salam semuanya…
maaf sebelumnya kalau saya curhat disini.. melalui tulisan rasanya saya dapat lebih mengeluarkan uneg-uneg soalnya ![]()
kakek saya (biasa saya panggil abah) bulan lalu baru saja divonis kanker hati stadium IV. dan dokternya bilang ke ibu saya, “bikin seneng aja bapaknya ya Bu, soalnya ini sepertinya udah bukan hitungan tahun lagi. tapi hitungan bulan”.
abah tinggal di Bandung, sedangkan orangtua saya di Jakarta. saya baru lulus SMA, boarding school, jadi selama ini saya hanya mengikuti perkembangan kesehatan abah lewat bertanya sama ibu aja. alhamdulillah, sejak 3 bulan lalu saya sudah diterima di universitas dan jurusan pilihan pertama saya di Bandung. abah senang sekali waktu pengumuman itu. selama ini beliau memang mengharapkan cucunya ada yang tinggal bareng abah di sana. saya cucu pertamanya, dan saya berhasil.
waktu pengumuman itu memang abah sudah agak sakit-sakitan. sempat diopname juga, dan sudah divonis ada tumor di hati. tapi belum diketahui seberapa ganas tumornya itu. baru bulan lalu, akhirnya diketahui abah menderita kanker hati stadium IV. abah sendiri belum mengetahui stadiumnya. ia tahu ia menderita kanker hati, tapi sejauh ini belum ada yg memberitahunya tentang keganasan kankernya. yaa mungkin abah sudah tau karena sakit yang dirasakannya.. tapi toh abah juga tidak pernah menanyakan separah apa kankernya.
sakit abah kan tidak bisa sembuh. dokternya pun hanya bisa memberi obat untuk meringankan. alhamdulillah keluarga saya diberi rezeki lebih oleh Allah dan mampu untuk membiayai obat yang harganya, masya Allah, 24 juta sebulan itu. saya saja kaget waktu dikasih tau ibu.
sekarang abah sedang di jakarta, ibu berharap semoga dengan ngumpul bareng cucu-cucunya abah bisa menjadi lebih gembira. dan kata teman ibu saya yang menderita hepatitis c, memang obatnya adalah kegembiraan. tapi baru saja, untuk pertama kalinya saya melihat sendiri abah sedang kesakitan di kamar, hanya ditemani umi. selama ini juga umi tidak membiarkan cucu-cucunya melihat abah jika sakit di perutnya kambuh.. tadi pun hanya tidak sengaja terlihat. saya speechless tadi. abah berbaring memegangi perutnya, menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu menggumamkan apa. mungkin menyebut2x nama-Nya. umi duduk di sebelah abah hanya menatap dengan.. gak tau. prihatin, kasihan, sedih, ikut sakit juga mungkin.. saya salut sama umi. bisa tabah menghadapi hal ini. saya saja tadi langsung ke kamar, sholat, nangis.
tidak sampai sebulan lagi saya akan pindah ke bandung, ke rumah abah, untuk kuliah. saya ingin di Bandung bersama umi dan abah dalam kondisi sehat.. tapi mungkinkah? saya memilih untuk optimis. semoga abah diberi jalan akhir yang terbaik.. semoga saya dan keluarga besar saya juga bisa menghadapi segalanya dengan ikhlas dan tawakal. amin.
nisa

Cerita Sejenis:
Sudah 6 sahabat yang menanggapi
Dear Nisa….
Kalo kita menyadari….setiap sudut dari ruang kehidupan adalah cobaan. Setiap sudut. Entah itu kesakitan, kesedihan, penderitaan ataupun kebahagiaan.Tidak terkecuali.Saya mengalami vonis hitungan bulan, padahal stadium saya masih II B. Sangat jauh dari mimpi untuk sembuh yang dikatakan beberapa dokter waktu itu. Tapi saya meyakini satu hal, bahwa lahir, hidup dan mati saya hanya Tuhan yang tahu…dan dengan peringatan ini, kita isi sisa hidup dengan hal-hal yang baik. Ok? Kalo di jakarta, gabung dengan komunitas kanker, ada CISC, YKI dll…untuk menambah wawasan, menepis perasaan sepi dan sendiri…
Oh iya, apakah dokternya memberikan rekomendasi makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh? Ada buku bagus “Miracle of Enzym” dan “Gerson Therapy”(ringkasannya ada di website ini, club nya juga ada di jakarta) atau “Melawan kanker/ Ane E.Farhm”. Dalam islam, “segala penyakit ada obatnya….” Banyak stadium 4 yang sembuh dengan mukjizat Tuhan….semoga Abah termasuk orang terpilih yang mendapat mukjizatNya, amin…
Salam kenal, Nisa…
Entah kenapa, setiap aku mendengar kata ‘kanker’ , tiba2x aku merasa kesel, takut, sedih, benci pokok y cmpur aduk,, apalagi ktika pnyakit itu mrenggut org2x yg kita cintai,, buat kak Nisa, walaupun dokter udah memvonis, tapi inget smua kembali kpd yg menciptakan kita, Allah SWT. Jangan pernah berhenti utk memberikan dukungan moril kpd Abah, dan kta sbg manusia hrus inget tiap pnykit pasti ada obatnya, hmm aku bkn mw promosi y kak,, tp boleh dicoba kapsul ‘habbatusauda’, krn dah byk orang yg membuktikan y, dan tnman ini ada hadis y , tp aku p’caya smua kmbali kpd Nya.
