Cerita Sejenis:

Sudah 13 sahabat yang menanggapi

Subscribe ke thread ini: comment rss or trackback url
mygif
Ani menanggapi pada tanggal November 16th, 2008 jam 7:11 pm

Hiiii Mba Titah, mudah-mudahan komentar saya tidak menjerumuskan orang.
Jika ada yang berpendapat bahwa ini irrasional, kenyataannya teori ini muncul berdasarkan suatu penelitian yang rasional. Begitu sebaliknya. Untuk menjadi rasional kita perlu mempercayai hal-hal yang irrasional.
Kita tahu bahwa kanker sangat unik dan karakteristik untuk setiap pasien. Banyak pendapat ahli yang mengatakan bahwa kanker belum diketahui penyebab pastinya. So…untuk masalah ilegal atau legal sebenarnya kembali pada pilihan masing-masing aturan yang melegalkan atau tidak, dan ini sangat subyektif untuk tiap-tiap negara karena berkaitan dengan kebijakan politik masing-masing negara.
Jika saya ditanya pendapat saya tentang penemuan Dr. Ryke Geerd Hamer, jawaban saya sederhana : “Ini adalah sebuah referensi yang cukup bagus. Kalaupun seseorang mau mengikuti atau tidak itu adalah sebuah pilihan, dimana setiap pilihan selalu ada konsekwensi yang harus diterima. So…kita harus siap dengan konsekwensi itu.”

mygif
ratih devi menanggapi pada tanggal November 17th, 2008 jam 3:48 pm

Hi! Mbak Titah, saya mau ikutan komentar ya, mudah-mudahan tidak keliru!. Saya setuju dengan pendapat mbak Ani. penemuan Dr. Ryke Geerd Hamer adalah referensi yang bagus. Mengingat penemuan tsb terkesan iirasional (bagi sebagian orang), ada kemungkinan solusi yang akan dipilih juga agak terkesan irrasional (bagi sebagian orang lain). Walau pun sesungguhnya perkara rasional atau irrasional tergantung paradigma yang digunakan. Apabila memiliki pengetahuan mengenai hal yang dipilih, tentunya akan timbul keyakinan, timbulnya keyakinan merupakan modal. Apabila tidak ada modal keyakinan mengenai sebuah pilihan, apa pun pilihannya, biasanya hasilnya tidak akan optimal, atau bahkan tidak berhasil. Setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Karena sudah membekali diri dengan pengetahuan sebelum menentukan pilihan (bahkan telah melakukan riset kecil2an) tentu lebih memahami konsekuensi yang akan diterima dengan penuh keyakinan, sehingga timbul rasa optimis yang akan menimbulkan hal yang positif pula. Maka adakalanya solusi yang (dianggap) irrasional yang telah dibuktikan secara empiris dapat berhasil, adakalanya menjadi pilihan.

mygif
Titah menanggapi pada tanggal November 17th, 2008 jam 4:04 pm

@ Ani
Hi Ani, saya berharap penemuan Dr. Ryke ini benar adanya, supaya kita semua punya semakin banyak pilihan untuk menyembuhkan kanker. Soal legal atau ilegal, ya… memang itu soal politis. Mungkin terkait kebijakan/kepentingan politik, mungkin juga terkait kepentingan bisnis. Who knows?

@ ratih devi
Betul, keyakinan adalah modal yang sangat penting. Orang pintar bilang, “You are what you think.” Bagi saya pribadi, apa sih ukuran rasionalitas? Akal manusia? Seberapa sedikitkah daya tampung otak dan akal manusia dibanding Ilmu Allah Yang Maha Luas? Saya memilih berpikiran terbuka saja. Setiap orang bisa benar dan bisa salah kan Mbak…

mygif
baharazwar menanggapi pada tanggal November 17th, 2008 jam 10:08 pm

Titah, teori ini bagus cuma kanker itu terbentuknya bertahap. Umumnya dimulai dari exposure atas faktor penyebab, inisiasinya dimulai kira-kira umur 30 tahun dan baru dikenal di umur 50 tahun. Dibutuhkan waktu kira-kira 5 tahun untuk menjadi 1 cm kanker payudara yang mengandung 1 triliun sel. Pembelahan selnya 1 menjadi 2 berlangsung selama 3 bulan. Maka timbul pertanyaan saya, apakah kanker suami istri ini sudah mulai di usia muda, jauh sebelum anak mereka meninggal?

