Assalamualaikum Wr Wb,
Melalui tulisan ini saya membutuhkan masukan tentang pengobatan2 yang mungkin akan membantu kondisi Ibu saya. Ibu saya mengalami kanker payudara stadium akhir, payudara kiri beliau sudah di angkat sekitar tahun 2003, tahun 2004 beliau menjalani kemo di Malaysia selama 7-8 x dan radiotherapy selama hampir 1 bulan. Sesudahnya kondisi Ibu saya mulai membaik, namun setelah itu penyakit beliau kambuh lagi,dan memburuk.
Dimulai dari beliau harus kembali menjalani operasi di payudara kiri karena ada jaringan yang kembali aktif, ini di lakukan sekitar tahun 2006, sesudahnya tangan beliau terasa mati rasa, waktu ditanyakan pada dokter yang melakukan operasi, dokter bilang itu tidak ada sangkut pautnya dengan operasi, dokter tidak mau menerima kalau itu bisa jadi adalah efek dari operasi yang dilakukan. Hal ini sangat mengecewakan, sebetulnya saya ingin Ibu saya melanjutkan pengobatan di luar, tapi Ibu saya tidak mau jauh2 karena tidak kuat dengan perjalanan.
Sementara saya dan Ibu saya banyak sekali dikecewakan dengan sikap dokter di Indonesia, sebagai dokter onkology mestinya para dokter2 ini diingatkan sekali lagi dengan sumpah mereka sebagai dokter, dan tidak terlalu main harga diri hanya karena status mereka sebagai dokter. Bahasa mereka banyak yang tidak halus atau sopan, yang menyebalkan mereka juga menyinggung keputusan Ibu saya berobat di luar negeri membuat status dokter di Indonesia jadi direndahkan di negara lain, kata salah satu dokter Ibu saya seperti memberikan PR yang tidak selesai yang sudah di kerjakan dokter sana padahal salah mereka sendiri, bicara kok pada kasar2, bukan memberi semangat dan bersikap santun tapi malah menggurui apalagi kalau statusnya sudah bertitel seperti kereta api. Sementara di luar negeri, mereka jauh lebih santun dan banyak mensuppport para penderita, kalau tidak melihat Ibu saya, saya sudah emosi ingin menggebrak2 meja dokter2 tersebut.
Saat ini tangan kiri masih bisa di gunakan namun terkadang jemari tidak bisa merasakan apa yang disentuh dan dipegang, beberapa kali piring atau gelas jatuh dari pegangan Ibu saya tanpa beliau menyadarinya. Setelah operasi terakhir, Ibu saya jadi trauma, terlebih lagi Ibu saya juga sempat mencoba kemo di sini, dan rasa sakitnya jauh tidak tertahankan dibanding waktu Ibu kemo di M’sia, Ibu sempat tidak bangun 1 minggu. Dokter memberi pilihan radio therapy, sempat juga di jalankan, namun karena dokternya meminta Ibu untuk kembali kemo, plus sikap dokter yang makin ke belakang makin dingin, Ibu memutuskan untuk berhenti.
Semua itu terjadi sampai sekitar tahun 2006. Setelah dihentikan Ibu saya menjalani terapi alternative seperti reflexiology, terapi herbal (kunyit putih, mahkota dewa, jamur lingzhi, tianshi), akupunkture, sampai kehamilan dan kelahiran anak pertama saya, kondisi Ibu bisa di katakan cukup membaik.
Namun tahun ini Ibu sempat di rawat di RS karena Ibu tidak bisa menerima makanan sama sekali, selama di rumah sakit di infus dan di rujuk ke dokter onkology RS tsb, sekali lagi di sarankan untuk kemo, dan sekali lagi Ibu menolak. Karena bagi beliau badan sudah sakit, di sakiti lagi malah bikin beliau tambah stress. Saat di RS kami mencoba 2-3 tempat untuk mengetahui kondisi Ibu, karena kini mulai timbul beberapa benjolan baru, di tulang leher, awalnya kecil tapi jadi membesar, terkadang memerah dan gatal. Di ketiak kanan, dan dada kanan. Sementara ketiak kiri kembali sakit. Menurut Dokter, kanker sudah metastase atau menyebar, ke tulang punggung dan kemungkinan paru2 juga ( karena ada flek atau bayangan di paru2 kiri), Ibu kini mulai sering sakit punggung, pinggul, dan sering sekali batuk tanpa riak atau lender.
