggunakan herbal,jaga pola makan, stimulans syaraf, reiki, ditambah zikir dan berserah diri kepada Allah SWT (tidak lupa selalu berolahraga) semua keluhan sakit sudah tidak ada, bahkan hasil MRI terakhir bentuk tumor mengecil dan berubah. Saya juga sering diminta curhat dan memberi motivasi kepada penderita kanker otak lainnya. Dari berbagai teman penderita yang saya temui, mereka yang berserah diri, terbuka dan memiliki semangat hidup bisa bertahan sampai hari ini, apapun jenis pengobatan yang mereka jalani. Ada yang telah di operasi beberapa kali, radiasi, kemoterapi maupun menggunakan herbal seperti saya.
Dengan bertemu orang2 yang senasib, saling curhat, saling mengingatkan dan mendoakan maka semangat kita terpompa terus sehingga kita tetap sehat. Oleh karena itu saya berminat sekali untuk bergabung dengan support group nya mbak Siti.
Mbak Siti…boleh tau alamat Support Group yg di Jakarta…saya ingin bergabung…saya juga penderita kanker hati…
Terima Kasih mbak infonya…
Dear All
@Anonymous
Gak ada yang salah soal makanan….itu manusiawi. Coba diterapkan kesadaran dari diri sendiri, jika merasa sudah makan sembarangan buru-buru detoks alami dengan memperbanyak SABU alias sayur dan buah.
@Yeyet & Anita
CISC (Cancer Information & Support Center)
Komplek Permata Kebon Jeruk D-2
Jl. Kebon Jeruk Raya No.9, Jakarta
Telp.021-5328149 Fax.021-5328150
Email:cancerclubcisc@gmail.com
Contact Person
Sri : 081388802009
Ester : 08158749700
Yuniko : 0816822868
Kami punya agenda rutin pertemuan mingguan dan 2 mingguan. Silahkan kontak kami, dengan senang hati kami terbuka untuk sharing dan berbagi cerita.
Mbak Yeyet, saya ingin info dan saran mbak mengenai pengobatan menggunakan herbal,jaga pola makan, stimulans syaraf, reiki, zikir dan berserah diri kepada Allah SWT, dan berolahraga. Saya kanker payudara, saat ini tidak menjalani pengobatan konvensional.
Hiii Lola, mungkin saya bisa membantu sedikit sambil Lola menunggu jawaban Mba Yeyet. Langkah pertama sebelum memulai pengobatan (apapun) adalah menerima dan memaafkan diri sendiri.Ini langkah awal untuk menghindari stress yang berikutnya. Herbal menjadi pilihan masing-masing orang (mungkin berbeda-beda)silahkan pilih yang paling nyaman atau setidaknya pilih ahli herbal yang cukup berpengalaman dan bertanggung jawab. Untuk olah raga, saya sarankan yoga atau silahkan pilih olahraga apapun, tetapi konsisten dan rajin ya… atau jalan kaki di taman setiap pagi sekitar 30 menit juga bagus. Untuk makanan…hindari makanan yang mengandung “lemak & gula”.Ganti minyak goreng dengan minyak Zaitun atau Canola. Jika terasa mahal ya…lebih baik jika tidak makan gorengan. Sesekali boleh makan ayam kampung jika lola suka daging, tapi untuk gula sintetis saya sarankan untuk diganti dengan madu atau gula aren. Susu kedelai juga bagus (lebih bagus lagi jika bikin sendiri). Oh iya lupa…hindari juga masak pake teflon ya…karena jika teflon yang kita pakai ternyata telah luka atau tergores, itu bahaya sekali lho untuk kesehatan. Jika lola seorang muslim, sebelum menemukan dzikir tertentu, alangkah baiknya mulai sekarang mencintai al Qur’an, membiasakan diri dialog sama Allah. Al Qur’an sendiri punya nama lain As Syifa
bat. Oke Lola…silahkan mencoba.
Terimakasih mbak Ani atas advisnya. Saya sekarang sedang bingung antara beralih ke pengobatan konvensional atau meneruskan pengobatan non konv seperti yg tlh saya jalankan selama 5 bulan ini. Kemarin saya USG dan bone-scan hasilnya: kanker tdk membesar ( 2×1 cm) dan tidak ada penyebaran ke getah bening, tulang, paru2,lever dll, atau statusnya sama seperti 5 bln lalu. Selama 5 bln itu sy mengkonsumsi obat herbal & berbagai terapi lainnya (incl atur pola makan, vegetarian, yoga) dibawah pengawasan dokter holistik. Sy ingin ke konv dg pertimbangan biaya diganti perusahaan..sedang yg non konv tidak, padahal itu berlangsung seumur hidup dan ckp mahal utk ukuran saya. Utk pengobatan konvensional sy sdh menemukan dokter ongkologi yg saya rasa sreg, tapi saya masih takut bila dioperasi kanker malah menyebar atau efek kemo yg dpt merusak organ2 & imunitas. Teman2 menyarankan istikharah… Bolehkan saya minta saran mbak Ani berdasarkan pengalaman mbak Ani atau teman2 penyintas kanker lainnya. Masukan mbak Ani & teman2 akan sangat bermanfaat bagi saya. Terimakasih
Dear Lola….
