Pertama, terimah kasih atas blog Rumah Kanker yg penting sekali. Cerita saya seperti berikut. Harap dapat dimengerti. Soalnya saya asli AS dan agak susah menulis Bahasa Indonesia.
Kalau blog kanker, saya setujuh bangat, karena benar2 masuk akal. Setau saya, kanker tidak seperti penyakit lain — yg gampang dimengerti dan sembuh. Kalau kanker, kita mesti sabar dan mesti rajin belajar dan membagi informasi.
Saya sudah ketemu dng lebih dari 10 dokter di RS MMC, RS Fatmawati, RS Cipto, RS Dharmais, dan satu RS lagi yg di THT yg di Menteng untuk nanya kasus mertua saya yg sakit kanker lidah secara lanjut. Kasian sekali, pengalaman saya memang susah cari informasi yg dapat di mengerti dan percaya dari dokter manapun. Mungkin dari jadwal kerja mereka. Mungkin karena saya orang WNA dan kadang2 mesti minta di ulangi kosa-kata medis biar paham. Tapi silakan bayangin situasi bapak dari istri saya –orang Madura– yg skrng tidak bisa bicara serta istri dia yg tidak pernah baca. Percuma saya nawar www blog seperti ini gan? Saya tanya sendiri, mana caranya saya ajak saudara2 saya online baca blog seperti. Ada yg belum pakai FB . . . #BINGUNG
Nah, bukan hanya informasi penyakit dan pengobatan yg diperlu sama rakyat. Kita juga perlu informasi ttng dokter, RS, asuransi, dll. Ini sebagai contoh:
Satu minggu lalu waktu diterimah mertua saya di RS Dharmais dan kita senang sekali dngr dr. mengkatakan “WAH KASIAN SEKALI, tidak ke Dharmais dari awal.” Katanya “Ternyata obat kemo RS Citpo itu tidak cocok. Jgn kwatir, pasien ini (mertua saya namanya Pak Fadil, umur 52) pasti bisa bantu. Pasti lidahnya dapat diurus.”
Kemudian, saat saya hadir ke RS ternyata ada tanda besar PAK FADIL: PALIATIF di atas mesin morfinnya. Dan 3 hari kemudian lagi –tadi pagi– disuruh pulang. Saya minta adik ipar tanya kenapa mau dipulangin Pak Fadil. Jawapannya ada dua kayanya:
1) tidak ada pengobatanya dan tidak bisa bantu jadi disuruh pulang
2) jawapan dr satu lagi lagi begini: lagi tunggu obat kemo. Takut kelamaan / bosan di RS selama tunggu.
Ini hanya satu contoh sesulitannya cari informasi kanker yg dapat dimengerti dan percaya. Dari awal di semua RS memang seperti itu. Skrng, saya malas ke RS dan minta izin sama isteri bantu mendukung keluarga dari kantor lewat Internet. Mana bisa bantu? Dgn cara mencari dan membagi informasi kanker. Ini proyek saya:
www.indohospital.wordpress.com.
Get well soon!
Jess Morgan


Cerita Sejenis:
Sudah 3 sahabat yang menanggapi
Menurut saya mencari kesembuhan kanker dengan belajar dari kisah kesembuhan orang lain, apalagi langsung dari orangnya, merupakan cara terbaik.
dear Jess Morgan,
turut berdukacita atas berpulangnya mertua anda, dan mohon maaf post anda baru terjawab sekarang.
karakter orang Indonesia dalam berkomunikasi tidak se-terbuka orang AS. di sini perasaan lawan bicara sangat dijaga, sehingga informasi yang kurang baik tidak disampaikan secara 100% blak-blakan, tetapi diperhalus, sehingga menjadi agak terselubung. tidak mudah menafsirkannya, terlebih bagi orang asing seperti Anda.
mengenai Pak Fadil, kata-kata “pasti bisa dibantu” tidak selalu berarti bisa disembuhkan. tanda besar “Pak Fadil: paliatif” di mesin morfin menunjukkan bahwa tujuan pengobatan Pak Fadil bukan untuk penyembuhan (kuratif), melainkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya saja (paliatif). mungkin saat itu kondisi beliau sudah terlalu lemah, atau kankernya telah menyebar, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan/dijanjikan dokter untuk penyembuhan; yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi penderitaannya. jadi, membantu di sini dalam arti “mengurangi penderitaannya”. karena sangat tidak mungkin dokter di indonesia mengatakan secara terus-terang “mertua anda tidak punya harapan lagi”.
Postingan diatas sangat mirip dengan yg dialami keluarga q, keluarga q tinggal dimagelang, saat ini adek q umur 17 thun menderita kangker tulang, saat pertama kali dibawa ke rumah sakit dijogja, dokter mengatakan ”knpa tdak dibawa kesini dr kmren kemaren” mendengar perkataan tsb keluarga q serasa mendpatkan hrapan bhwa kangker adk q bisa disembuhkan, bru 5 hr dirawat (diperiksa dokter bru 2 hari), rumah skit dan dokter’nya menyarankan untuk dibawa pulang, alasa’nya macem” sperti bpak morgan tadi,
Dan yang paling parah’nya dokter ga ngasih tau hrus dirujuk kemana klo disitu emang tdak bisa menangani…..
Sumpahh Demi tuhan saya muak dengan dokter2 dan rumaah skit diindonesia, apa mereka sudah ga punya rasa kasihan, rasa iba??
Silakan menanggapi:
(Tanggapan anda akan dimoderasi.)