mygif
Dr. Agustina Konginan, SpKJ menanggapi pada tanggal November 18th, 2008 jam 8:25 am

Menurut yang saya ketahui, teori yang dikemukakan Dr. Ryke Geerd Hamer tidak sepenuhnya benar namun juga tidak salah. Kita tahu teori-teori mengenai penyebab kanker sudah banyak dilontarkan, antara lain makanan yang bersifat carcinogenik, lingkungan, genetik, stress, dll. Faktor stress ini sudah banyak diteliti dan beberapa pakar menemukan kaitan antara stress dengan kanker. Dari pengalaman saya mendampingi pasien kanker (belum diteliti) hampir sebagian besar mengatakan pernah mengalami masalah yang berat sehingga stress berat beberapa bulan / tahun sebelum menderita kanker. Oleh karena itu teori psikosomatis yang dikemukakan oleh Dr.Ryke masuk akal. Psikosomatik adalah gangguan pada somatik (fisik)yang disebabkan oleh faktor psikologis. contoh yang sederhana adalah stress yang menyebabkan asam lambung meningkat yang akhirnya bisa merusak mucosa lambung sehingga terjadi gastritis (sakit maag). Namun menurut saya walaupun faktor psikologis bisa menyebabkan munculnya kanker, namun faktor lainnya (bakat/life style)juga ikut berperan karena ada juga penderita kanker yang mengatakan hidupnya selama ini enjoy saja, juga anak-anak yang ceria tiba-tiba kena kanker. Demikian pula dengan penanganannya tidaklah cukup dengan psikoterapi saja, tetapi gangguan somatik (fisik)nya juga perlu diobati karena organnya yang sudah rusak. Penanganan kanker yang hanya fokus pada pengobatan fisiknya saja juga tidak betul karena faktor pemicunya masih ada, sehingga tidak jarang dijumpai seorang penderita kanker payudara yang sudah sembuh beberapa tahun kemudian menderita kanker rahim, dsb. Walaupun demikian, terlepas dari profesi saya seorang psikiater, teori dari Dr.Ryke ini membuka wawasan kita bahwa hendaknya yang diobati adalah pasiennya dengan seluruh permasalahannya dan bukan hanya penyakitnya.Semoga bermanfaat.

mygif
andre menanggapi pada tanggal November 19th, 2008 jam 1:48 pm

Menurut saya, kanker bersifat genetik dan pada saat seseorang divonis mengidap penyakit kanker maka akan mengalami stress yg berlebihan mungkin juga faktor stress yg berlebihan ini bisa mempercepat proses penyebaran kanker. Faktor psikologis ini tidak pernah terfikirkan oleh saya sampai saya membaca artikel ini. Alm. anak saya mengidap kanker pada usia 2,5 thn yg kesehariannya sangat ceria, dan menurut dokter penyebab utama nya adalah genetik, pada waktu tertentu anak saya kelihatan mengalami stress mungkin karena dia tidak leluasa bermain dikarenakan kesehatannya dan pantangan makanan dari dokter herbalis dgn alasan utk menghentikan asupan makanan sel kanker. mungkin faktor stress yg tidak saya perhatikan ini menjadi salah satu pemicu mempercepat pertumbuhan sel kanker.
Terima kasih.

In memory of Charlene
http://www.youtube.com/watch?v=nTx49h6HG6E

mygif
Ani menanggapi pada tanggal November 20th, 2008 jam 7:07 am

Hiii Mbakyu…

Ada buku bagus “What Your Doctor may Not Tell You about Breast Cancer” terbitan Warner Books, penulisnya John R. Lee, David Zova dan Virginia Hopkins. Di dalamnya juga bercerita hal-hal yang kontroversial tentang pengobatan konvensional khususnya pembedahan, kemoterapi dan radiasi untuk penanganan kanker payudara yang kaitannya sangat erat dengan masalah hormonal. Ini mungkin bisa dijadikan referensi pembanding (mendukung)teori Dr. Ryke Geerd Hamer

mygif
Titah menanggapi pada tanggal November 20th, 2008 jam 1:46 pm

@ baharazwar
Mungkin saja sel kanker dr. Ryke dan istrinya memang telah mulai tumbuh jauh sebelumnya, dalam case ini ia tidak tahu pasti karena dr. Ryke memulai penelitiannya SETELAH kejadian kanker yang ia dan istrinya alami.