Saran teman-teman untuk istikharah memang benar, minta petunjuk Sang pencipta. Saran saya…jika ingin ke konvensional ya mesti dihilangkan dulu ketakutannya agar tidak timbul keraguan lagi dan penyesalan di tengah jalan. Lola juga mesti tahu konsekwensi panjang dari setiap pengobatan apapun yang akan di tempuh. Saya menempuh 4x kemo, mastektomi dan 6x kemo lagi. Ini berat sekali, tapi keputusan itu saya ambil secara sadar, karenanya meskipun babak belur saya terima saja he-he-he…Mungkin itu bisa dijadikan pertimbangan buat Lola. Jika ingin diskusi secara pribadi silahkan kontak saya di ani@solusimedia.co.id
Mbak Ani untuk alamat CISC Yogyakarta di mana dan contact person mbak Ani. Aq penderita kanker payudara dan sudah metasik ke tulang. Sekarang ini sudah pengobatan 6 x kemo, 6 x zometa, 30 x bonefos n 50 x radiasi. Pengangkatan payudara sudah setahun lalu, rutin tiap hari minum tamoxen n hibone. Aq mau tanya gimana kita bisa tahu penyebaran kanker k tulang n tubuh kita gak ada lagi. Tq
@Dear Wulan…
Bisa kontak saya di 081289249434 atau 08129926719. Di Yogya saya belum menemukan tempat yang permanen. Insya Allah secepatnya ya, amin.
Salah satu cara mengetahui bisa dengan MRI atau juga BONE SCAN. Dulu ketahuannya metastase ke Tulang bagaimana dokter memeriksanya? Tetap semangat ya Wulan….di Yogya tinggalnya di mana?
Wulan bisa email ke ani@solusimedia.co.id atau aniroh.siti@gmail.com
Salam,
Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, manusia hidup karena kasih sayangNYA juga, karena Allah juga mengijinkan kanker ada dalam tubuh, sabar dan tawakal mnerima pemberian ini, tetapi berusaha terus, karena usaha itu Allah akan merubahkan keadaan.
Mba Ani, saudara saya baru saja diangkat usus-nya sepanjang 40 cm, karena tumor, dokter memberitahukan harus terapi Kemo, ada kekhawatiran saya dengan Kemo, dua orang istri teman dan atasan saya dikantor meninggal sedang menjalani Kemo.
Pertanyaanya, seberapa besar keberhasilan Kemo, apakah Kemo jalan terakhir, adakah alternatif terapi yang lebih aman, herbal, ramuan atau lainya.
Semoga Allah membalas kebaikan Mba Ani berlipat….amin.
Salam
Dear Diki,
Saya boleh ikut menjawab ya. Kondisi saudara anda pasti tidak sama dengan kondisi istri teman atau atasan anda, juga pola hidup dan kondisi psikologisnya, jadi responsnya terhadap kemo belum tentu sama juga. Yang jelas ada tangan Tuhan di balik setiap peristiwa yang terjadi. Dan kematian telah ditetapkan waktunya untuk kita masing-masing, ada kemo atau tidak.
Ada orang yang gagal dengan kemonya, banyak juga yang berhasil. Kalau saudara anda hendak menjalani kemo, silakan dijalani dengan “bismillah” dan “laa haula walaa kuwwata ila billah”, mantapkan hati, jalani dengan lapang dan bantulah dengan pola makan yang baik, kondisi psikologis & spiritual yg baik, insya Allah hasilnya juga baik.
Tentang herbal, ramuan, dsb saya pribadi berpendapat memang ada manfaatnya. Tapi saya tidak berani mengatakan mana yang lebih baik, lebih aman, itu tergantung terapi apa yg anda pilih dan di mana anda melakukan terapi. Apalagi untuk terapi herbal di negara kita kan belum ada penanggung jawabnya secara resmi. Lebih baik anda menggabungkan terapi medis dengan herbal, tapi kombinasinya harus dilakukan dengan cermat.
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)