hai nisa,
selamat ya, sudah diterima di universitas & jurusan pilihan. abah pasti bangga dan bahagia sekali punya cucu seperti kamu, yang cerdas, pintar, tegar, dan begitu sayang pada beliau.
kanker hati stadium 4, menurut “matematika” kedokteran memang seperti tinggal menunggu bulan. tapi ahli pengobatan kan bukan cuma dokter, nis. Allah lah Sang Maha Penyembuh. soal kematian adalah rahasia Allah. aku doakan, semoga abah diberi jalan menuju kesembuhan yang barokah oleh Allah. jika pun harus menghadap-Nya, semoga beliau menghadap dengan khusnul khatimah. amin ya Rabb…
tentang rasa sakit yang dialami abah, mumpung abah di jakarta coba dimintakan obat ke poli paliatif di dharmais. obatnya berupa codein atau morfin. memang tidak semua dokter mau memberikan, tapi dokter di poli paliatif pasti mau, karena memang hanya itu yang bisa mengatasi nyeri kanker. walaupun mungkin penyakitnya tak tersembuhkan, abah berhak untuk tetap hidup secara nyaman bebas dari rasa nyeri, supaya bisa tetap berdzikir dan beribadah dengan baik. ya nggak?
aku doakan semoga abah sekeluarga beserta para anak-cucu, terutama nisa, mendapat limpahan rahmat Allah dan ditingkatkan derajatnya melalui cobaan ini. amiinn…
salam kenal…
jum’at kemarin, dokter mengatakan ibu saya menderita ‘tumor’ mengarah k ganas pada payudara. awalnya saya tidak menunjukkan air mata, tapi akhirnya air mata jatuh juga. dokter menyarakan untuk tidak ke satu dokter, biar melihat analisis dari berbagai macam dokter. ketiga dokter menyatakan harus diangkat, hancur… rasanya mendengar smua, smoga disini saya bisa berbagi.. sekarang sedang proses periksa lab lebih lanjut, tidak seberuntung yang lain, saya tidak mempunyai rezeki lebih untuk smua proses ini. tapi, alhamdulillah sampai saat ini ada saja jalannya, tapi untuk sampai pada tahap lebih lanjut (operasi) saya ‘gak tau lagi harus bagaimana. untuk sampai tahap sekarang periksa ke dokter, lab dll, bagi saya merupakan “keajaiban Allah” Tuhan sang pemilik, rasanya Allah berperan dalam semua proses ini. walaupun saya ‘gak tau lagi harus bagaimana (rasanya seperti buntu) saya masih berharap terus ada keajaiban dari Tuhan untuk menyembuhkan sakitnya ibu saya, salah satunya keajaiban doa… saya meminta mohon doanya untuk kesembuhan ibu saya dan semoga di berikan jalan yang terbaik untuk semua proses yang berat ini
@ Mi….
Coba ngurus surat keringanan biaya misalnya melalui Jamkesmas atau Askeskin, oke? Bisa ditanyakan ke RT / RW dan kelurahan terdekat.
Saya juga mastektomi…dan alhamdulillah masih sehat sampai sekarang, jangan berkecil hati ya…
dear mi,
sungguh aku bisa mengerti kebuntuan pikiranmu. tetapi bukankah seperti mi tulis sendiri Allah-lah yang berperan dalam semua proses itu? Allah berkenan menguji mi & ibu, pasti Allah juga yang akan memberikan jalan-Nya. apa yang Ia tetapkan selalu itulah yang terbaik bagi kita, walau kadang kita tak mampu memahaminya.
jangan putus asa, seperti yang Ani bilang cobalah mengurus surat2 untuk mendapatkan keringanan biaya. sementara itu kamu juga harus bicara dengan keluarga besarmu, dengan senang hati mereka pasti membantu. doaku selalu, dan salamku untuk ibu, ya.
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)