Tetapi kan tidak semua sel kanker tumbuh selambat itu, Dok? Sekarang banyak anak-anak balita telah kena kanker. Dari pengalaman keluarga saya, ada yang sel kankernya tumbuh (kambuh) menjadi 15x11x11,5 cm dalam waktu 4 bulan saja…

@ Dr. Agustina Konginan, SpKJ
Thanks atas pendapatnya, Dokter. Saya setuju kalau Anda mengatakan kanker mempunyai banyak penyebab. Penyebab yang lain sudah banyak dibahas, kali ini dr. Ryke menemukan ternyata faktor psikologis bisa juga menjadi penyebab kanker. Bisa saja semuanya benar, dan yang terjadi adalah semua penyebab serta faktor pemicu itu saling “berkolaborasi” untuk memunculkan yang namanya kanker…

Tentang pengobatan, dr. Ryke memang menekankan pada psikoterapi, tapi kalau dirasa perlu juga melakukan pembedahan dan menggunakan beberapa jenis obat yang dalam jangka panjang tidak merusak tubuh.

@ andre
Ikut berduka atas kepergian Charlene, semoga Tuhan memberinya tempat yang terindah di sisi-Nya…

Stres yang dapat menyebabkan kanker, menurut dr. Ryke Geerd Hamer adalah stres yang dalam dan bersifat mendadak (tak terduga). Tidak selalu berupa sebuah “peristiwa besar”, tetapi sebuah pemandangan yang lewat sesaat atau sebuah kalimat tajam yang menusuk perasaan, kalau itu menimbulkan guncangan perasaan, sudah menyebabkan terbentuknya cincin Hamerschenherd, dan sejak saat itu pula organ tubuh yang berhubungan dengan otak di lokasi cincin Hamerschenherd bekerja tidak normal. Sayangnya anak sekecil Charlene belum mengerti dan belum dapat bercerita (seandainya benar ia pernah mengalami guncangan batin…)

@ Ani
Thanks infonya, mudah-mudahan saya ketemu buku itu di toko ya An…

mygif
Lola menanggapi pada tanggal December 7th, 2008 jam 11:06 pm

Mbak Titah, summary buku “What Your Doctor may Not Tell You about Breast Cancer” bisa dibaca di:
http://www.enotalone.com/article/3278.html.
Saya sependapat bahwa faktor psikologis bisa jadi pencetus percepatan perkembangan sel kanker, sehingga bagi beberapa orang terapi psikologis bisa efektif utk pengobatan. Tetapi
dalam menyikapi berbagai tulisan mengenai kanker, mungkin perlu juga hati2 karena sulit memastikan agenda/propaganda apa yg diusung oleh sipenulis sesuai kepentingannya. Hal ini bisa membuat bingung kita2 yg ketika terdiagnosa kanker saja sudah bingung.

mygif
Ani menanggapi pada tanggal December 9th, 2008 jam 2:20 pm

Hiii Lola
Benar memang, tapi saya rasa tidak semuanya harus kita telam mentah-mentah. Antara pengobatan konvensional (pembedahan, kemoterapi, radiasi, dll) dan pengobatan tradisional/alternatif atau selfhealing dsb.dsb. semuanya memiliki banyak kelebihan di samping ada kekurangannya. Tinggal bagaimana kita memilah dan memilih sesuai dengan kebutuhan kita, karena jika kita mau melakukan evaluasi atau perenungan, kita lama kelamaan akan sangat sensitif dengan bahasa tubuh kita sendiri. Memang Lola…terkadang ini membingungkan. Tapi berdasarkan pengalaman saya, semakin banyak referensi yang kita dapat, setidaknya itu merupakan sebuah bekal yang akan sangat bermanfaat pada saat kita menjalani pengobatan untuk kanker khususnya. Contohnya : Ketika dokter saya memutuskan tidak perlu radiasi, saya tanya, mengapa tidak perlu? Dokter menjelaskan panjang lebar tentang hal itu dan ketika saya kaitkan dengan beberapa referensi yang ada, ternyata benar adanya. So….banyak dokter yang pelit informasi, karenanya dengan bekal yang kita punya bisa kita jadikan referensi untuk berdiskusi dengan dokter dan kalo dokternya gak bisa diajak kompromi dengan pengetahuan kita (alias merasa paling benar) ya…kita mesti mikir 2x juga untuk berobat sama dia, jangan-jangan dia gak belajar he-he-he….Jadi…kita memang harus ekstra bijak dalam bersikap untuk menentukan pengobatan. Maaf ya Lola jika jawaban saya semakin membuat Lola bingung.

