Dear Mbak Titah,
Hari ini saya baru membaca blog mbak “Rumah Kanker” dan rasanya tertarik ingin membagi cerita saya berjuang melawan kanker. Saya Astry, umur saya sekarang hampir 27 tahun. Hampir 2 tahun ini saya mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening dan vonis itu saya terima 2 minggu pasca pernikahan saya.
Awal mulanya, 2 bulan sebelum pernikahan saya mendapati benjolan keras di leher bagian bawah kanan saya. Semula itu tampak seperti benjolan kecil dan ibu saya bilang jangan-jangan itu gondok atau “uci-uci” kalau kata orang jawa. Dan saya putuskan untuk nanti2 saja periksa ke dokter karena saya masih ingin fokus menyiapkan acara pernikahan saya. Namun benjolan itu terus saja dan dalam waktu yang singkat (tidak sampai sebulan) membesar, karena resah akhirnya saya dan keluarga putuskan segera memeriksakan ke dokter. Dari dokter bedah, saya dirujuk ke dokter specialis Onkologi dan saya sudah mulai resah. Dari dokter onkologi saya diminta untuk USG dan hasil USG masih belum menunjukkan apa2 hanya di kelenjar getah bening saya penuh dengan bulatan2 seperti kelereng dengan berbagai bentuk. Tidak puas dengan itu dokter meminta untuk saya melakukan tes ke dokter PA seperti hanya diambil sample darahnya saja dengan jarum (saya lupa apa namanya) dan hasilnya hanya infeksi saja…Lega rasanya mendengar hasil itu.
Tapi dokter merasa tidak puas dan saya diminta kembali untuk biopsi dan saya menyetujui karena semakin cepat diketahui akan lebih baik. Akhirnya 1 bulan sebelum pernikahan, saya dibiopsi dan hasilnya akan diberitahu 2 minggu kemudian, hal ini karena kami di Kalimantan dan PA dilakukan oleh dokter PA di Bandung. Namun saya dan keluarga memutuskan akan fokus dulu untuk mempersiapkan pernikahan yang sudah cukup mepet waktunya. Dan tibalah hari bahagia dan moment terindah dalam hidup saya di bulan Februari 2011.
Setelah 2 minggu pasca menikah, kami sekeluarga datang kembali ke dokter untuk mengambil hasil PA saya di RS dan hasilnya saya divonis menderita penyakit kanker getah bening. Seketika itu hancur lebur perasaan saya seakan dunia runtuh. Hampir 3 minggu saya isi hidup saya dengan kesedihan dan air mata, tapi saya berpikir lagi “Apa dengan meratapi diri seperti saat itu akan membuat saya sembuh?”.
Akhirnya kami memutuskan untuk Secod opinion di RS Surabaya dan hasilnya pun sama juga, sama2 saya harus segera dikemoterapi karena ternyata sel kanker sudah ada juga di leher kiri dan ketiak saya. Di dalam pikiran saya pastinya kemoterapi itu akan sangat menyiksa, menyakitkan dan sebagainya. Tapi kembali lagi dengan semangat saya untuk segera sembuh demi suami dan keluarga. Dokter putuskan agar saya segera dikemoterapi karena lebih cepat akan lebih baik dan saya mengikuti saran dokter.
Saat kemoterapi pertama saya dilakukan selama 2 hari, rasanya deg2an, takut dan campur aduk. Alhamdulillah saya gak muntah dan mual karena semuanya saya lawan dengan makan, saya hanya merasakan efek pasca kemo seperti sariwan, badan pegel2, kuku menghitam, rambut dan bulu2 rontok, juga rasa kulit seperti menebal di bagian ujung2 jari. Tapi saya berjanji dalam hati kalau saya tidak ingin dikalahkan oleh penyakit.
Akhirnya 8 paket kemoterapi saya lewati dan dokter meminta untuk saya datang 1 bulan sekali untuk kontrol. Namun itu hanya berlaku selama 2 bulan, karena sel kanker itu membesar lagi khusunya yang sebelah kanan. Memang itu semua tidak luput dari pikiran dan semangat kita. Ketika itu saya akui karena saya cukup strees karena ingin sekali bisa segera punya anak, terlebih lagi ketika temen2 SMA, kuliah, dan temen kantor banyak yang bertanya, “Sudah isikah?” Karena mereka banyak yang tidak tau tentang apa yang saya alami sekareng, karena saya tidak mau mereka mengasihani saya dan saya tidak mau terlihat seperti orang lemah dan penyakitan. Ternyata stress dan pikiran aneh2 itu yang memicu sel2 itu membesar kembali. Akhirnya dokter memberikan kemoterapi dengan berbagai macam metode kepada saya sampai saat ini dan totalnya sudah hampir 19 kali, Namun benjolan induk itu gak mau hilang juga. Hingga pasca kemo ke-18 itu malah tumbuh bisul-bisul di atas benjolan saya, entah bisul biasa atau bukan dan rasanya ngilu. Dan sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu dokter menyarankan saya untuk dibiopsi ulang di Surabaya dan saya mengikuti seluruh saran dokter demi kesembuhan saya. Tetap semangat dan sabar sambil menunggu hasil PA keluar.
Penyakit yang saya derita ini menjadikan pelajaran berharga saya akan rasa syukur, keikhlasan, kesabaran, ketabahan, cinta dan kasih sayang keluarga khususnya Papa & Mama saya dan terlebih lagi cinta dan kasih sayang yang sangat tulus dari suami tercinta yang selalu setia dan ikhlas mendampingi saya dan rela melakukan apapun demi saya, sampai2 dia pernah berkata “Jika bisa penyakit itu dipindah padaku lebih baik aku saja yg sakit, kerena aku gak tega melihat penderitaanmu”. Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya Allah swt rencanakan untuk tiap makhluknya, hidup dan mati manusia ada di tangan Allah SWT dan saya percaya Insya Allah semuanya akan indah pada waktunya. Dan saya akan terus berusaha berjuang melawan penyakit ini
Doakan saya juga ya mbak Titah dan temen2 yang baca tulisan saya ini, semoga saya bisa segera sembuh dari penyakit kanker ini.
Salam semangat,
Astry

