<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Takut Kemoterapi</title>
	<atom:link href="http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/</link>
	<description>peduli, berbagi, saling mendampingi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 07:31:34 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: obat kanker</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-5971</link>
		<dc:creator>obat kanker</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 07:04:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-5971</guid>
		<description>percaya sama Tuhan..banyak doa,konsultasi sama dokter..tambahkan obat herbal</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>percaya sama Tuhan..banyak doa,konsultasi sama dokter..tambahkan obat herbal</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yoan</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-3174</link>
		<dc:creator>Yoan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 06:25:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-3174</guid>
		<description>Dear Friends,
Tante saya yang mengidap tumor ganas stadium 3B, akhirnya mengkonsumsi suplemment Tianshi. Ada 7 macam produk yg dia makan tiap hari: Nutrient High calsium, Cordyceps Mcelium capsules, Chitosan, Vigour rousing, Seabuckthorn, Beneficial, Antilipimic tea sesuai yg direkomendasi Tianshi.

Atas bantuan adik saya, dia juga mencoba menjalani Gerson Therapy dengan minum juice dan konsumsi sayur2an. Puji Tuhan sampai sekarang, tanteku mengalami perubahan, kami yakin itu karena berkat campur tangan TUHAN atas produk dan usaha tante dan adik saya.

Kami keluarga sangat mengharapkan apabila ada di antara teman2 yang pernah mengkonsumsi produk Tianshi untuk bisa membagi pengalaman anda sewaktu mengkonsumsi suplement Tianshi. Terima kasih atas perhatian dan bantuan teman2 sekalian.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Friends,<br />
Tante saya yang mengidap tumor ganas stadium 3B, akhirnya mengkonsumsi suplemment Tianshi. Ada 7 macam produk yg dia makan tiap hari: Nutrient High calsium, Cordyceps Mcelium capsules, Chitosan, Vigour rousing, Seabuckthorn, Beneficial, Antilipimic tea sesuai yg direkomendasi Tianshi.</p>
<p>Atas bantuan adik saya, dia juga mencoba menjalani Gerson Therapy dengan minum juice dan konsumsi sayur2an. Puji Tuhan sampai sekarang, tanteku mengalami perubahan, kami yakin itu karena berkat campur tangan TUHAN atas produk dan usaha tante dan adik saya.</p>
<p>Kami keluarga sangat mengharapkan apabila ada di antara teman2 yang pernah mengkonsumsi produk Tianshi untuk bisa membagi pengalaman anda sewaktu mengkonsumsi suplement Tianshi. Terima kasih atas perhatian dan bantuan teman2 sekalian.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ani</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-3148</link>
		<dc:creator>Ani</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:53:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-3148</guid>
		<description>Dear Cak Hadi &amp; Pak Omri
Kelihatannya pengobatan kanker jika diperbincangkan akan menarik tapi bagi saya kadang menjengkelkan hik hik. Maksudnya kanker sendiri sudah dilabelin &quot;penyakit yang mematikan dan tidak dapat disembuhkan&quot; Kata yang ahli medis kira-kira dari sananya begitu. 
Kenyataannya....ibu mertua kakak saya &quot;hanya kemo sekali&quot;nggak tahan....sekarang sudah 25 tahun sejak peristiwa itu...masih segar bugar. Banyak lagi contoh yang lainnya.Baca buku &quot;secret&quot; ketawa tiap hari &quot;sembuh&quot;
Payah untuk mengubah paradigma itu. Depan rumah saya pergi ke RS masih nyetir sendiri, ketemu dokter &amp; dibilang Kanker stadium 4, pulang langsung dah innalillahi....nggak ngitung hari! Hari itu juga kami mengantar ke pemakaman. Sekarang para pejabat negara berikut calon-calonnya harusnya mulai jeli dan teliti untuk memberikan materi kuliah tambahan &quot;Bagaimana menghadapi pasien!&quot; Apakah iya kanker tidak dapat disembuhkan? Apa arti sembuh? Apa artinya? 
Lepas dari alasan medis yang berkembang dengan label &quot;uji klinis&quot;. Pengobatan alternatif yang &quot;tidak&quot; bertanggungjawab juga coba untuk menahan diri nggak nipu. Contoh:Saya pernah nganter teman saya karena saking takutnya ama dokter nemuin alternatif di daerah luar jakarta. Tarifnya???? 45 juta untuk 7 sesi. Diapain? Di doain dengan metode tertentu. Makannya hanya boleh nasi putih. Amit-amit dalam hati saya. Berdo&#039;a itu gratis...mau ampe sujud nungsep juga Allah nggak minta bayaran. Trus saya gatel ikut nanya : kalo nggak sembuh bagaimana? Tahap kedua 7 sesi lagi 40 jt (turun 5 jt) ha-ha-ha. Ini pembodohan. Sangat.

Harapan saya sebagai penyintas kanker sederhana. Mari kita saling menguatkan, bertukar informasi untuk kebenaran dan menolong sesama, tidak dan bukan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan teman-teman kita yang sedang kesusahan. Insya Allah Tuhan akan menjaga kita semua, amin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Cak Hadi &amp; Pak Omri<br />
Kelihatannya pengobatan kanker jika diperbincangkan akan menarik tapi bagi saya kadang menjengkelkan hik hik. Maksudnya kanker sendiri sudah dilabelin &#8220;penyakit yang mematikan dan tidak dapat disembuhkan&#8221; Kata yang ahli medis kira-kira dari sananya begitu.<br />
Kenyataannya&#8230;.ibu mertua kakak saya &#8220;hanya kemo sekali&#8221;nggak tahan&#8230;.sekarang sudah 25 tahun sejak peristiwa itu&#8230;masih segar bugar. Banyak lagi contoh yang lainnya.Baca buku &#8220;secret&#8221; ketawa tiap hari &#8220;sembuh&#8221;<br />
Payah untuk mengubah paradigma itu. Depan rumah saya pergi ke RS masih nyetir sendiri, ketemu dokter &amp; dibilang Kanker stadium 4, pulang langsung dah innalillahi&#8230;.nggak ngitung hari! Hari itu juga kami mengantar ke pemakaman. Sekarang para pejabat negara berikut calon-calonnya harusnya mulai jeli dan teliti untuk memberikan materi kuliah tambahan &#8220;Bagaimana menghadapi pasien!&#8221; Apakah iya kanker tidak dapat disembuhkan? Apa arti sembuh? Apa artinya?<br />
Lepas dari alasan medis yang berkembang dengan label &#8220;uji klinis&#8221;. Pengobatan alternatif yang &#8220;tidak&#8221; bertanggungjawab juga coba untuk menahan diri nggak nipu. Contoh:Saya pernah nganter teman saya karena saking takutnya ama dokter nemuin alternatif di daerah luar jakarta. Tarifnya???? 45 juta untuk 7 sesi. Diapain? Di doain dengan metode tertentu. Makannya hanya boleh nasi putih. Amit-amit dalam hati saya. Berdo&#8217;a itu gratis&#8230;mau ampe sujud nungsep juga Allah nggak minta bayaran. Trus saya gatel ikut nanya : kalo nggak sembuh bagaimana? Tahap kedua 7 sesi lagi 40 jt (turun 5 jt) ha-ha-ha. Ini pembodohan. Sangat.</p>
<p>Harapan saya sebagai penyintas kanker sederhana. Mari kita saling menguatkan, bertukar informasi untuk kebenaran dan menolong sesama, tidak dan bukan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan teman-teman kita yang sedang kesusahan. Insya Allah Tuhan akan menjaga kita semua, amin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: omri</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-3141</link>
		<dc:creator>omri</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 02:04:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-3141</guid>
		<description>Pak Cakhadi, secara umum apa yang anda katakan benar. Yang perlu diterima juga bahwa tidak semua cara pengobatan itu sama dan benar. Ini sama dengan mengatakan bahwa tomat dan cabe sama pedasnya. Yang saya ingin gugah disini adalah bahwa seperti yang anda katakan, bahwa semua penyakit ada obatnya, dan penderita harus menggunakan akalnya untuk mencari metoda yang baik untuknya yang sesuai dengan kemampuannya dan tidak terjerumus pada metoda2 yang tidak pernah terbukti dapat menyembuhkan penyakit ini dengan tingkat kesuksesan yang baik, dan chemo termasuk didalamnya.