mygif
Titah menanggapi pada tanggal December 10th, 2008 jam 10:45 pm

@ Lola
Makasih atas linknya, Lola. Sudah saya baca dan saya save :)

Lola betul, banyaknya informasi mengenai kanker –terutama di internet yang kadang tidak jelas sumber maupun tendensinya– sering membuat kita bingung. Tapi seperti ditulis Ani, banyaknya referensi setidaknya bisa menjadi bekal kita saat menjalani pengobatan kanker. Karena kalau kita tidak paham “medan” malah makin bingung atau bahkan tidak tahu harus berbuat apa.

Saya benar-benar pernah mengalaminya. Saat ibu saya divonis kanker hati stadium 4 yang kata dokter umurnya tinggal 3 bulan lagi, ketika kondisinya makin payah (dan kami –ayah yang orang ndeso lugu dan anak2 yang seluruhnya masih sekolah– tidak tahu cara merawatnya) sempat ditolak saat minta rawat inap di sebuah rumah sakit karena “tidak ada harapan lagi”, ketidakmengertian membuat kami pasrah dan pasif, karena tidak tahu harus berbuat apa.

Kebingungan kedua terjadi ketika merawat ibu mertua yang terkena kanker usus dua tahun lalu. Saat itu kami mulai mengenal internet untuk mengumpulkan sedikit bekal pengetahuan, tapi masih belum cukup untuk menghadapi kompleksitas permasalahan yang menyertai hadirnya kanker. Sama sekali belum tahu kaitan kanker dengan kondisi psikologis, belum tahu bagaimana cara mendampingi pejuang kanker secara utuh/menyeluruh, dll. Saya butuh teman untuk berbagi, bertanya, dan berdiskusi tentang permasalahan itu, tapi tidak dapat saya temukan. Hal itulah yang mendorong saya untuk secara otodidak belajar lebih banyak tentang kanker dan membuat situs Rumah Kanker untuk saling berbagi…

Well, mungkin sebagian informasi yang tersaji di sini ada juga yang terpengaruh propaganda2 tertentu, tapi sebisanya saya mencoba bersikap netral. Setidaknya kita tahu ada pilihan-pilihan yang bisa kita pilih dan kita coba saat kita atau keluarga kita terkena kanker. Tidak hanya pasrah dan pasif menunggu nasib seperti ibu saya (ya Allah, ampunilah ibu, dan berilah ia tempat yang baik di sisi-Mu, amin…)

mygif
Adi Nugroho menanggapi pada tanggal February 12th, 2009 jam 1:21 am

Di dalam beberapa percobaan tentang stress yang menggunakan hewan sebagai obyek percobaannya, selalu ditemukan fakta yang menarik:

1. Hewan percobaan yang ditempatkan dalam
lingkungan yang stressful (penuh stress)
selalu menderita berbagai macam penyakit.
Sedangkan hewan yang ditempatkan dalam
lingkungan pembanding hanya sedikit atau tidak
menderita penyakit.
2. Salah satu penyakit yang sangat sering muncul
pada hewan yang diletakkan di lingkungan yang
stressful adalah…..kanker.

Berdasarkan data yang saya ketahui tersebut, saya cenderung untuk berpendapat bahwa teori tentang kanker yang dikemukakan oleh Dr. Ryke Geerd Hamer kemungkinan besar benar adanya, yaitu bahwa kanker, seperti halnya banyak penyakit lain, sebagian besar lebih disebabkan oleh trauma psikologis (stress)daripada oleh hal lain.

mygif
Titah menanggapi pada tanggal February 12th, 2009 jam 11:07 pm

Terima kasih masukannya, Adi :)

Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)

 Nama (*wajib diisi)

 Alamat Email (*dirahasiakan)

 Website (*optional)