Jadilah beliau kembali pulang ke rumah, setelah itu Ibu memutuskan pulang ke kampung halaman, alasannya karena udara di sana lebih sehat dan Ibu memang dibesarkan di sana jadi banyak kenalan. Hanya yang merepotkan dari Jakarta-Bukittingi itu jauh, saya takut kalau kondisi Ibu drop dan hanya ditemani ayah saya. Tapi Ibu tetap berkeras ingin di sana. Sekarang Ibu sedang di Jakarta setelah 2 bulan di kampung, kondisinya tidak ada perubahan, namun karena di Jakarta ketemu cucu pertamanya Ibu jadi agak semangat. Saya sedang membujuk agar beliau tinggal di JKt saja.
Saat ini Ibu berobat di Sinshe Kelapa Gading, minum ramuan herbal China, tapi batuk Ibu tidak kunjung sembuh, kasihan beliau jadi susah tidur. Ibu juga merasa tubuhnya lemas, dan memaksakan diri untuk makan. Hanya ramuan yang Ibu makan membantu pengempisan bengkak yang ada di tulang leher, dan dada.
Saya butuh masukan pengobatan alternative yang dapat membantu menguatkan stamina Ibu saya, serta membantu penghambatan pertumbuhan kanker, seandainya Allah berkenan mungkin bisa membantu menghentikan kanker Ibu saya. Bagi saya keberadaan Ibu di sisi saya hingga saat ini dalam perjuangan melawan kankernya sudah merupakan keajaiban Allah, saya pribadi menyiapkan diri saya untuk yang terburuk, namun saya juga keluarga tidak ingin berhenti berikhtiar terus mencari pengetahuan2 baru tentang pengobatan kanker untuk Ibu tercinta.
Sekiranya para saudara seperjuangan dan sependeritaan bisa memberikan masukan terhadap saya, sekecil apapun itu akan sangat membantu, saya ingin Ibu saya berbahagia di masa tuanya, walau harus sembari berjuang, setidaknya terus ada harapan bagi beliau untuk bisa meringankan sakit.
Saya mengharapkan masukan2 untuk pengobatan Ibu saya, terima kasih banyak telah membaca curhat saya, dan terima kasih banyak yang tak terhingga untuk mereka yang berkenan memberikan masukan untuk saya, semoga Allah SWT memberikan kebaikan yang berlimpah untuk waktu yang telah anda luangkan dalam memberi masukan tsb. Amin. Terima kasih banyak.
Riska


Cerita Sejenis:
Sudah 4 sahabat yang menanggapi
Wa alaikum salam wr wb Riska,
Memang demikianlah kompleksitas permasalahan yang menyertai kanker. Begitu berat dan rumit. Proses pengobatan begitu panjang, melelahkan, penuh efek samping dan penderitaan, mahal pula! Menghadapi kanker bukan hanya pasien maupun keluarganya yang tertekan, dokter pun sangat tertekan. Apalagi seorang dokter harus menghadapi dan memecahkan persoalan berpuluh-puluh pasien yang berbeda setiap harinya. Sungguh tidak mudah.
Kalau sekarang ibu berkeras pulang ke Bukittinggi, menuruti keinginan beliau adalah tindakan yang bijaksana. Beliau punya “otonomi penuh” untuk menentukan pilihannya sendiri. Tentu jangan lupa untuk membekali dengan obat-obatan yang dibutuhkan. Mengenai perawatan ibu sehari-hari, kalau ada dana sebaiknya menggunakan tenaga profesional yang bersedia merawat orang sakit di rumah, misalnya pensiunan perawat rumah sakit.