Salam, Omri</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Cakhadi, secara umum apa yang anda katakan benar. Yang perlu diterima juga bahwa tidak semua cara pengobatan itu sama dan benar. Ini sama dengan mengatakan bahwa tomat dan cabe sama pedasnya. Yang saya ingin gugah disini adalah bahwa seperti yang anda katakan, bahwa semua penyakit ada obatnya, dan penderita harus menggunakan akalnya untuk mencari metoda yang baik untuknya yang sesuai dengan kemampuannya dan tidak terjerumus pada metoda2 yang tidak pernah terbukti dapat menyembuhkan penyakit ini dengan tingkat kesuksesan yang baik, dan chemo termasuk didalamnya.</p>
<p>Salam, Omri</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cakhadi</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-3138</link>
		<dc:creator>cakhadi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 14:38:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-3138</guid>
		<description>betul saya setuju dengan p omrie cuman satu hal pak...bahwasannya kita mesthi percaa bahwa TUHAN menurunkan penyakit PASTI dengan obatnya nah tugas kita dalah mencarinya.
Mengenai metode kemo ataupun yang lain pada dasrnya adalah sama yang penting adalah niat dan tekad dari pasien.Secanggih apapun kalau pasien sudah gak ngeh pengobatan dijamin 100 % gagal total trmasuk obat tadi.
Jadi bagi yang lain sebelum anda menentukan pengobatan mantabkan hati anda.Kira2 dari metode yang ada itu mana anda yang lebih sreg.Setelah itu focuslah pada kesembuhan bukan pada sakitnya.
InsyaALLAH membantu....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>betul saya setuju dengan p omrie cuman satu hal pak&#8230;bahwasannya kita mesthi percaa bahwa TUHAN menurunkan penyakit PASTI dengan obatnya nah tugas kita dalah mencarinya.<br />
Mengenai metode kemo ataupun yang lain pada dasrnya adalah sama yang penting adalah niat dan tekad dari pasien.Secanggih apapun kalau pasien sudah gak ngeh pengobatan dijamin 100 % gagal total trmasuk obat tadi.<br />
Jadi bagi yang lain sebelum anda menentukan pengobatan mantabkan hati anda.Kira2 dari metode yang ada itu mana anda yang lebih sreg.Setelah itu focuslah pada kesembuhan bukan pada sakitnya.<br />
InsyaALLAH membantu&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bingung Sikap Dokter &#124; Ngobrol Kanker</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-3088</link>
		<dc:creator>Bingung Sikap Dokter &#124; Ngobrol Kanker</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 23:58:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-3088</guid>
		<description>[...] friends&#8230;. Ini sudah pesan saya yang kedua, tadinya saya menulis tentang tante yang takut dikemo. Sebagai pengganti kemo dia menjalani pengobatan alternatif mengkonsumsi supplement Tianshi dan [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] friends&#8230;. Ini sudah pesan saya yang kedua, tadinya saya menulis tentang tante yang takut dikemo. Sebagai pengganti kemo dia menjalani pengobatan alternatif mengkonsumsi supplement Tianshi dan [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Titah</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2950</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 07:02:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2950</guid>
		<description>&lt;b&gt;@ Ani&lt;/b&gt;
Bravo... Sukses untuk usaha &quot;jemput bola&quot;-nya ya... :)

&lt;b&gt;@ nungky&lt;/b&gt;
Thanks sharingnya, semoga sehat terus ya, Nung!

&lt;b&gt;@ Yoan&lt;/b&gt;
Setulusnya saya doakan semoga Tante cepat sembuh ya Yoan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@ Ani</b><br />
Bravo&#8230; Sukses untuk usaha &#8220;jemput bola&#8221;-nya ya&#8230; <img src='http://blog.rumahkanker.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><b>@ nungky</b><br />
Thanks sharingnya, semoga sehat terus ya, Nung!</p>
<p><b>@ Yoan</b><br />
Setulusnya saya doakan semoga Tante cepat sembuh ya Yoan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yoan</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2945</link>
		<dc:creator>Yoan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 15:15:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2945</guid>
		<description>Dear All....
Pertama-tama saya ucapakan terimakasih kesedaian teman2 semua untuk  sudah membantu memberikan saran dan tanggapan.
Akhirnya  tante saya memilih jalan untuk menjalani pengobatan secara herbal.Meskipun itu bertentangan dengan kemauan saya,yang lebih cenderung memilih jalan untuk melakukan kemo .Tapi apa boleh buat, yg menderita adalah tante saya dan bukan saya.
Saya cuma bisa menghormati dan pasrah atas pilihan yg dia ambil.Alasannya adalah:kemungkinan besar dia tidak akan mampu menjalani kemo tersebut dan sangat disayangkan kalau dia harus give up pada saat sudah menjalaninya beberapa kali.
Saya hanya bisa membantu dia lewat doa dan tentunya dengan membelih segalah macam vitamin dan obat yg dia butuhkan.
Pasrah pada Tuhan dan berharap semoga mukjizat dinyatakan atas dirinya.
sekali  lagi saya ucapkan terimakasih atas bantuan teman2 sekalian dan  saya akan selalu mendoakan teman2 yg menderita kanker, semoga tidak ada kata putus asa bagi mereka yg menderita kanker. So please still keep fighting for your self...!!!God always be with you..!!

salam 
Yoan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All&#8230;.<br />
Pertama-tama saya ucapakan terimakasih kesedaian teman2 semua untuk  sudah membantu memberikan saran dan tanggapan.<br />
Akhirnya  tante saya memilih jalan untuk menjalani pengobatan secara herbal.Meskipun itu bertentangan dengan kemauan saya,yang lebih cenderung memilih jalan untuk melakukan kemo .Tapi apa boleh buat, yg menderita adalah tante saya dan bukan saya.<br />
Saya cuma bisa menghormati dan pasrah atas pilihan yg dia ambil.Alasannya adalah:kemungkinan besar dia tidak akan mampu menjalani kemo tersebut dan sangat disayangkan kalau dia harus give up pada saat sudah menjalaninya beberapa kali.<br />
Saya hanya bisa membantu dia lewat doa dan tentunya dengan membelih segalah macam vitamin dan obat yg dia butuhkan.<br />
Pasrah pada Tuhan dan berharap semoga mukjizat dinyatakan atas dirinya.<br />
sekali  lagi saya ucapkan terimakasih atas bantuan teman2 sekalian dan  saya akan selalu mendoakan teman2 yg menderita kanker, semoga tidak ada kata putus asa bagi mereka yg menderita kanker. So please still keep fighting for your self&#8230;!!!God always be with you..!!</p>
<p>salam<br />
Yoan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nungky</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2941</link>
		<dc:creator>nungky</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 02:54:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2941</guid>
		<description>ass wr wb..
saya bergabung karena tertarik  dengan kepedulian keluarsa tante yoan. saya setelah oprasi kista ovari 20 cm divonis dokter untuk kemoterapi karena ca meningkat 6 x lipat dari normal dalam jangka kurang dari 1 bulan. karena takut saya mencoba berbagai alternatip. sekarang ca saya menurun 2 x lipat saja dengan cara hidup sehat, menghindari stress, tidak makan makanan olahan, vegetarian dan totok syaraf dan meminum tnlman-tanaman obat yang dianjurkan. pengobatan ini telah saya jalani 1 tahun lebih. Dan saya bersyukur bila tiap bangun tidur pagi saya sehat. Sedikit saran saya,cobalah jalan lain, banyak berdoa, karena dengan doa kita mempunyai hrapan. Walaupun ada kanker dalam tubuh kita, isi hidup dengan sesuatu yang berharga. Anggap kanker sebagai teman sejalan. Tidak usah dipikir. Pasti ada jalan selain kemoterapi. jangan rusak hidup tante. Makasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ass wr wb..<br />
saya bergabung karena tertarik  dengan kepedulian keluarsa tante yoan. saya setelah oprasi kista ovari 20 cm divonis dokter untuk kemoterapi karena ca meningkat 6 x lipat dari normal dalam jangka kurang dari 1 bulan. karena takut saya mencoba berbagai alternatip. sekarang ca saya menurun 2 x lipat saja dengan cara hidup sehat, menghindari stress, tidak makan makanan olahan, vegetarian dan totok syaraf dan meminum tnlman-tanaman obat yang dianjurkan. pengobatan ini telah saya jalani 1 tahun lebih. Dan saya bersyukur bila tiap bangun tidur pagi saya sehat. Sedikit saran saya,cobalah jalan lain, banyak berdoa, karena dengan doa kita mempunyai hrapan. Walaupun ada kanker dalam tubuh kita, isi hidup dengan sesuatu yang berharga. Anggap kanker sebagai teman sejalan. Tidak usah dipikir. Pasti ada jalan selain kemoterapi. jangan rusak hidup tante. Makasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ani</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2916</link>
		<dc:creator>Ani</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 11:19:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2916</guid>
		<description>Dear Mba Titah dan teman-teman....

