Saya adalah salah satu penderita kanker paru stadium IV, penyakit tersebut baru saya ketahui pada Desember 2007. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba menggunakan herbal selama 1 bulan tapi hasilnya sia-sia. Pada bulan Feb 2008 saya memutuskan untuk menggunakan terapi medik. Pertama kali saya dikemo dengan menggunakan obat Navelbin, yang katanya efek obat tersebut sangat minimum, artinya tidak membuat mual, rambut rontok dsb. Efek tersebut memang tidak saya rasakan, tapi yang muncul adalah sepanjang saluran darah di tangan yang dilalui oleh obat tersebut sakit selama 2 minggu. Yang saya sayangkan dokter yang memberikan obat tersebut tidak dapat menerangkan dan mengobatinya. Akhirnya saya berhenti kemotrapi tsb.
Kemudian pengobatan kedua yang coba adalah kryotraphy di RS Gading Pluit, pengobatan ini tidak ada efek sampingnya tapi saya rasa para dokter belum paham betul cara menggunakan alat tsb dan berapa kali kryotraphy tsb harus dilakukan, dan biayanya sangat mahal. Setelah itu saya kembali oleh dokter dianjurkan untuk mencoba pengobatan oral yaitu menggunakan monoclonal antibody, salah satunya adalah Iressa, harganya cukup mahal 1 buah 700 ribu, satu hari 3 kali selama 1 bulan. Lagi2 menurut dokter ini tidak ada efek samping, paling2 hanya jerawat kecil2. Akhirnya saya coba obat tsb, pada hari ke-18 mulai efek mual2 muncul, setiap hari selalu muntah sampai badan saya lemas. Memang menurut literatur efek mual mungkin terjadi 20% dari keseluruhan pengguna. Yang saya sayangkan lagi2 dokter tidak bisa mengatasi dampak yang saya derita.
Dari pengalaman saya tersebut saya hanya ingin menceritakan bagaimana dokter2 kita hanya bisa menganjurkan menggunakan obat tetapi bila terjadi efek samping di luar dugaan, mereka semua angkat tangan. Padahal kalau kita teliti seperti Navelbin memang salah satu efek sampingnya adalah Velebtis walaupun persentasenya sangat kecil, demikian juga Iressa. Demikian pengalaman saya berobat selama 1 tahun ini, dan sampe saat ini saya masih survive walaupun berat badan turun terus.
Arlizar Rivai


Cerita Sejenis:
Sudah 15 sahabat yang menanggapi
jangan putus asa mas. selalu ada harapan dengan berdoa dan coba nikmati hidup apa adanya. syukuri apa yg sekarang ada. semoga rahmat Allah menyertai kita.
Dear Arlizar Rivai,
Respons tiap orang pada pengobatan tidak sama, baik efektivitas maupun efek sampingnya. Terlebih pada stadium IV yang kondisinya lebih kompleks. Karena itu evaluasi selalu dilakukan, apakah pengobatan yang diberikan direspons bagus (bisa dilanjutkan) atau tidak (sehingga perlu diganti). Biasanya evaluasi dilakukan setelah pengobatan dijalani pada kurun waktu tertentu; misalnya untuk obat herbal setelah 2-3 bulan, untuk kemoterapi setelah satu siklus (enam kali). Kalau sebelum waktu itu sudah dihentikan, tentu saja tujuan pengobatan tidak tercapai.
Pengobatan kanker memang cukup berat dalam segalanya, baik dari segi biaya, waktu, stamina, maupun secara psikologis. Menurut pengalaman sahabat2 yang sukses menaklukkan kanker, salah satu kuncinya adalah menjaga optimisme dan semangat untuk tetap berjuang walaupun efek samping yang dirasakan cukup berat. Selain itu juga mengkombinasikan pengobatan medis dengan upaya-upaya nonmedis.
Semoga Arlizar segera menemukan obat yang tepat dan sehat kembali ya…
tetap semangat ya mas. obat apapun kalau tidak disertai dengan semangat dan optimisme untuk menaklukkan penyakit kita, pasti akan sia-sia. seperti papa saya juga mengindap penyakit kanker stadium 4 di saluran empedu, meninggal karena efek samping dari kemoterapi. kisah selanjutnya simak di penderitaan papa melawan kanker di http://www.ellysurjati.blogspot.com thanks.
mungkin bisa dikombinasikan dgn 4life factor ini adalah immunorehabilitation yang dikembangkan sejak 50 thn lalu di rusia….dan juga tetap semangat terus untuk kesembuhan ya mas
PAk Arlizar,
Memang dokter2 disini mempunyai kecenderungan utk selalu menawarkan berbagai macam metode penyembuhan, tetapi mereka sendiri tidak bisa memberikan kita solusi ato saran yg terbaik utk para pasiennya. Sehingga membuat pasien mencoba semua metode dan tidak fokus, yang akan b’ujung dengan biaya. Tetapi dari pak Arlizar sendiri, bagaimana?sudah melakukan perubahan pola hidup yg lebih baik?seperti istirahat yang cukup ,stress, dan juga mungkin merokok. Karena byk para penderita yg karena mereka confused, membuat mereka tetap merokok.
DOa kami selalu menyertai bapak dan keluarga. Semoga berhasil dgn metode yg terbaik ya pak..dan fokus utk terus berobat.
