Saat vonis kanker jatuh, 75% penderita dan keluarga menjadi panik dan bertindak irasional dalam upaya pengobatan. Keluarga, kerabat, dan tetangga kanan-kiri yang merasa turut prihatin menyumbang berbagai informasi pengobatan. Katanya… katanya… katanya…. berbagai informasi “katanya” diberikan dengan itikad baik, sayang berasal dari sumber-sumber yang tidak jelas.
Saat pengobatan medis terasa menakutkan dan mahal, maka pengobatan alternatif menjadi pilihan utama. Seribu informasi “katanya” dicoba satu demi satu, tidak peduli rasional atau irasional, sudah teruji secara ilmiah atau belum. Penderita mengobati dirinya sendiri tanpa bekal pengetahuan yang cukup, dan akhirnya meninggal dunia tanpa mendapat penanganan yang benar. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Tentunya kita tidak mau menjadi korban berikutnya. Yuk kita ikuti workshop dan seminar kanker bertema “Pengenalan Metode Self Therapy Bagi Penderita Kanker dan Keluarga Untuk Menghindari Kepanikan dan Tindakan Irasional Dalam Upaya Pengobatan Kanker”.
Hari, tanggal : Minggu, 10 Mei 2009
Pukul : 08.30 – 15.00
Tempat : Aula lt. 2 Bapelkes Bendul Merisi, Jl. Bendulmerisi 07, Surabaya
Narasumber :
- 1. dr. Supriyono SpOG (K) – dokter spesialis kanker RSAL Surabaya
2. Cahya Yudi Widianto – terapis Qi Gong, penemu Nutricakra Propolis
3. Dr. drh. Pudji Astuti, MP, Kabid. Layanan Praklinik dan Hewan Coba LPPT UGM Yogyakarta
Moderator : Dra. Nyimas Fatria, Apt, MKes – Staff Ahli Dinkes Jatim
Dalam seminar ini kita akan belajar bagaimana cara yang benar untuk menjadi terapis bagi diri sendiri. Peserta dibatasi 250 orang saja. Disediakan hadiah senilai @ Rp 400 ribu bagi lima orang penanya terbaik. Berminat? Silakan menghubungi telp. 031-8483467 atau fax. 031-8483468 untuk informasi lebih lanjut atau memesan tiket. Biayanya Rp 50 ribu untuk pengganti makalah dan konsumsi selama acara.
Yuli Setyo Purnomo

Cerita Sejenis:
Sudah 6 sahabat yang menanggapi
kanker ihhh kalimat yang mengerikan, sekarang semakin banyak penderita kanker karena sudah mulai rusaknya kondisi lingkungan, banyaknya makanan mengandung pengawet dan pewarna serta banyaknya makanan yang mengandung pestisida.
Susah ya untuk hidup sehat, ayuk sekarang mulai hidup sehat dengan kembal ke alam antara lain untuk tanaman mengurangi penggunaan pestisida kembal ke pupuk alam, kurangi makanan pengawet.
Self Therapy, sebuah istilah yang menarik…dalam prakteknya memang tidak mudah, tapi juga tidak sulit.Ini acara yang bagus, terlebih jika mampu memberikan informasi pada awam tentang beredarnya “penawaran” yang tidak bertanggung jawab he-he-he…semoga. Amin.
Saya usul kepada panitia acara ini, setelah selesai agar paparannya dapat ditampilkan disini agar dapat dikonsumsi oleh yang tidak dapat hadir disana. Bila terlalu panjang isinya, minimal dapat diberikan ringkasan dan juga alamat link dimana paparan lengkapnya dapat dibaca. Acara ini saya duga akan menarik, karena diberikan bukan oleh dokter saja, tetapi juga oleh terapis Qi Gong dan terakhir oleh DOKTER HEWAN. Saya jadi kaget dan kagum…
Salam, Omri
Setuju, tolong ditampilkan rangkuman hasilnya.
semoga bisa menjadi manfaat bagi yang lain.
Semoga Allah memberi kebaikan yang berlipat bagi
panitia.
Wassalam
Tofik
Kebetulan waktu itu saya ikut seminarnya. Memang cukup menarik karena semua topik diberikan landasan ilmiahnya, tetapi sayangnya tidak sekomprehensif yang digambarkan dalam “judul seminar”.
Dr. Supriyono SpOG (K) memberikan penjelasan umum mengenai apa dan bagaimana kanker iku, khususnya kanker-kanker pada wanita (payudara, serviks, ovarium).
Cahya Yudi Widianto tidak membahas terapi Qi Gong, melainkan menjelaskan tentang pentingnya sikap positif dan optimistik dalam pengobatan. Menurut dia sikap pesimistik, ragu, takut, tidak percaya, menjalani dengan setengah hati, dll akan membuat tubuh tidak merespon pengobatan. Dengan kata lain, obat-obatan tidak bisa bekerja, dan akhirnya biaya yang mahal terbuang sia-sia. Untuk membangun sikap positif, salah satu yang dicontohkan dan didemokan dalam seminar itu adalah dengan hypnoterapi.
Sedang Dr. drh. Pudji Astuti, MP merupakan peneliti yang diminta oleh Pak Cahya untuk meneliti manfaat produk Madu Super Propolis yang ditemukan/diramunya untuk pencegahan dan pengobatan kanker payudara. Hasil penelitian pada tikus putih yang diinduksi dengan dimethylbenz(a)anthracene menunjukkan Madu Super Propolis (50% madu, 40% propolis, dan 10% royal jelly) mampu menghambat munculnya kanker payudara pada 40% hewan coba; mampu menghentikan pertumbuhan tumor pada 15% hewan coba, dan mampu memperkecil ukuran tumor pada 69% hewan coba.
Pada seminar itu juga ditampilkan testimoni seorang ibu penderita kanker payudara stadium 4 yang mengkonsumsi madu tersebut dengan hasil cukup baik.
Semoga bisa sedikit mengurangi rasa penasaran.
Thanks Ibu Titah, betul sekarang penasarannya sudah terobati.
Kalau sudah ndak sibuk, jangan lupa up-load artikel dari saya.
Salam, Omri
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)