Maaf saya lama tidak ikut sumbang saran di blog ini... he-he-he...Aduh seru ya diskusinya...
Selama saya tidak nongol di blog ini, bukan berarti saya menghentikan aktifitas kepedulian sesama penyintas kanker, karena saya pribadi sangat menyadari bahwa banyak sekali penyintas kanker yang tidak mampu menjamah informasi, karenanya beberapa bulan ini sedikit tenaga yang saya miliki saya gunakan untuk menjemput bola dengan mendatangi mereka.
Jangankan internet, koran aja mereka sulit untuk beli, jangankan koran, cek darah aja nggak sanggup. Apa yang kita bisa lakukan untuk mereka? Jangankan bicara pengobatan yang berlabel &quot;bahasa asing&quot;....sebuah kata kanker aja rasanya sulit untuk mereka bayangkan untuk sembuh.Bergelut dengan depresi dan ketakutan akhirnya penyakit pun berjalan terus dan tak terkendali.
Saya menghargai dan sangat mengerti apapun pendapat teman-teman,teori apapun yang berkembang...tapi...seperti yang dikatakan mba Titah, Rp.2.500 aja mereka minta gratis. Itulah kondisi masyarakat kita di dataran ekonomi bawah.
Dari pengalaman saya sejak mengidap kanker hingga saya masih bisa bertahan hidup hingga saat ini yang terpenting adalah mengendalikan diri pasien (dari tekanan psikis/psikologis apapun). Saya seringkali tercekat tidak bisa lagi memberikan komentar apapun pada mereka. Mendengarkan cerita mereka, tersenyum dan mengelus tangan mereka...itu sudah sangat berharga di saat orang-orang masih bisa mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, tapi mereka tak lagi punya pilihan.

Sorry mba Titah, jika komentar kali ini nggak nyambung he-he-he mari kita berbuat sesuatu untuk mereka....dengan do&#039;a dan kesungguhan bahwa tangan kita masih bisa kita ulurkan untuk mereka...semoga, amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Mba Titah dan teman-teman&#8230;.</p>
<p>Maaf saya lama tidak ikut sumbang saran di blog ini&#8230; he-he-he&#8230;Aduh seru ya diskusinya&#8230;<br />
Selama saya tidak nongol di blog ini, bukan berarti saya menghentikan aktifitas kepedulian sesama penyintas kanker, karena saya pribadi sangat menyadari bahwa banyak sekali penyintas kanker yang tidak mampu menjamah informasi, karenanya beberapa bulan ini sedikit tenaga yang saya miliki saya gunakan untuk menjemput bola dengan mendatangi mereka.<br />
Jangankan internet, koran aja mereka sulit untuk beli, jangankan koran, cek darah aja nggak sanggup. Apa yang kita bisa lakukan untuk mereka? Jangankan bicara pengobatan yang berlabel &#8220;bahasa asing&#8221;&#8230;.sebuah kata kanker aja rasanya sulit untuk mereka bayangkan untuk sembuh.Bergelut dengan depresi dan ketakutan akhirnya penyakit pun berjalan terus dan tak terkendali.<br />
Saya menghargai dan sangat mengerti apapun pendapat teman-teman,teori apapun yang berkembang&#8230;tapi&#8230;seperti yang dikatakan mba Titah, Rp.2.500 aja mereka minta gratis. Itulah kondisi masyarakat kita di dataran ekonomi bawah.<br />
Dari pengalaman saya sejak mengidap kanker hingga saya masih bisa bertahan hidup hingga saat ini yang terpenting adalah mengendalikan diri pasien (dari tekanan psikis/psikologis apapun). Saya seringkali tercekat tidak bisa lagi memberikan komentar apapun pada mereka. Mendengarkan cerita mereka, tersenyum dan mengelus tangan mereka&#8230;itu sudah sangat berharga di saat orang-orang masih bisa mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, tapi mereka tak lagi punya pilihan.</p>
<p>Sorry mba Titah, jika komentar kali ini nggak nyambung he-he-he mari kita berbuat sesuatu untuk mereka&#8230;.dengan do&#8217;a dan kesungguhan bahwa tangan kita masih bisa kita ulurkan untuk mereka&#8230;semoga, amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: omri</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2915</link>
		<dc:creator>omri</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 10:28:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2915</guid>
		<description>Untuk kasus seperti itu, saya sangat mengerti sudut pandangan Ibu. Dan kalau saya mau jujur, saya juga tidak bisa menjawab dengan baik, apa yang kita dapat lakukan untuk mereka.

Karena itu juga jawaban 2 saya seperti yang diatas sebelumnya saya selalu berikan terbatas pada yang biasa menggunakan fasilitas internet, dengan asumsi [sering 2 juga salah] bahwa mereka sudah terpelajar dan mempunyai kemampuan ekonomi yang diatas minimum.

Saya mengikuti cermat beberapa therapy tertentu, dan bila saya melihat sisi ekonomisnya, ternyata masih cukup tinggi[walaupun tidak semahal chemo misalnya], dan masih belum gampang terjangkau bagi teman kita di strata ekonomi lemah.

Saya kira itu tantangan kita bersama Ibu Titah....

Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kasus seperti itu, saya sangat mengerti sudut pandangan Ibu. Dan kalau saya mau jujur, saya juga tidak bisa menjawab dengan baik, apa yang kita dapat lakukan untuk mereka.</p>
<p>Karena itu juga jawaban 2 saya seperti yang diatas sebelumnya saya selalu berikan terbatas pada yang biasa menggunakan fasilitas internet, dengan asumsi [sering 2 juga salah] bahwa mereka sudah terpelajar dan mempunyai kemampuan ekonomi yang diatas minimum.</p>
<p>Saya mengikuti cermat beberapa therapy tertentu, dan bila saya melihat sisi ekonomisnya, ternyata masih cukup tinggi[walaupun tidak semahal chemo misalnya], dan masih belum gampang terjangkau bagi teman kita di strata ekonomi lemah.</p>
<p>Saya kira itu tantangan kita bersama Ibu Titah&#8230;.</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Titah</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2909</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 05:51:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2909</guid>
		<description>Dear Pak Omri,

Terima kasih atas kontribusi positif anda. Saya mengerti yang anda katakan memang benar. Tapi saya juga ingin mengingatkan, bahwa sayangnya pendapat anda itu belum bisa diberlakukan pada semua orang. Kebetulan saya ikut mendampingi pasien-pasien kanker di tataran miskin, yang biaya berobat ke puskesmas Rp 2.500 saja minta digratiskan, jadi saya tahu persis memang ada orang-orang yang boleh dikata tidak mempunyai pilihan selain mengikuti pengobatan medis konvensional.

Sebagai contoh Ibu S (42 th), diketahui menderita kanker tiroid sejak bayinya berusia 3 bulan. Telah menjalani tiroidektomi, kemoterapi, radioterapi (seluruhnya gratis!). Sejak tiga tahun yang lalu kankernya telah menjalar ke tulang belakang, menyebabkannya tidak bisa bangkit dari tempat tidur untuk mengurus keluarganya (bahkan untuk meluruskan lutut saja dia butuh bantuan tongkat). 