Apakah anda ingin mencoba salah satu terapi herbal yang murah, aman (karena biasa digunakan sebagai makanan)dan disebutkan dalam buku terapi komplementer pada kanker khususnya untuk kanker paru dan kandung kemih.
Tanaman herbal yang saya maksudkan itu adalah daun pepaya yang konon mengandung acetogenin, salah satu zat kemoterapi yang poten tetapi masih dalam taraf penelitian.
Cara membuatnya: Beberapa helai daun pepaya dengan tangkainya direbus dalam dua liter air hingga tinggal satu liter. Air rebusan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam gelas atau botol kaca dan disimpan di lemari es selama 4 hari. Air rebusan yang keruh (karena fermentasi) dibuang. Air rebusan yang jernih digunakan sebagai obat dengan takaran 3 x 50 ml per hari.
(Cara pengobatan ini diceritakan oleh Harold W. Tietze dalam bukunya Papaya The Medicine Tree).
thanks resepnya ya, andry…
Pak Arlizar,
Saya tetap percaya bahwa masing-masing terapi (medis dan herbal) ada manfaat positifnya, hanya memang kadang kita dijerumuskan oleh OKNUM /orang-orang yang tidak prof dan menambah berat beban kita.
Kanker, bukan penyakit mudah.. tetapi bukan juga tidak dapat diatasi.
Saya percaya bahwa TUHAN setia… masalah berat seperti kanker,.. mungkin sesungguhnya solusinya sederhana. Alam kita mengandung kekayaan yang luar biasa dan manusia dikaruniakan Tuhan akal budi yang amazing.
Pak, bapak konsumsi Iressanya sehari 3 kali? berarti sehari 3 butir ya? Ayah saya juga menderita kanker paru stage 4 dan sudah menyebar ke tulang, skg beliau dianjurkan utk memakai iressa, dan hanya konsumsi 1 butir sehari, dan efek sampingnya hampir tidak ada, hanya badan pegal2. Untuk hasilnya, setelah konsumsi Iressa, hasil cek CEA turun dari 138 menjadi 59. Hasil CT-Scan menunjukkan ga ada pembesaran ukuran tumornya tetap seperti bulan lalu.
Pak Arlizar dan Bung Chong, obat Iressa dan semacamnya akan menimbulkan dampang samping yang serius bila dipakai dalam waktu panjang, yaitu kerusakan lever atau hati. Anda bisa brwosing di internet dan menemukan kasus2 kematian akibat pemakaian Iressa. Tolong berhati hati. Sebagai tambahanuntuk pak Arlizar, saya anjurkan untuk merubah pola hidup dan makan secara keseluruhan agar daya tahan tubuh anda meningkat dan bisa melawan penyakit ini. Pemakaian obat herbal cukup baik, tpi terutama bukan untuk “mengobati”, tetapi harus dilihat dari perbaikan kondisi tubuh secara keseluruhan. Bapak bisa baca artikel saya di “Rumah Kanker” yaitu Gerson Therapy, untuk sekedar tambahan informasi.
Mudah2an cepat sembuh pak.
dear Arlizar,
Coba ke DR Husen – RS Holistik Purwakarta… 2 minggu belakangan aku ke sana tuk ngobatin anakku yang kena teratoma. Alhamdulillah ada kemajuan. Pengobatan pure herbal n perubahan pola hidup/makan. Jd efek sampingnya malah positif banget. Moga bermanfaat…
Dear all,
saya juga penderita kanker paru stage iv sejak feb 2009, sejak itu saya diet makan, supolemen,sejak oct 2009,saya mulai gerson therapy dipantau oleh practitioner spore, tubuh saya baik, fungsi hati,gin jal,lambung dan selera makan ok, cuman bulan kmrn aku pet scan ulang dan tjadi spread ke kaki bg bawah,so tpaksa skrg lg radio,dan oleh dr omcolog diminta saya minum iressa 1 butir per hari…
dalam kasus saya, saya tetap akan ikutin saran dr untuk minum iresa, jg jg akan lanjutkan gerson terapynya buat immun dan metabolisme tubuh agar tetap baik…
Setuju dengan pilihan pengobatanmu Wen, maju terus, semoga responsnya baik ya! Salam dan doaku untukmu.
Bu Titah, Ayah sy terkena kaaker paru 2 tahun yang lalu stadiumnya 3, trus karena keterbatasan biaya kami berobat herbal pada seorang dokter , pernah mengalami perbaikan, tapi akhir akgir ini benjolan di parunya membesar 2 kalinya, sedangkan kami sudah mulai pusing dengan biayanya, dapatkah Ibu Titah memberikan perkiraan kasar berapa besar biaya yang diperlukan bila ayah saya perlu melakukan kemoterapi, terima kasih sebelumnya
dear agnes,
biaya kemoterapi variatif sekali tergantung obat apa yang diberikan. kadang obatnya tunggal, kadang dikombinasikan 2-3 macam oleh dokter. kisaran biayanya antara 2-15 juta sekali kemo (sekali lagi tergantung kombinasi obat dan kelas perawatannya). kalau tadinya pengobatan direspon baik lalu mendadak memburuk, coba dievaluasi adakah masalah pada kondisi kejiwaannya?
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)