Mengenai pengobatan alternatif, biasanya resep dari sinshe sudah lengkap sekali. Tapi boleh juga ditambah dengan madu atau royal jelly, jus buah, atau suplemen & multivitamin yang kira-kira dibutuhkan. Jangan dilupakan suasana hati yang tenang, tenteram, dan bahagia, terlebih dekat kepada Allah, akan sangat memperkuat kondisi ibu. Semoga Allah memberi kekuatan, pertolongan, dan kemudahan kepada Riska sekeluarga, khususnya ibu. Salam untuk beliau ya, Ris.
Dear Riska…..
Apa yang Ibu Riska alami, ada sedikit persamaan dengan apa yang pernah saya lewati dalam menghadapi sikap dokter.Ini sangat menyita pikiran, membuat kita marah dsb. Tapi satu hal yang harus kita sadari, tujuan kita adalah sembuh. Sembuh bisa berarti kondisi membaik, terbebas dari sakit dsb,dsb. Nah, untuk mendapatkan itu semua yang terpenting adalah pengendalian diri, terutama bagi si pasien. Karena apa? Psikis 70% sangat membantu. Jadi tolong, untuk kebaikan semua terutama Ibu, mari sama-sama kita maafkan kelakuan “mereka” yang kurang menyenangkan. Maafkan juga diri kita sendiri. Seperti kata Mba Titah, ini panjang dan melelahkan…kita perlu energi positif yang bisa membantu kita untuk tetap “fresh”.
So…tentang keinginan ibu pulang kampung saya sependapat dengan Mba Titah.
Selanjutnya, jika saat ini sudah menjalani pengobatan Sinse, tolong kesabarannya juga ditingkatkan. Pengobatan alternatif proses penyembuhannya cenderung lebih lambat, dan sedikit banyak hal ini bertentangan dengan medis konvensional. Dan yang harus digarisbawahi, untuk mencari kesembuhan pada kanker sangat dituntut sikap yang konsisten dan keyakinan yang tinggi. Sertakan do’a dan kepasrahan padaNya…insya Allah Tuhan akan campur tangan dengan caranya yang sangat baik. Salam untuk ibu….semoga selalu dalam penjagaanNya, amin.
Assalamualaikum wr.wb.
Selamat pagi mbak/ibu Riska.
Saya ada info solusi pengobatan alternatif herbal,insya allah ini bisa jadi jalan kesembuhan buat ibu anda. Ibu pernah denger pa belum tentang Propolis? InsyaAllah bisa untuk segala jenis penyakit. Dasarnya ada di Al-Quran QS. An-Nahl.”…Akan keluar dari perut lebah beraneka warna,yang mana ada obat untuk kesembuhan penyakit untuk umat manusia…”. Semoga ini bisa jadi jalan keluar yang diridhoi Allah SWT. Amin Ya Rabbal ‘Alamiin ! Sekian. Wassallam.
Waalikkum salam.
Riska, kanker yang menyebar mamang butuh penanganan extra. penanganan kanker ada 3 cara : bedah, kemotherapy dan radiasi atau gabungan 2 bahkan k 3nya. peran keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien kanker. keputusan ibu harus kita hormati, kalau memang ibu ingin di kampung silahkan. mungkin beliau akan lebih tenang dan nyaman dari pada beliau tinggal di jkt yang penuh keramaian, polusi dll sehingga beliau kurang nyaman dan stress (salah satu pemicu kanker adalah stress). untuk meningkatkan imun ibu, riska cari informasi ttg Transfer Factor (TF). saya punya sedikit pengalaman dengan TF untuk pasien kanker, responya luar biasa. ibu teman saya kanker payudara std 3 (tgl. di medan), tidak mau berobat karena trauma : kakak dan anaknya yang sulung meninggal dengan kanker. kebetulan teman saya mampir ke RS Kanker Dharmais (t4 saya mengabdi) dan bertemu dengan salah satu dokter anak yang merekomend TF, Alhamdulillah sampai sekarang masih survive dan bisa beraktifitas kembali.
Salam, semoga bermanfaat. Amieen
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)