Suaminya bekerja sebagai tukang rombeng dengan penghasilan tak tentu, bahkan pernah pulang ke rumah hanya dengan membawa uang 500 rupiah!!! Anaknya enam orang. Kini sebagian telah diadopsi oleh keluarga lain, tinggal dua yang terkecil masih tinggal bersama Ny. S. Nasi yang dimakan sehari-hari, sering merupakan pemberian tetangga-tetangganya yang sama-sama miskin di rumah petak yang gelap, lembab, dan kumuh. Kalau ada nasi putih dan kerupuk, bagi mereka cukuplah sudah.

Hingga kini, 6 tahun sejak pertama kali didiagnosa, Ny. S masih melanjutkan pengobatannya. Ya, dengan pengobatan medis konvensional. Dua minggu sekali ke rumah sakit untuk mengganti kateter. Sebulan sekali ke rumah sakit lagi untuk kontrol sekaligus mengambil hormon pengganti yang harus rutin diminumnya. Enam bulan sekali menjalani radio-nuclide therapy. Yah, pengobatan &quot;sesat&quot; (meminjam istilah anda) terpaksa dijalaninya, karena memang hanya pemerintah yang mau mengulurkan tangan membantu pengobatannya. itu pun, untuk bisa berangkat ke rumah sakit, lagi-lagi tetangga-tetangga miskinnya berpatungan untuk membayar ongkos becak pergi-pulang.

Kalau kita lihat sepintas, memang kualitas hidup Ny. S sangat tidak layak. Apakah dia harus memilih hidup yang pendek namun masih ada kualitasnya? Saya rasa dia memang tidak punya banyak pilihan, Pak Omri. Seberapa pun jelek kualitasnya saat ini, hidupnya masih ada artinya. Setidaknya masih ada yang menyapa dan tersenyum pada anak-anaknya saat pulang ke rumah.

Maaf kalau jawaban saya agak OOT, ya Pak. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Pak Omri,</p>
<p>Terima kasih atas kontribusi positif anda. Saya mengerti yang anda katakan memang benar. Tapi saya juga ingin mengingatkan, bahwa sayangnya pendapat anda itu belum bisa diberlakukan pada semua orang. Kebetulan saya ikut mendampingi pasien-pasien kanker di tataran miskin, yang biaya berobat ke puskesmas Rp 2.500 saja minta digratiskan, jadi saya tahu persis memang ada orang-orang yang boleh dikata tidak mempunyai pilihan selain mengikuti pengobatan medis konvensional.</p>
<p>Sebagai contoh Ibu S (42 th), diketahui menderita kanker tiroid sejak bayinya berusia 3 bulan. Telah menjalani tiroidektomi, kemoterapi, radioterapi (seluruhnya gratis!). Sejak tiga tahun yang lalu kankernya telah menjalar ke tulang belakang, menyebabkannya tidak bisa bangkit dari tempat tidur untuk mengurus keluarganya (bahkan untuk meluruskan lutut saja dia butuh bantuan tongkat). </p>
<p>Suaminya bekerja sebagai tukang rombeng dengan penghasilan tak tentu, bahkan pernah pulang ke rumah hanya dengan membawa uang 500 rupiah!!! Anaknya enam orang. Kini sebagian telah diadopsi oleh keluarga lain, tinggal dua yang terkecil masih tinggal bersama Ny. S. Nasi yang dimakan sehari-hari, sering merupakan pemberian tetangga-tetangganya yang sama-sama miskin di rumah petak yang gelap, lembab, dan kumuh. Kalau ada nasi putih dan kerupuk, bagi mereka cukuplah sudah.</p>
<p>Hingga kini, 6 tahun sejak pertama kali didiagnosa, Ny. S masih melanjutkan pengobatannya. Ya, dengan pengobatan medis konvensional. Dua minggu sekali ke rumah sakit untuk mengganti kateter. Sebulan sekali ke rumah sakit lagi untuk kontrol sekaligus mengambil hormon pengganti yang harus rutin diminumnya. Enam bulan sekali menjalani radio-nuclide therapy. Yah, pengobatan &#8220;sesat&#8221; (meminjam istilah anda) terpaksa dijalaninya, karena memang hanya pemerintah yang mau mengulurkan tangan membantu pengobatannya. itu pun, untuk bisa berangkat ke rumah sakit, lagi-lagi tetangga-tetangga miskinnya berpatungan untuk membayar ongkos becak pergi-pulang.</p>
<p>Kalau kita lihat sepintas, memang kualitas hidup Ny. S sangat tidak layak. Apakah dia harus memilih hidup yang pendek namun masih ada kualitasnya? Saya rasa dia memang tidak punya banyak pilihan, Pak Omri. Seberapa pun jelek kualitasnya saat ini, hidupnya masih ada artinya. Setidaknya masih ada yang menyapa dan tersenyum pada anak-anaknya saat pulang ke rumah.</p>
<p>Maaf kalau jawaban saya agak OOT, ya Pak. <img src='http://blog.rumahkanker.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: omri</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2908</link>
		<dc:creator>omri</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 03:16:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2908</guid>
		<description>Ibu Titah, saya kira ada banyak persamaan pendapat antara kita berdua, namun ada beberapa hal yang perlu diluruskan agar diskusi ini bisa memberi manfaat bagi siapapun yang membacanya.
Saya sangat setuju bahwa setiap penderita harus tetap secara terus menerus mengupayakan kesembuhannya, sesuai dengan pesan agama apapun yang dianutnya. Dalam konteks yang sama Tuhan juga menyuruh kita untuk memakai akal dan kebijakan yang diberikanNya. Bukan pasrah dan bukan pula sembrono hanya mengikuti pola pengobatan &quot;main stream&quot; yang ada. Untuk itulah saya anjurkan untuk melihat fakta fakta kesembuhan yang ada secara terbuka. Angkanya menakutkan... benar, tetapi harus dihadapi untuk menentukan langkah apa sebaiknya yang ditempuh dalam kesulitan ini. Mengenai Chemotherapy, sayangnya saya harus benar2 menentang cara yang satu ini, dan ini didasarkan oleh penelitian begitu banyak ahli kedokteran dan biologi didunia ini, ditambah dengan pengamatan pribadi saya. Chemotherapy sudah digolongkan kepada skandal business obat2an yang sangat besar. Masalahnya sekarang, dengan mengatakan fakta ini, ataupun mendengarkannya, banyak sekali pasien2 yang merasa [seperti kata Ibu Titah] pupus harapannya untuk sembuh. Lho .... justru pasien pasien ini harus berterimakasih untuk tidak berjalan dijalan yang &quot;sesat&quot;. Kembali saya katakan, anda diberikan akal oleh Yang Maha Kuasa, untuk mencari kesembuhan itu. Carilah dengan benar, dan tidak pasif saja untuk menjalankan apa yang disodorkan kepada anda. Kesalahan terbesar dari masyarakat kita adalah mereka kekurangan informasi dan &quot;nrimo&quot; terutama kalau sudah bicara tentang pengobatan. Ini harus diubah dan anda sendiri yang harus mengubahnya. Jangan menjadi surut dan bersikap &quot;kasihan benar deh saya...&quot; atau menunggu orang lain berbuat untuk anda. Itu tidak akan pernah terjadi.

Karena itu saya selalu mempromosikan pasien untuk &quot;mengobati dirinya sendiri&quot;. Kata2 ini bukan seperti yang Ibu Titah takutkan, bahwa pasien akan mengarang resep obatnya sendiri atau semacamnya. Mengobati diri sendiri itu adalah sikap mental dimana pasien harus mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri, bahwa kalau dia melaksanakan suatu cara pengobatan, maka ia akan bersungguh sungguh melakukannya, sabar, telaten, tidak mengeluh. Banyak pasien cancer yang disuruh merubah dietnya saja tidak mau hanya karena tidak sesuai dengan seleranya. Wah... anda sehat atau sakit? Mau tetap sakit atau mau sembuh?

Pada sidebar di website atau Blog ini kita melihat disana ada link website pengobatan yang namanya German New Medicine. Angka kesembuhannya fantastis, 90% dan tidak tergantung stadiumnya. Hebat dan mencengangkan. Dokternya diusir dari German karena dianggap memperolok olok dunia pengobatan modern sekarang, termasuk memperolok olok Chemotherapy yang dianggapnya pekerjaan Setan. 

Saya mengetahuinya 3 tahun lalu, ikut kagum dan saya juga percaya ini cara yang sangat baik dan saya terus mengamatinya dan saya sudah mulai anjurkan beberapa teman penderita untuk menggunakannya. Ini adalah metoda dimana pasien benar benar mengobati dirinya sendiri secara harafiah. Mengapa tidak? Dan saya berterimakasih pada Ibu Titah karena ikut &quot;mempromosikan&quot; cara pengobatan ini.

Sementara saya stop dulu dan tolong agar tulisan saya dicernakan dengan kepala dingin. Saya ingin kontribusi yang positif. Semoga cepat sembuh, saya ikut mendoakan semua penderita yang ada. Salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu Titah, saya kira ada banyak persamaan pendapat antara kita berdua, namun ada beberapa hal yang perlu diluruskan agar diskusi ini bisa memberi manfaat bagi siapapun yang membacanya.<br />
Saya sangat setuju bahwa setiap penderita harus tetap secara terus menerus mengupayakan kesembuhannya, sesuai dengan pesan agama apapun yang dianutnya. Dalam konteks yang sama Tuhan juga menyuruh kita untuk memakai akal dan kebijakan yang diberikanNya. Bukan pasrah dan bukan pula sembrono hanya mengikuti pola pengobatan &#8220;main stream&#8221; yang ada. Untuk itulah saya anjurkan untuk melihat fakta fakta kesembuhan yang ada secara terbuka. Angkanya menakutkan&#8230; benar, tetapi harus dihadapi untuk menentukan langkah apa sebaiknya yang ditempuh dalam kesulitan ini. Mengenai Chemotherapy, sayangnya saya harus benar2 menentang cara yang satu ini, dan ini didasarkan oleh penelitian begitu banyak ahli kedokteran dan biologi didunia ini, ditambah dengan pengamatan pribadi saya. Chemotherapy sudah digolongkan kepada skandal business obat2an yang sangat besar. Masalahnya sekarang, dengan mengatakan fakta ini, ataupun mendengarkannya, banyak sekali pasien2 yang merasa [seperti kata Ibu Titah] pupus harapannya untuk sembuh. Lho &#8230;. justru pasien pasien ini harus berterimakasih untuk tidak berjalan dijalan yang &#8220;sesat&#8221;. Kembali saya katakan, anda diberikan akal oleh Yang Maha Kuasa, untuk mencari kesembuhan itu. Carilah dengan benar, dan tidak pasif saja untuk menjalankan apa yang disodorkan kepada anda. Kesalahan terbesar dari masyarakat kita adalah mereka kekurangan informasi dan &#8220;nrimo&#8221; terutama kalau sudah bicara tentang pengobatan. Ini harus diubah dan anda sendiri yang harus mengubahnya. Jangan menjadi surut dan bersikap &#8220;kasihan benar deh saya&#8230;&#8221; atau menunggu orang lain berbuat untuk anda. Itu tidak akan pernah terjadi.</p>
<p>Karena itu saya selalu mempromosikan pasien untuk &#8220;mengobati dirinya sendiri&#8221;. Kata2 ini bukan seperti yang Ibu Titah takutkan, bahwa pasien akan mengarang resep obatnya sendiri atau semacamnya. Mengobati diri sendiri itu adalah sikap mental dimana pasien harus mempunyai tanggung jawab atas dirinya sendiri, bahwa kalau dia melaksanakan suatu cara pengobatan, maka ia akan bersungguh sungguh melakukannya, sabar, telaten, tidak mengeluh. Banyak pasien cancer yang disuruh merubah dietnya saja tidak mau hanya karena tidak sesuai dengan seleranya. Wah&#8230; anda sehat atau sakit? Mau tetap sakit atau mau sembuh?</p>
<p>Pada sidebar di website atau Blog ini kita melihat disana ada link website pengobatan yang namanya German New Medicine. Angka kesembuhannya fantastis, 90% dan tidak tergantung stadiumnya. Hebat dan mencengangkan. Dokternya diusir dari German karena dianggap memperolok olok dunia pengobatan modern sekarang, termasuk memperolok olok Chemotherapy yang dianggapnya pekerjaan Setan. </p>
<p>Saya mengetahuinya 3 tahun lalu, ikut kagum dan saya juga percaya ini cara yang sangat baik dan saya terus mengamatinya dan saya sudah mulai anjurkan beberapa teman penderita untuk menggunakannya. Ini adalah metoda dimana pasien benar benar mengobati dirinya sendiri secara harafiah. Mengapa tidak? Dan saya berterimakasih pada Ibu Titah karena ikut &#8220;mempromosikan&#8221; cara pengobatan ini.</p>
<p>Sementara saya stop dulu dan tolong agar tulisan saya dicernakan dengan kepala dingin. Saya ingin kontribusi yang positif. Semoga cepat sembuh, saya ikut mendoakan semua penderita yang ada. Salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Titah</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2904</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 15:05:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2904</guid>
		<description>&lt;b&gt;@ Omri &amp; Triyono&lt;/b&gt;

Well, mungkin anda benar tentang prognosis penderita kanker stadium 4 itu. Tetapi itu hanyalah angka statistik yang sempat tercatat oleh kalangan medis. Kenyataannya hidup ini tidak seperti matematika, yang kalau anda kena kanker stadium 4 maka kemungkinan anda mampu bertahan 5 tahun adalah (&quot;sama dengan&quot;) 5%. Kalau selain kanker punya komplikasi penyakit lain, harapannya semakin kecil lagi, dan semakin kecil lagi.

Saya pernah diajak berhitung matematika begitu oleh dokter, yang kemudian solusinya adalah perawatan paliatif. Pada akhirnya kita seperti disodori kenyataan (oleh dokter kuratif maupun dokter paliatif) bahwa untuk kanker stadium 4 sudah sangat kecil harapan kesembuhannya; yang bisa dilakukan hanyalah &quot;pasrah&quot; sambil menjaga kualitas hidup semampu kita.

Sebagai pasien maupun sebagai orang beriman, kita sulit menerima hal itu, kan? Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, &quot;Walaupun engkau tahu besok akan kiamat, tanamlah benih pohon yang ada di tanganmu....&quot;

Di luar hitungan matematis dokter, di luar sana banyak terjadi kesembuhan, baik secara medis konvensional, secara alternatif, maupun karena mukjizat. Itulah tujuan sebenarnya dibuatnya blog ini, tempat kita bertukar pikiran tentang berbagai kemungkinan kesembuhan serta berbagai macam metode pengobatan, sekaligus saling memberikan dukungan. (Tapi bukan ajang spam promosi lho... :) )

Bagus juga Omri memberi masukan tentang Gerson Therapy. Hanya, ada perbedaan antara tukar pikiran di sini dan debat politik para caleg dan capres. Yakni, seyogyanya di sini anda tidak menjelek-jelekkan metode pengobatan tertentu, karena sangat mungkin metode yang anda sudutkan itu merupakan pilihan satu-satunya bagi sahabat saya yang lain di blog ini. Hal itu akan sangat melukai perasaan dan memupuskan harapannya. Mengungkapkan fakta boleh, tetapi harus fair dan tetap menjaga iklim yang positif serta suportif. Bagaimana menyelesaikan sebuah masalah, dan bukan membesar-besarkannya, itu intinya.

O ya, saya kurang setuju kalau pasien mengobati dirinya sendiri. Itu bisa sangat berbahaya karena pasien awam tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam tubuhnya, dan apa yang terjadi di dalam tubuhnya kalau ia menerapkan metode tertentu atau meminum obat/suplemen tertentu tanpa rekomendasi seorang profesional. Kalau terjadi apa-apa, apa ia mengerti apa yang harus dilakukan?

Bagaimanapun, terima kasih atas peran aktif anda berdua untuk membangun diskusi yang positif. Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@ Omri &amp; Triyono</b></p>
<p>Well, mungkin anda benar tentang prognosis penderita kanker stadium 4 itu. Tetapi itu hanyalah angka statistik yang sempat tercatat oleh kalangan medis. Kenyataannya hidup ini tidak seperti matematika, yang kalau anda kena kanker stadium 4 maka kemungkinan anda mampu bertahan 5 tahun adalah (&#8220;sama dengan&#8221;) 5%. Kalau selain kanker punya komplikasi penyakit lain, harapannya semakin kecil lagi, dan semakin kecil lagi.</p>
<p>Saya pernah diajak berhitung matematika begitu oleh dokter, yang kemudian solusinya adalah perawatan paliatif. Pada akhirnya kita seperti disodori kenyataan (oleh dokter kuratif maupun dokter paliatif) bahwa untuk kanker stadium 4 sudah sangat kecil harapan kesembuhannya; yang bisa dilakukan hanyalah &#8220;pasrah&#8221; sambil menjaga kualitas hidup semampu kita.</p>
<p>Sebagai pasien maupun sebagai orang beriman, kita sulit menerima hal itu, kan? Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, &#8220;Walaupun engkau tahu besok akan kiamat, tanamlah benih pohon yang ada di tanganmu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Di luar hitungan matematis dokter, di luar sana banyak terjadi kesembuhan, baik secara medis konvensional, secara alternatif, maupun karena mukjizat. Itulah tujuan sebenarnya dibuatnya blog ini, tempat kita bertukar pikiran tentang berbagai kemungkinan kesembuhan serta berbagai macam metode pengobatan, sekaligus saling memberikan dukungan. (Tapi bukan ajang spam promosi lho&#8230; <img src='http://blog.rumahkanker.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p>Bagus juga Omri memberi masukan tentang Gerson Therapy. Hanya, ada perbedaan antara tukar pikiran di sini dan debat politik para caleg dan capres. Yakni, seyogyanya di sini anda tidak menjelek-jelekkan metode pengobatan tertentu, karena sangat mungkin metode yang anda sudutkan itu merupakan pilihan satu-satunya bagi sahabat saya yang lain di blog ini. Hal itu akan sangat melukai perasaan dan memupuskan harapannya. Mengungkapkan fakta boleh, tetapi harus fair dan tetap menjaga iklim yang positif serta suportif. Bagaimana menyelesaikan sebuah masalah, dan bukan membesar-besarkannya, itu intinya.</p>
<p>O ya, saya kurang setuju kalau pasien mengobati dirinya sendiri. Itu bisa sangat berbahaya karena pasien awam tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam tubuhnya, dan apa yang terjadi di dalam tubuhnya kalau ia menerapkan metode tertentu atau meminum obat/suplemen tertentu tanpa rekomendasi seorang profesional. Kalau terjadi apa-apa, apa ia mengerti apa yang harus dilakukan?</p>
<p>Bagaimanapun, terima kasih atas peran aktif anda berdua untuk membangun diskusi yang positif. Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Triyono</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2900</link>
		<dc:creator>Triyono</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 05:36:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2900</guid>
		<description>Dear Mbak Titah, 
Dari berbagai situs yang saya jelajahi, sejak lama saya tahu apa yang ditulis omri itu benar adanya. Bahwa survival penderita kanker stad IV yang cuma 5% itu cuma 5 tahun. Makanya saya jadi sering main kesini untuk menengok banyak kasus yang bahkan ternyata lebih berat dari yang saya alami, membuat saya merasa lebih beruntung, mempunyai harapan hidup lagi (setidaknya untuk 5 tahun pertama ini he he he). Terutama tanggapan-tanggapan Mbak Titah yang terasa sangat membesarkan hati. Terima kasih mbak Titah, Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Mbak Titah,<br />
Dari berbagai situs yang saya jelajahi, sejak lama saya tahu apa yang ditulis omri itu benar adanya. Bahwa survival penderita kanker stad IV yang cuma 5% itu cuma 5 tahun. Makanya saya jadi sering main kesini untuk menengok banyak kasus yang bahkan ternyata lebih berat dari yang saya alami, membuat saya merasa lebih beruntung, mempunyai harapan hidup lagi (setidaknya untuk 5 tahun pertama ini he he he). Terutama tanggapan-tanggapan Mbak Titah yang terasa sangat membesarkan hati. Terima kasih mbak Titah, Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: omri</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2899</link>
		<dc:creator>omri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:54:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2899</guid>
		<description>Terimakasih untuk Titah dan maaf kalau bahasa saya kadang2 tidak terlalu &quot;sopan&quot;. Therapy Chemo akan menurunkan sistem kekebalan tubuh penderita. Mungkin pasien masih kuat menjalani pemberian pertama, ke 2 hingga ke -5, 6 seterusnya. Pada saatnya sistem kekebalan tubuh anda rontok dan anda mengalami masa sakit yang berat, dimana untuk  sejumlah pasien akan berhenti karena tidak tahan, atau meneruskan dengan menahan rasa sakit yang hebat ini. Pada saat ini kualitas hidup anda sangat buruk dan jangan lupa bahwa kualitas hidup anggota keluarga anda juga ikut terimbas menjadi buruk. Secara ekonomi juga kondisinya akan buruk karena pengoabtan ini mahal, kecuali kalau anda memang kaya.
Akhirnya kita bertanya.... apakah pilihan kita yang ada? Apakah kita lakukan Chemo, tanpa ada kepastian sembuh.. dan kualitas hidup yang buruk ini; atau kita cukup comfortable dengan kondisi yang ada sekarang, yang sebenarnya kita tau akan menurun dengan lambat [kalau tidak diobati]... dengan kemungkinana hidup yang lebih pendek [sesuai dengan prediksi ahli medis..], namun waktu yang ada ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada pilihan pertama.

Ini adalah pilihan... dan pilihan ini harus benar2 anda lakukan sendiri secara pribadi, dengan waras dan tentunya bersama harapan yang baik.

Mengenai cara lain? Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa cancer dapat disembuhkan dengan Gerson Therapy, tanpa bermaksud untuk mempromosikannya disini. Therapy semacam ini, dan ada beberapa cara pengobatan lain membantu pasien untuk mengobati dirinya sendiri dengan asupan nutrisi yang baik. masalahnya bukanlah apakah ia sudah di stadium 3, 4 atau masih 1 sekalipun. Ibu saya menderita cancer payudara dan di vonis umurnya tinggal 6 bulan saja, stadium terakhir. Dia sembuh dalam waktu 3 bulan. Saya hampir tidak percaya. 3 tahun setelah kesembuhan ini, dia diperiksa dokter karena jantungnya mulai lemah, umur 81 tahun. Waktu dilakukan X-Ray, cancer nya masih kelihatan, jauh lebih kecil dari sebelumnya dan menurut dokter cancer nya &quot;TIDUR&quot;. Apa yang saya ingin katakan adalah dunai pengobatan modern tidak sanggup menjawab dan menyembuhkan cancer. Kita harus mencari jalan lain... Salam

Untuk yang ingin membaca tulisan saya tentang dunia kesehatan modern saya cantumkan tulisan saya pada blog Kompasiana http://public.kompasiana.com/2009/02/22/dunia-pengobatan-modern/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terimakasih untuk Titah dan maaf kalau bahasa saya kadang2 tidak terlalu &#8220;sopan&#8221;. Therapy Chemo akan menurunkan sistem kekebalan tubuh penderita. Mungkin pasien masih kuat menjalani pemberian pertama, ke 2 hingga ke -5, 6 seterusnya. Pada saatnya sistem kekebalan tubuh anda rontok dan anda mengalami masa sakit yang berat, dimana untuk  sejumlah pasien akan berhenti karena tidak tahan, atau meneruskan dengan menahan rasa sakit yang hebat ini. Pada saat ini kualitas hidup anda sangat buruk dan jangan lupa bahwa kualitas hidup anggota keluarga anda juga ikut terimbas menjadi buruk. Secara ekonomi juga kondisinya akan buruk karena pengoabtan ini mahal, kecuali kalau anda memang kaya.<br />
Akhirnya kita bertanya&#8230;. apakah pilihan kita yang ada? Apakah kita lakukan Chemo, tanpa ada kepastian sembuh.. dan kualitas hidup yang buruk ini; atau kita cukup comfortable dengan kondisi yang ada sekarang, yang sebenarnya kita tau akan menurun dengan lambat [kalau tidak diobati]&#8230; dengan kemungkinana hidup yang lebih pendek [sesuai dengan prediksi ahli medis..], namun waktu yang ada ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada pilihan pertama.</p>
<p>Ini adalah pilihan&#8230; dan pilihan ini harus benar2 anda lakukan sendiri secara pribadi, dengan waras dan tentunya bersama harapan yang baik.</p>
<p>Mengenai cara lain? Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa cancer dapat disembuhkan dengan Gerson Therapy, tanpa bermaksud untuk mempromosikannya disini. Therapy semacam ini, dan ada beberapa cara pengobatan lain membantu pasien untuk mengobati dirinya sendiri dengan asupan nutrisi yang baik. masalahnya bukanlah apakah ia sudah di stadium 3, 4 atau masih 1 sekalipun. Ibu saya menderita cancer payudara dan di vonis umurnya tinggal 6 bulan saja, stadium terakhir. Dia sembuh dalam waktu 3 bulan. Saya hampir tidak percaya. 3 tahun setelah kesembuhan ini, dia diperiksa dokter karena jantungnya mulai lemah, umur 81 tahun. Waktu dilakukan X-Ray, cancer nya masih kelihatan, jauh lebih kecil dari sebelumnya dan menurut dokter cancer nya &#8220;TIDUR&#8221;. Apa yang saya ingin katakan adalah dunai pengobatan modern tidak sanggup menjawab dan menyembuhkan cancer. Kita harus mencari jalan lain&#8230; Salam</p>
<p>Untuk yang ingin membaca tulisan saya tentang dunia kesehatan modern saya cantumkan tulisan saya pada blog Kompasiana <a href="http://public.kompasiana.com/2009/02/22/dunia-pengobatan-modern/" rel="nofollow">http://public.kompasiana.com/2009/02/22/dunia-pengobatan-modern/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Titah</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2892</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 17:14:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2892</guid>
		<description>&lt;b&gt;@ Lanna &amp; Triyono&lt;/b&gt;
Thanks atas masukannya. Semoga selalu sehat dan tidak kambuh-kambuh lagi...

&lt;b&gt;@ omri&lt;/b&gt;
Thanks atas masukannya pada komentar pertama. Tapi maaf, komentar anda yang kedua kok terkesan agak tendensius ya....
&lt;blockquote&gt;....dan anda lebih baik hidup pendek namun masih ada kualitasnya,....&lt;/blockquote&gt;
Bagaimana caranya memilih hidup pendek? Sepertinya Tuhan deh yang menentukan panjang-pendeknya umur kita, yang saya tahu kita diwajibkan berikhtiar semaksimal kemampuan kita... 
&lt;blockquote&gt; ....dan masih ada cara lain koq.&lt;/blockquote&gt;
Bisa tolong dijelaskan detail cara lain itu, Omri? Apakah ada jaminan bisa sembuh dari kanker stadium 4, yang --meminjam istilah anda-- bukan hanya permainan kata-kata?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><b>@ Lanna &amp; Triyono</b><br />
Thanks atas masukannya. Semoga selalu sehat dan tidak kambuh-kambuh lagi&#8230;</p>
<p><b>@ omri</b><br />
Thanks atas masukannya pada komentar pertama. Tapi maaf, komentar anda yang kedua kok terkesan agak tendensius ya&#8230;.</p>
<blockquote><p>&#8230;.dan anda lebih baik hidup pendek namun masih ada kualitasnya,&#8230;.</p></blockquote>
<p>Bagaimana caranya memilih hidup pendek? Sepertinya Tuhan deh yang menentukan panjang-pendeknya umur kita, yang saya tahu kita diwajibkan berikhtiar semaksimal kemampuan kita&#8230; </p>
<blockquote><p> &#8230;.dan masih ada cara lain koq.</p></blockquote>
<p>Bisa tolong dijelaskan detail cara lain itu, Omri? Apakah ada jaminan bisa sembuh dari kanker stadium 4, yang &#8211;meminjam istilah anda&#8211; bukan hanya permainan kata-kata?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Titah</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2891</link>
		<dc:creator>Titah</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 16:53:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2891</guid>
		<description>Dear Yoan,
Waduh, sorry ya kalau tulisan saya membuat Yoan jadi ragu dan bingung. Padahal maksud saya bukan seperti itu...

Kemoterapi memang memiliki banyak efek samping, tetapi juga memiliki aturan dan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Makanya SETIAP akan menjalani sesi kemoterapi, pasien pasti harus menjalani pemeriksaan kesehatan dulu. Kalau diperkirakan kondisi si pasien kurang bagus, tentu kemoterapinya ditunda untuk memperbaiki kondisi lebih dulu, atau bahkan dibatalkan sehingga tidak berakibat fatal.

Yoan, tidak mudah untuk mengatasi kanker stadium 4, baik di Indonesia atau di mana pun, termasuk di China. Pilihannya banyak, tapi apakah benar-benar akan efektif untuk menyembuhkan kanker stadium 4, tidak ada yang berani menjamin. Karena kanker adalah penyakit yang sangat kompleks, membutuhkan penanganan maksimal dan kerja keras semua pihak dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Tetapi bukan berarti tidak ada harapan, lho. Untuk dapat memenangkan pertarungan melawan kanker, selain menjalani pengobatan rutin tante Yoan dengan dukungan seluruh keluarga dan kerabat masih harus melakukan &quot;upaya nonmedis&quot; seperti yang bisa Yoan baca &lt;a href=&quot;http://rumahkanker.com/content/view/50/59/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. Sedang pengobatan apa yang dipilih sebagai pengobatan pertama/rutin, terserah tante Yoan saja, tentunya dengan mempertimbangkan berbagai hal seperti kondisi fisik maupun psikologis, kondisi ekonomis, kondisi sosial, maupun kondisi spiritualnya. 

Contoh yang lebih lengkap dan terperinci tentang upaya penyembuhan tanpa kemoterapi bisa Yoan baca &lt;a href=&quot;http://www.geocities.com/melawankanker/melawankanker/index.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. Tapi saya ingatkan, cara tersebut tidak mudah dijalani, butuh biaya besar, dan jangan pernah melakukannya tanpa bimbingan orang-orang yang benar-benar mengerti. (Saya tidak tahu kondisi di kota Yoan, tapi di Surabaya saya belum menemukan orang yang dapat membimbing menjalani pengobatan itu.)

Yang paling bagus sih, memadukan pengobatan medis dengan pengobatan alternatif. Lebih efektif. Tapi sebelumnya baca dulu tentang &lt;a href=&quot;http://rumahkanker.com/content/view/13/59/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;pertimbangan yang dibutuhkan dalam memilih pengobatan alternatif&lt;/a&gt;, juga &lt;a href=&quot;http://rumahkanker.com/content/view/35/59/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bagaimana memilih makanan suplemen&lt;/a&gt;. Kalau tante ingin mencoba pengobatan alternatif saja, pastikan memiliki pembimbing yang keahliannya dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, dan tetap lakukan pantauan secara medis sebulan sekali. Kalau dalam waktu 2 bulan tidak ada kemajuan, segera tinggalkan dan beralih ke metode pengobatan lain. Tapi selama belum menemukan pembimbing &quot;alternatif&quot; yang benar-benar profesional, untuk saat ini saya cenderung menyarankan tante menjalani kemoterapi sambil intens menjalankan &lt;a href=&quot;http://rumahkanker.com/content/view/50/59/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;berbagai upaya nonmedis&lt;/a&gt; tersebut secara terpadu, karena penundaan lebih lama dapat berakibat lebih fatal.

Pada akhirnya kepada Tuhanlah kita memohon pertolongan dalam setiap upaya kita, karena Tuhanlah pemilik segala keputusan dan jalan yang terbaik. Saya doakan tante Yoan diberi kesembuhan yang penuh rahmat Tuhan, amin...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Yoan,<br />
Waduh, sorry ya kalau tulisan saya membuat Yoan jadi ragu dan bingung. Padahal maksud saya bukan seperti itu&#8230;</p>
<p>Kemoterapi memang memiliki banyak efek samping, tetapi juga memiliki aturan dan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Makanya SETIAP akan menjalani sesi kemoterapi, pasien pasti harus menjalani pemeriksaan kesehatan dulu. Kalau diperkirakan kondisi si pasien kurang bagus, tentu kemoterapinya ditunda untuk memperbaiki kondisi lebih dulu, atau bahkan dibatalkan sehingga tidak berakibat fatal.</p>
<p>Yoan, tidak mudah untuk mengatasi kanker stadium 4, baik di Indonesia atau di mana pun, termasuk di China. Pilihannya banyak, tapi apakah benar-benar akan efektif untuk menyembuhkan kanker stadium 4, tidak ada yang berani menjamin. Karena kanker adalah penyakit yang sangat kompleks, membutuhkan penanganan maksimal dan kerja keras semua pihak dalam jangka waktu yang cukup panjang.</p>
<p>Tetapi bukan berarti tidak ada harapan, lho. Untuk dapat memenangkan pertarungan melawan kanker, selain menjalani pengobatan rutin tante Yoan dengan dukungan seluruh keluarga dan kerabat masih harus melakukan &#8220;upaya nonmedis&#8221; seperti yang bisa Yoan baca <a href="http://rumahkanker.com/content/view/50/59/" rel="nofollow">di sini</a>. Sedang pengobatan apa yang dipilih sebagai pengobatan pertama/rutin, terserah tante Yoan saja, tentunya dengan mempertimbangkan berbagai hal seperti kondisi fisik maupun psikologis, kondisi ekonomis, kondisi sosial, maupun kondisi spiritualnya. </p>
<p>Contoh yang lebih lengkap dan terperinci tentang upaya penyembuhan tanpa kemoterapi bisa Yoan baca <a href="http://www.geocities.com/melawankanker/melawankanker/index.html" rel="nofollow">di sini</a>. Tapi saya ingatkan, cara tersebut tidak mudah dijalani, butuh biaya besar, dan jangan pernah melakukannya tanpa bimbingan orang-orang yang benar-benar mengerti. (Saya tidak tahu kondisi di kota Yoan, tapi di Surabaya saya belum menemukan orang yang dapat membimbing menjalani pengobatan itu.)</p>
<p>Yang paling bagus sih, memadukan pengobatan medis dengan pengobatan alternatif. Lebih efektif. Tapi sebelumnya baca dulu tentang <a href="http://rumahkanker.com/content/view/13/59/" rel="nofollow">pertimbangan yang dibutuhkan dalam memilih pengobatan alternatif</a>, juga <a href="http://rumahkanker.com/content/view/35/59/" rel="nofollow">bagaimana memilih makanan suplemen</a>. Kalau tante ingin mencoba pengobatan alternatif saja, pastikan memiliki pembimbing yang keahliannya dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, dan tetap lakukan pantauan secara medis sebulan sekali. Kalau dalam waktu 2 bulan tidak ada kemajuan, segera tinggalkan dan beralih ke metode pengobatan lain. Tapi selama belum menemukan pembimbing &#8220;alternatif&#8221; yang benar-benar profesional, untuk saat ini saya cenderung menyarankan tante menjalani kemoterapi sambil intens menjalankan <a href="http://rumahkanker.com/content/view/50/59/" rel="nofollow">berbagai upaya nonmedis</a> tersebut secara terpadu, karena penundaan lebih lama dapat berakibat lebih fatal.</p>
<p>Pada akhirnya kepada Tuhanlah kita memohon pertolongan dalam setiap upaya kita, karena Tuhanlah pemilik segala keputusan dan jalan yang terbaik. Saya doakan tante Yoan diberi kesembuhan yang penuh rahmat Tuhan, amin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: omri</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2885</link>
		<dc:creator>omri</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 12:30:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2885</guid>
		<description>Kalau saya mau lebih to the point, untuk tidak membingungkan sdr Yoan, angka statistik keberhasilan chemotherapy itu didunia sangat rendah, kurang dari 5% yang benar benar sembuh dengan cara ini. Mungkin oncologist anda akan berkata 50% survival rate, namun defenisi survival rate mereka itu bukannya sembuh, tetapi bisa hidup hingga 5 tahun. Jadi mereka bermain kata kata saja. Kalaupun hidup lebih dari 5 tahun, maka chemical dari chemo ini akan menghasilkan cancer baru karena ia bersifat carciogenic. Jangan terpesona dengan satu orang yang sembuh diantara 100 orang yang mati lainnya. Sama halnya dengan radiasi, pengobatan kedua cara ini sudah dalam taraf kriminalisasi pengobatan. Anda bisa tanyakan dokterny: apakah ia sendiri akan bersedia di chemo kalau kena cancer. Kalau dia jujur, dia tidak akan pernah mau di chemo. Kecuali kalau dia masih ingin uang anda, maka dia akan berbohong... . Kesimpulannya, jangan chemo dan radiasi. Kualitas hidup anda akan rusak dan anda lebih baik hidup pendek namun masih ada kualitasnya,....... dan masih ada cara lain koq. Mudah2an bermanfaat dan maaf kalau terlalu to the point. Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya mau lebih to the point, untuk tidak membingungkan sdr Yoan, angka statistik keberhasilan chemotherapy itu didunia sangat rendah, kurang dari 5% yang benar benar sembuh dengan cara ini. Mungkin oncologist anda akan berkata 50% survival rate, namun defenisi survival rate mereka itu bukannya sembuh, tetapi bisa hidup hingga 5 tahun. Jadi mereka bermain kata kata saja. Kalaupun hidup lebih dari 5 tahun, maka chemical dari chemo ini akan menghasilkan cancer baru karena ia bersifat carciogenic. Jangan terpesona dengan satu orang yang sembuh diantara 100 orang yang mati lainnya. Sama halnya dengan radiasi, pengobatan kedua cara ini sudah dalam taraf kriminalisasi pengobatan. Anda bisa tanyakan dokterny: apakah ia sendiri akan bersedia di chemo kalau kena cancer. Kalau dia jujur, dia tidak akan pernah mau di chemo. Kecuali kalau dia masih ingin uang anda, maka dia akan berbohong&#8230; . Kesimpulannya, jangan chemo dan radiasi. Kualitas hidup anda akan rusak dan anda lebih baik hidup pendek namun masih ada kualitasnya,&#8230;&#8230;. dan masih ada cara lain koq. Mudah2an bermanfaat dan maaf kalau terlalu to the point. Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: triyono</title>
		<link>http://blog.rumahkanker.com/2009/03/keluarga/takut-kemoterapi/comment-page-1/#comment-2876</link>
		<dc:creator>triyono</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 10:23:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.rumahkanker.com/?p=261#comment-2876</guid>
		<description>Dear Yoan, Saya seusia tante Yoan, dan baru tahun lalu selesai menjalani chemotherapy. Sayapun didiagnosa menderita kanker paru stad IV sehingga tidak dapat dioperasi lagi karena sudah ada penyebaran ke tulang. Satu-satunya usaha adalah chemotherapy untuk memburu sel-sel kanker yang sudah menyebar, dan radiotherapy untuk membunuh kanker utama yang ada di paru. Kedua therapy saya jalani tanpa efek samping yang berarti. Jika ada yang meninggal saat proses chemotherapy, menurutku itu hanya kasus saja, karena bahkan dimanapun kita bisa saja meninggal bukan?. Lebih-lebih obat-obatan generasi terakhir ini sudah demikian pesat berkembang sehingga efek yang kurang menyenangkan sudah berhasil diminimalisir. Jadi tetaplah berusaha, karena semakin cepat semakin baik bagi tante Yoan. Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Yoan, Saya seusia tante Yoan, dan baru tahun lalu selesai menjalani chemotherapy. Sayapun didiagnosa menderita kanker paru stad IV sehingga tidak dapat dioperasi lagi karena sudah ada penyebaran ke tulang. Satu-satunya usaha adalah chemotherapy untuk memburu sel-sel kanker yang sudah menyebar, dan radiotherapy untuk membunuh kanker utama yang ada di paru. Kedua therapy saya jalani tanpa efek samping yang berarti. Jika ada yang meninggal saat proses chemotherapy, menurutku itu hanya kasus saja, karena bahkan dimanapun kita bisa saja meninggal bukan?. Lebih-lebih obat-obatan generasi terakhir ini sudah demikian pesat berkembang sehingga efek yang kurang menyenangkan sudah berhasil diminimalisir. Jadi tetaplah berusaha, karena semakin cepat semakin baik bagi tante Yoan. Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

